Djulkarnain Melayani dengan Passion

Djulkarnain Melayani dengan Passion
Jakarta, Obsessionnews.com - Kita harus punya passion dalam melayani tamu karena ketika bekerja di hotel di posisi apapun, baik sebagai house keeping sampai general manager, semua adalah pelayan dari tamu-tamu hotel.” Setidaknya itu yang dikatakan oleh General Manager Grand Mercure Jakarta Harmoni Djulkarnain beberapa waktu lalu. Djul begitu sapaan hangatnya, merupakan pria yang telah berkecimpung di dunia perhotelan sejak  tahun 1993. Kepada Men’s Obsession ia menguntai kecintaannya terhadap dunia perhotelan tumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. “Kala itu, saya diajak oleh anggota keluarga yang bekerja di hotel, di sana sangat menyenangkan sehingga saya bercita-cita untuk bisa bekerja di hotel. Saat berkuliah saya mengambil pendidikan khusus perhotelan di Bandung,” ungkap pria yang selalu tampak ramah ini. Senang akan tantangan baru adalah prinsip hidup Djul yang sudah malang melintang lebih dari 25 tahun di bidangnya, di antaranya mendapatkan peluang emas pertamanya ketika ditawari pekerjaan di sebuah hotel terkemuka di Mekah, Arab Saudi. Sekembalinya ke Tanah Air, ia lalu bergabung dengan keluarga AccorHotels. Selama bekerja sebagai asisten eksekutif manajer di Mercure Slipi, ia menerima beasiswa dari sebuah perguruan tinggi terkemuka di Perancis, École des Arts Culinaires et de lHotellerie de Lyon. Pria berkacamata ini juga sempat bekerja di hotel Mercure Paris di antara masa studinya. Ia juga pernah mengelola beberapa hotel, seperti Novotel Bukit Tinggi, Ibis Malioboro Yogyakarta, dan Novotel Surabaya, sebelum kembali ke Jakarta pada 2014 untuk menjalankan dua brand sekaligus Mercure Jakarta Kota dan Ibis Harmoni. Setelah perjalanan panjang, kurang lebih selama 20 tahun dengan AccorHotels, ia memutuskan untuk memulai petualangan lain dengan Menara Peninsula Hotel dari tahun 2016, sampai akhirnya bergabung di Grand Mercure Jakarta Harmoni di awal tahun 2019. “Apa yang saya raih saat ini adalah apa yang saya cita-citakan,” ujar Djul. Ketatnya persaingan bisnis perhotelan membuat pelanggan atau tamu hotel yang datang menjadi sangat berharga. Pasalnya, setiap tamu hotel yang datang dapat dijadikan sebagai loyal customer. Oleh karena itu, ia mengatakan, timnya harus bisa melayani tamu dengan passion. “Yang saya banggakan, teman-teman di sini sangat fleksibel dalam melayani tamu. Kami juga mengenal tamu secara personal dengan baik. Jadi, mereka tidak hanya dikenal dari nama saja, tapi juga dilayani sesuai dengan kebiasaan masing-masing. Saya beberapa kali menemani tamu, misalnya sewaktu breakfast saat mereka sedang duduk nyaman. Mereka tinggal duduk saja dan langsung disajikan makanan yang memang mereka sukai. Sehingga, kami tidak pernah merasa khawatir bersaing dengan hotel-hotel lain karena kami memiliki keunikan sendiri, mereka mendapatkan suasana seperti di rumah,” urainya seraya tersenyum. Halaman selanjutnya Djul juga mengatakan kelebihan lain yang dimiliki hotel yang berlokasi di pusat jantung Ibu kota Jakarta ini, antara lain walaupun sudah berusia tujuh tahun, semua fasilitasnya terjaga dalam kondisi sangat baik dan bersih. Mulai dari air conditioning, lighting, hingga teknologi yang diusung memang up to date. Menu-menunya juga diselaraskan dengan keinginan dan kebutuhan tamu. “Tamu kami banyak dari pemerintahan, apabila mereka suka masakan rumahan, seperti pecel lele atau ayam penyet, kami sediakan di sini. Inilah yang tidak semua hotel internasional sediakan. Kami juga menyuguhkan menu-menu terbaru dan kekinian. Contohnya, kopi susu ala café yang saat ini sedang hits, kami improve lagi dengan produk yang lebih baik,” jelasnya. Ketika ditanya tantangan dalam membangun dan menjalankan bisnis hotel, ia menjawab, “Membangun hotel ini tidak bisa sembarangan, harus dipelajari dari awal dan diantisipasi apa saja yang dibutuhkan untuk operasional sehari-hari. Contohnya, harus mampu menyediakan energi cadangan apabila pasokan utama dari PLN terganggu. Sementara, jika bicara stok makanan, mesti bisa memenuhi kebutuhan tidak hanya untuk satu hari,” terangnya. Dalam memimpin, kebijakan yang Djul terapkan adalah membangun team player, tidak ada yang namanya pemain bintang. Baginya, semua adalah all star team. “Kesuksesan suatu manajemen bukan tergantung dari kepemimpinannya atau segelintir orang, tetapi didukung oleh kerja sama tim. Saya memiliki filosofi harus membangun bounding yang baik antara satu departemen dengan departemen lainnya. Setiap pagi, saya memulai dengan morning briefing, saya tak henti memberikan energy positif kepada tim agar ready to serve,” bebernya dengan penuh semangat. Di waktu bersamaan, untuk menjaga kebugaran tubuh, Djul juga membuat program olahraga, yakni setiap Jumat pukul enam pagi, jogging bersama di lokasi yang berbeda-beda, seperti di Monas, Gelora Bung Karno, Lapangan Banteng, hingga Taman Impian Jaya Ancol. “Ini bisa menggugah teman-teman untuk melihat olahraga sebagai kebutuhan. Lalu, kami breakfast bersama. Jadi, tidak hanya bicara fisik, tetapi kebersamaan kita juga kuat termasuk saat makan bersama. Setelah itu, kami kembali memakai seragam dan ready bekerja sebagai 'aktor' dan 'aktris' yang bisa memainkan peran masing-masing di bidangnya. Saya selalu mengatakan, kita harus siap lahir batin untuk melayani tamu. Apapun yang terjadi di rumah, begitu memakai seragam, kita siap melayani tamu dengan senyum, energi, dan spirit yang baik,” tegas pria murah senyum ini. Menutup pembicaraan, Djul membagikan tips sukses dalam berkarier di dunia perhotelan kepada generasi muda yang utama adalah harus mempunyai passion untuk melayani tamu. “Karena di posisi manapun kita bekerja, baik sebagai house keeping sampai general manager, kita semua adalah pelayan dari para tamu. Itulah modal dasar dan tentunya harus diiringi dengan inovasi, kreativitas, dan energi yang boleh dikatakan tidak mengenal kata 'lelah' karena dunia hotel itu dunia 24 jam,” tambahnya. (Elly S./Gia) Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi September 2019