Ada Apa di Ruas Jalan Tol Cipularang?

Ada Apa di Ruas Jalan Tol Cipularang?
Jakarta, Obsessionnews.com - Belum juga hilang dari ingatan masyarakat Pulau Jawa soal kecelakaan beruntun di kilometer 90-an, yakni tragedi kecelakaan beruntun di Ruas Tol Cipularang KM 91, Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat,  pada Senin (2/9/2019) yang mengakibatkan puluhan korban luka-luka hingga meninggal dunia. Kini kejadian serupa terjadi di Km 91+500 dan Km 92+200 arah Jakarta di saat bersamaan, Selasa (10/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Untuk korban meninggal tragedi kecelakaan beruntun di Ruas Tol Cipularang KM 91, Sukatani, Kabupaten Purwakarta pada Senin (2/9) sebanyak 9 orang. Sementara itu, kecelakaan di Km 91+500 dan Km 92+200 arah Jakarta di saat bersamaan, Selasa (10/9) belum diketahui apakah ada korban jiwa. Sebenarnya ada apa di ruas jalan tol Cipularang? Untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang terjadinya rentetan kecelakaan di tol Cipularang kilometer 90-an, obsessionnews.com akan mengulas sedikit soal jalan tol tersebut. Jalan tol Cipularang KM 90-an sering disebut angker. Hal itu lantaran banyak terjadi kecelakaan di sekitaran ruas jalan tol tersebut. Tak sedikit masyarakat Indonesia yang menyangkutpautkan kecelakaan di Tol Cipularang dengan hal-hal berbau klenik dan mitos-mitos. Hal yang berbau mistis misalnya. Menurut penduduk setempat, baik sebelum dan sesudah Tol Cipularang dibangun, terdapat petilasan di Gunung Hejo tepatnya berada di KM 96+2 Tol Cipularang. Tepatnya lagi di sebelah kiri arah tol Bandung menuju Jakarta. Petilasan itu berada di kawasan Gunung Hejo dan sering dikunjungi peziarah. Namun karena ada pihak yang ingkar janji untuk membuat jalur yang baik untuk menuju petilasan, maka jatuhlah korban-korban jiwa di KM 90-100. Hal yang berbeda dikatakan oleh Manajer Servis Lalu Lintas Jasa Marga wilayah Purwakarta-Bandung-Cileunyi Aryanto. Dia mengakui keberadaan lajur darurat di sepanjang jalan Tol Cipularang masih minim, kecelakan bukan diakibatkan oleh mitos-mitos yang disebutkan di atas. “Sejak dibangun pada 2005, baru ada satu lajur darurat di Jalan tol Cipularang, di kilometer 17 jalur B," kata Aryanto saat konferensi pers pengungkapan kasus kecelakaan beruntun Tol Cipularang, di Mapolres Purwakarta, Rabu (4/9). Ia menyatakan kalau keberadaan lajur darurat di sepanjang jalan Tol Cipularang yang dibutuhkan lebih dari satu. Karena itu pihaknya sebagai pengelola berencana membangun lintasan darurat di pinggir jalan menurun arah Jakarta. Lintasan darurat itu sendiri berfungsi untuk mengantisipasi kendaraan yang lepas kendali seperti rem blong saat melintasi jalan menurun. Sebagai bentuk antisipasi, Aryanto mengaku pihaknya akan menambah rambu-rambu lalu lintas di lokasi rawan kecelakaan dan memasang spanduk imbauan pengguna jalan tol agar berhati-hati melewati lintasan menurun. Halaman selanjutnyaKondisi Jalan Tol Cipularang Jalur Tol Cipularang sepanjang 58 kilometer ini didesain dengan mengikuti aturan-aturan yang sangat ketat mengenai tata cara membuat jalan tol. Jalan tol ini dirancang aman untuk kecepatan rata-rata 120 km/jam. Banyak yang mengatakan tanjakan di KM 97 sangat curam, padahal tingkat elevasi maksimum jalan tol yang didesain untuk tanjakan atau turunan dengan kecepatan aman 100 km/jam adalah 6 persen. Artinya, kalau jalan harus mendaki bukit setinggi 60 meter, maka panjang jalan menanjak (tanjakan) minimal harus 1.000 meter atau 1 km. Oleh karena itu di pembangunan jalan tol, banyak diterapkan cut (potong) dan fill (urug), dan pemangkasan bukit. Di KM 96 kita melihat turunan jika dari arah Bandung atau tanjakan jika dari arah Cikampek terlihat sangat panjang. Itu karena perbedaan tinggi yang cukup besar, sehingga disiasati dengan membuat turunan atau tanjakan yang sangat panjang mencapai berkilo-kilometer. Yang menjadi masalah di Tol Cipularang ini, jalan pada awal dibukanya menggunakan beton (rigid pavement), bukan aspal (flexible pavement). Bisa jadi dikarenakan pengerjaan waktu yang terburu-buru, jalan tol sepanjang kurang lebih 45 km dari Sadang sampai Padalarang selesai hanya dalam 1 tahun, maka sangat besar kemungkinan cenderung kurang rapi dan menyebabkan permukaan jalan banyak tidak rata atau bergelombang (bumpy). Bahkan banyak jalan yang retak, sehingga pihak pengelola jalan tol kemudian memberikan lapisan aspal baru sebagai penutup. Saat ini jalan Tol Cipularang sudah menggunakan aspal. Tetapi masalah lain timbul, yaitu permukaan aspal yang bergelombang terutama di daerah turunan. Hal ini disebabkan oleh proses pengereman dari kendaraan-kendaraan besar yang membuat tekanan atau dorongan ke depan terhadap permukaan aspal. Kondisi ini sangat terasa di KM 96, yang merupakan area jalan menurun yang sangat panjang dan termasuk area rawan kecelakaan. Kondisi jalan bergelombang ini, apabila dilewati oleh kendaraan dengan ground clearence rendah seperti sedan, mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Lain cerita apabila jenis Jeep, SUV atau kendaraan lain dengan ground clearence tinggi. Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan terjadinya understeer (kehilangan kendali), yaitu akibat turunan yang bergelombang, ban kehilangan gigitan sama sekali sehingga kita tidak dapat lagi mengendalikan setir. Dan yang terjadi adalah seperti kebanyakan penyebab kecelakaan di sini, mobil terbanting ke kanan menghantam beton pemisah jalan dan kemudian terbalik. Kalau dibayangkan, saat mobil menuruni jalan dengan kecepatan cukup tinggi (80 km/jam) dan melewati jalan bergelombang, maka ban akan terangkat cukup tinggi dan keseimbangan mobil hilang, sehingga walaupun setir tetap lurus, mobil limbung dan kemudian terlempar ke kanan ke arah tembok pemisah jalan. Kondisi ini menjadi sangat fatal, karena di area KM 96 beton pemisah sangat tinggi. Jadi, secara ilmiah kecelakaan di jalan Tol Cipularang khususnya di KM 90-100 dapat dijelaskan secara masuk akal dan sama sekali tidak berhubungan dengan mitos dan cerita klenik lainnya. Namun, entah dipengaruhi mitos atau situasi yang logis, Wallahu A’lam. Ada baiknya jika selalu waspada dalam berkendara. Tak hanya di jalan Tol Cipularang, tapi juga di semua tempat lainnya. (Poy)