Mengenal WS Supratman, Pencipta Lagu Indonesia Raya yang Meninggal pada 17 Agustus

Jakarta, Obsessionnews.com - Mendengar lagu "Indonesia Raya" pasti tidak bisa lepas dari sosok penciptanya, yakni Wage Rudolf (WR) Supratman. Lagu ini maknanya begitu menyentuh bagi semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karena itu lagu wajib ini selalu dinyanyikan dalam forum-forum resmi. Terlebih pada peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus. Mungkin belum banyak yang tahu, siapa sangka, tepat pada hari itu pula pencipta lagu WR Supratman, tutup usia. WR Supratman lahir pada tanggal 9 Maret 1903 di Jatinegara, Jakarta dan meninggal pada 17 Agustus 1938. WR Supratman adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama Jumeno Kartodikromo (tentara KNIL Belanda) dan ibunya, Siti Senen. Sedangkan Roekijem adalah kakak sulung yang membawanya ke Jakarta. Tahun kelahiran dari WR Supratman sebenarnya masih menjadi perdebatan tersendiri bagi para penggiat sejarah. Sebab sebagian mempercayai kelahiran WR Supratman adalah 19 Maret 1903 di Desa Somongari Purwokerto. Namun yang pasti, WR Supratman meninggal 17 Agustus 1938 dan makamnya berada di Taman Makam Pahlawan Khusus, Jalan Kenjeran, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Di Surabaya, selain makam WR Supratman, juga terdapat rumahnya yang sampai hari ini masih berdiri kokoh. Di rumah Jalan Mangga Nomor 21, Kelurahan Tambaksari, adalah rumah tempat WR Supratman sekaligus tempat menghembuskan nafas terakhirnya. Keberadaan WR Supratman tidak bisa dilepaskan dari lagu "Indonesia Raya". Pasalnya lagu kebangsaan "Indonesia Raya" tersebut diciptakan WR Supratman dan diperdengarkan pertama kali pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928. Saat itu, beliau memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental dengan biola di depan peserta kongres. Media yang pertama kali mempublikasikan syair Indonesia Raya adalah Sin Po. Menurut Asvi Warman Adam, dalam buku yang ditulis Ang Yan Goan, syair "Indonesia Raya" disebut dimuat pada 1930-an. Namun, dalam arsip yang diperlihatkan Djoko Utomo sewaktu menjabat Kepala Arsip Nasional RI, syair lagu kebangsaan itu dipublikasikan Sin Po pada terbitan 27 Oktober 1928. Dengan demikian, ada kemungkinan "Indonesia Raya" sudah "dibocorkan" di Sin Po, sebelum diperdengarkan secara instrumentalia pada saat pengikraran Sumpah Pemuda. Selain itu, tak banyak yang tahu bahwa lagu kebangsaan "Indonesia Raya" yang selama ini dinyanyikan belum lengkap alias hanya satu bait saja. Sang pencipta lagu, Wage Rudolf Supratman, sebenarnya menulis "Indonesia Raya" dalam tiga bait (stanza). Dari ketiga stanza itu, tidak dapat dipungkiri bahwa stanza yang pertama jauh lebih populer dan dihafal penduduk Indonesia jika dibandingkan dengan stanza kedua dan ketiga. Stanza pertama menjelaskan tentang kebangkitan bangsa Indonesia, stanza yang kedua menjelaskan tentang kedaulatan bangsa, dan stanza yang terakhir menjelaskan tentang kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. (Albar)





























