Kenapa Harus Puasa Dulu Sebelum Operasi?

Jakarta, Obsessionnews.com - Bagi orang yang ingin menjalani operasi, biasanya dokter menyuruh agar pasien puasa lebih dulu, minimal 8 jam maksimal 12 jam. Namun, ternyata tak banyak pasien yang tahu dengan jelas alasan tersebut. Padahal dokter punya alasan kuat untuk setiap saran yang mereka berikan. Puasa makan sebelum operasi umum dianjurkan oleh dokter, terutama pada operasi besar yang melibatkan pasien berada di bawah pengaruh anestesi umum atau obat bius. Anestesi umum membuat pasien tidak sadarkan diri sehingga pasien tidak dapat merasakan apapun ketika dilakukan tindakan. Di situlah pentingnya puasa. Jika perut perut terisi makanan selama operasi, pasien bisa muntah sementara di bawah pengaruh obat bius. Hal ini karena ketika pasien berada di bawah anestesi, refleks tubuh dihentikan untuk sementara. Muntah setelah operasi sangat menyakitkan karena akan menimbulkan rasa nyeri. Selain itu, puasa sebelum operasi diperlukan untuk mencegah pneumonia aspirasi, infeksi paru-paru yang diakibatkan oleh terhirupnya sesuatu (makanan, cairan, atau muntah) ke dalam saluran pernapasan. Dalam mekenaisme normal, sebenarnya partikel kecil yang masuk ke saluran napas akan dikeluarkan oleh tubuh. Tetapi, pada orang yang lemah, keracunan, atau dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat bius, kondisi ini bisa menutup saluran napas dan menyebabkan paru terinfeksi. Anjuran untuk puasa sudah puluhan tahun dijalankan oleh dokter. Namun ada yang mengatakan itu berlebihan. Meskipun ada potensi bahwa pasien mungkin muntah dan menghirup isi perut mereka, praktik pantang makan sebelum operasi ini dipercaya ke depan tidak akan lagi efektif. Dilansir dari Medical Daily, sekitar 50 persen dari ahli anestesi mengatakan pantang makan setelah tengah malam untuk operasi elektif tidak lagi dibutuhkan. Peneliti juga menemukan muntah selama operasi adalah efek samping yang cukup langka. Selanjutnya, teknik anestesi modern telah membuat risiko aspirasi paru sangat kecil kemungkinannya. Dan ketika aspirasi benar terjadi, itu hampir tidak pernah menyebabkan komplikasi jangka panjang ataupun kematian. Terlebih lagi, penelitian telah menunjukkan bahwa proses pengosongan perut kosong berjalan lebih cepat daripada yang diyakini sebelumnya, sehingga periode puasa panjang tidak begitu memberikan perbedaan yang berarti dalam mencegah aspirasi paru. (Albar)





























