Lagi, Serangan Teroris Islamphobia Bunuh 134 Muslim

Menyedihkan! Teroris non muslim melakukan serangan di sebuah desa di Mali, yang menewaskan lebih 134 muslim korban tak terdosa termasuk perempuan dan anak-anak. Tragedi Islamphobia ini menyusul serangan terhadap jemaah muslim (50 tewas) di dua masjid Selandia Baru yang dilakukan oleh teroris Kristen kulit putih Australia. Sebelumnya, ekstrimis Budha melakukan pembunuhan dan genosida terhadap muslim Rohinya di Myanmar. Seperti dilansir ParsToday, Minggu (24/3/2019), Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengutuk keras serangan etnis ke sebuah desa di Mali tengah dan pembantaian puluhan penghuninya. Sputnik melaporkan, Jubir sekjen PBB Fahan Haq di statemennya menyatakna, Guterres terkejut dan marah setelah menerima laporan korban puluhan korban tewas dan terluka termasuk perempuan dan anak-anak dalam serangan ke sebuah desa di Mali. Kelompok bersenjata hari Sabtu (23/3), menyerang Desa Ogossagou di dekat kota Bankass, Mali Tengah dan membantai sedikitnya 134 warga sipil termasuk sejumlah perempuan dan anak-anak. Selama serangan brutal tersebut, 55 orang lainnya dilaporkan menderita luka-luka. Pelaku serangan ini adalah milisi bersenjata yang berafiliasi dengan etnis Dogon. Berbagai laporan menunjukkan Desa Ogossagou sepenuhnya musnah dan korban adalah peternak dari etnis Fulani. Berbagai media menyebut serangan ini sebagai insiden paling berdarah di Mali dalam beberapa tahun terakhir. Sekjen PBB meminta petinggi Mali secepatnya memulai penyidikan terkait insiden ini dan meningkatkan penjagaan keamanan untuk menerapkan stabilitas di Mali tengah. Serangan ini terjadi bersamaan dengan kunjungan delegasi Dewan Keamanan PBB ke Mali untuk menemukan solusi mengakhiri kekerasan etnis di negara ini.
Islamphobia Perkembangan terkini di kancah internasional, terutama kemunculan kelompok-kelompok ekstremis dan penyebaran aksi terorisme mereka di negara-negara Barat, memberikan alasan bagi media dan pemerintah negara-negara ini untuk menyebarkan Islamphobia. Di sisi lain, krisis pencari suaka, yang juga muncul dari tindakan Barat untuk mendukung kelompok-kelompok teroris yang mereka bentuk, telah memperburuk kegiatan partai-partai sayap kanan ekstremis dan kelompok-kelompok kekerasan rasis di Barat dan mendorong lebih banyak tekanan terhadap Muslim dan propaganda anti-Islam. Dengan penyebaran Islamphobia dan penyebaran kebencian terhadap Muslim, kita melihat peningkatan kekerasan dan serangan teroris terhadap Muslim dan yang terbaru di Selandia Baru, salah satu negara Barat yang paling damai. Sedikitnya 52 orang tewas dan belasan lainnya terluka akibat serangan tersebut di dua masjid di kota Christcurch, dimana penyerang itu menyiarkan langsung aksinya di laman facebooknya. Pelaku utama serangan teroris ini adalah Brenton Trent dari Australia, yang berusia 28 tahun, yang telah berulang kali mengungkapkan kemarahannya di halaman-halaman medsosnya tentang kehadiran imigran Muslim di negara-negara Eropa dan Barat. Gambar yang dirilis di media menunjukkan bahwa ia telah menuliskan nama para penyerang bersenjata yang dalam beberapa tahun terakhir ini menembaki para imigran dan Muslim di negara-negara seperti Swedia dan Kanada. Ini telah mendorong reaksi Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Guterres Jumat sore (22/3), pergi ke Islamic Center di New York, sepekan setelah serangan teroris Selandia Baru dan bertemu dengan para jamaah di sana. Sekjen PBB mengatakan, "Di dunia di sekitar kita, kita telah menyaksikan pertumbuhan kebencian terhadap Muslim dan pernyataan kebencian serta fanatik. Kami selalu memperingatkan tentang bahaya ini." [caption id="attachment_277585" align="alignnone" width="640"]
Muslim di Mali. (BBC)[/caption] Pada saat yang sama, Guterres mengkonfirmasi peran media sangat berpengaruh dalam hal ini. Guterres menyinggung perkembangan beberapa perilaku, simbol atau kata-kata seperti Neonazi seraya menekankan, "Kanker ini tengah menyebar dan merupakan tugas kita untuk menemukan cara untuk menyembuhkannya." Guterres dengan bersandarkan pada sebuah studi oleh University of Georgia, menyebutkan liputan media terkait serangan yang mengklaim umat Islam terlibat di dalamnya 537% lebih tinggi daripada yang lain. Sekjen PBB mengatakan, "Kita perlu, berapapun harganya, untuk mencegah diskriminasi semacam itu." Sekjen PBB menekankan bahwa kita harus mengambil tindakan terhadap semua bentuk kekerasan, baik kekerasan terhadap masjid, sinagog, gereja, atau di tempat lain. Orang di mana saja harus dibiarkan pada akhirnya memiliki kedamaian dalam praktik keagamaan mereka. Sikap Antonio Guterres, Sekjen PBB sepenuhnya bertentangan dengan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang kontroversial tentang Islam dan Muslim, yang selama masa jabatannya, telah menyebarkan rasisme dan ekstremisme sayap kanan, khususnya Islamphobia dan telah secara efektif mempromosikan kekerasan terhadap Muslim. Daniel Benjamin, pakar politik Amerika Serikat mengatakan, "Trump bukannya berusaha untuk membantu melawan terorisme, justru berkontribusi untuk memperluas aktivitas terorisme." Pendekatan dan tindakan Islamphobia Trump telah meningkatkan kekhawatiran tentang Islamiphobia kekerasan terhadap Muslim di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Trump dan beberapa pejabat Barat telah berulang kali mencoba untuk menghubungkan Islam dan terorisme satu sama lain, sehingga menciptakan sikap negatif terhadap Muslim, terutama Muslim yang tinggal di Barat. (Red)
Islamphobia Perkembangan terkini di kancah internasional, terutama kemunculan kelompok-kelompok ekstremis dan penyebaran aksi terorisme mereka di negara-negara Barat, memberikan alasan bagi media dan pemerintah negara-negara ini untuk menyebarkan Islamphobia. Di sisi lain, krisis pencari suaka, yang juga muncul dari tindakan Barat untuk mendukung kelompok-kelompok teroris yang mereka bentuk, telah memperburuk kegiatan partai-partai sayap kanan ekstremis dan kelompok-kelompok kekerasan rasis di Barat dan mendorong lebih banyak tekanan terhadap Muslim dan propaganda anti-Islam. Dengan penyebaran Islamphobia dan penyebaran kebencian terhadap Muslim, kita melihat peningkatan kekerasan dan serangan teroris terhadap Muslim dan yang terbaru di Selandia Baru, salah satu negara Barat yang paling damai. Sedikitnya 52 orang tewas dan belasan lainnya terluka akibat serangan tersebut di dua masjid di kota Christcurch, dimana penyerang itu menyiarkan langsung aksinya di laman facebooknya. Pelaku utama serangan teroris ini adalah Brenton Trent dari Australia, yang berusia 28 tahun, yang telah berulang kali mengungkapkan kemarahannya di halaman-halaman medsosnya tentang kehadiran imigran Muslim di negara-negara Eropa dan Barat. Gambar yang dirilis di media menunjukkan bahwa ia telah menuliskan nama para penyerang bersenjata yang dalam beberapa tahun terakhir ini menembaki para imigran dan Muslim di negara-negara seperti Swedia dan Kanada. Ini telah mendorong reaksi Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Guterres Jumat sore (22/3), pergi ke Islamic Center di New York, sepekan setelah serangan teroris Selandia Baru dan bertemu dengan para jamaah di sana. Sekjen PBB mengatakan, "Di dunia di sekitar kita, kita telah menyaksikan pertumbuhan kebencian terhadap Muslim dan pernyataan kebencian serta fanatik. Kami selalu memperingatkan tentang bahaya ini." [caption id="attachment_277585" align="alignnone" width="640"]
Muslim di Mali. (BBC)[/caption] Pada saat yang sama, Guterres mengkonfirmasi peran media sangat berpengaruh dalam hal ini. Guterres menyinggung perkembangan beberapa perilaku, simbol atau kata-kata seperti Neonazi seraya menekankan, "Kanker ini tengah menyebar dan merupakan tugas kita untuk menemukan cara untuk menyembuhkannya." Guterres dengan bersandarkan pada sebuah studi oleh University of Georgia, menyebutkan liputan media terkait serangan yang mengklaim umat Islam terlibat di dalamnya 537% lebih tinggi daripada yang lain. Sekjen PBB mengatakan, "Kita perlu, berapapun harganya, untuk mencegah diskriminasi semacam itu." Sekjen PBB menekankan bahwa kita harus mengambil tindakan terhadap semua bentuk kekerasan, baik kekerasan terhadap masjid, sinagog, gereja, atau di tempat lain. Orang di mana saja harus dibiarkan pada akhirnya memiliki kedamaian dalam praktik keagamaan mereka. Sikap Antonio Guterres, Sekjen PBB sepenuhnya bertentangan dengan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang kontroversial tentang Islam dan Muslim, yang selama masa jabatannya, telah menyebarkan rasisme dan ekstremisme sayap kanan, khususnya Islamphobia dan telah secara efektif mempromosikan kekerasan terhadap Muslim. Daniel Benjamin, pakar politik Amerika Serikat mengatakan, "Trump bukannya berusaha untuk membantu melawan terorisme, justru berkontribusi untuk memperluas aktivitas terorisme." Pendekatan dan tindakan Islamphobia Trump telah meningkatkan kekhawatiran tentang Islamiphobia kekerasan terhadap Muslim di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Trump dan beberapa pejabat Barat telah berulang kali mencoba untuk menghubungkan Islam dan terorisme satu sama lain, sehingga menciptakan sikap negatif terhadap Muslim, terutama Muslim yang tinggal di Barat. (Red) 




























