Peraih Women’s Obsession Awards 2019 Kategori Best Regional Leaders

Peraih Women’s Obsession Awards 2019 Kategori Best Regional Leaders
Iti Octavia Jayabaya, Bupati Lebak
Dia berhasil mengangkat Lebak dari ketertinggalan.  Setelah 26 tahun akhirnya Kabupaten Lebak, Banten,  kembali mendapatkan penghargaan Adipura berkat kerja keras sang bupati dan dukungan masyarakatnya.
Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya merupakan sosok pemimpin berkarakter inovatif dalam meningkatkan kualitas pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Saat belum genap dua tahun menjabat, dia berhasil mengentaskan 14 desa tertinggal pada 2014. Prestasi tersebut menjadi tonggak sejarah bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan masyarakat Lebak. Sebab, sejak Indonesia merdeka, Kabupaten Lebak baru kali ini berhasil keluar dari ketertinggalan. Dia juga memanfaatkan Dana Desa dan APBD untuk diintegrasikan dengan program Lebak Sehat dan Lebak Pintar. Diharapkan masyarakat yang berjumlah 1,4 juta jiwa itu bisa hidup layak dan lebih sejahtera. Pada 2017 dia menerima penghargaan Innovative Government Award dari Mendagri atas beberapa inovasi, di antaranya dalam tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik. Di tahun yang sama, dia meraih Nominasi Best Women Influential of the Year 2017 dalam acara Women Icons Summit and Awards dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA). Lulusan S2 Fakultas Ekonomi Pascasarjana Usakti Jakarta tersebut gencar membangun taman di sejumlah tempat. Iti dipercaya warga kembali menjadi Bupati Lebak untuk periode masa jabatan 2019-2024. Dilantik untuk periode kedua pada 15 Januari lalu di Pendopo Gubernur Banten. Visinya kali ini adalah mendorong daerahnya menjadi destinasi nasional. Dengan memanfaatkan potensi wisata yang ada di kabupaten Lebak, dia berharap semoga semua usaha dan ikhtiar yang dilakukan menjadi jalan meningkatkan kunjungan wisatawan ke destinasi-destinasi pariwisata Lebak. Dia berkata, “Selain upaya mempromosikan, tentunya kami juga terus melakukan pembenahan dalam ketersediaan infrastruktur dan sarana prasarana. Seperti kawasan mandiri Maja, pembangunan jalan tol, jalan ini akan jadi akses wisata lokal maupun mancanegara.” (Angie)Puput Tantriana Sari, Bupati Probolinggo Saat dilantik pada Februari 2013, Puput Tantriana Sari adalah bupati perempuan termuda, masih berusia 30 tahun kala itu. Namun, dia berhasil membuktikan kecakapannya. Berkarier sebagai bupati perempuan di Indonesia, dia paham betul bahwa kaum Hawa juga punya kesempatan dan kemampuan yang sama dengan laki-laki. Kapabilitasnya memimpin kabupaten Probolinggo membuatnya kembali terpilih untuk periode kedua dengan masa jabatan 2018-2023. Salah satu yang menjadi prioritas programnya kini adalah pemaksimalan dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Selama menjabat, wanita yang akrab disapa Tantri ini tak sedikit mengukir prestasi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo berhasil meraih predikat nilai ‘BB’ atau sangat baik untuk Akuntabilitas Kinerja Tahun 2017 dari pemerintah pusat, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN dan RB). Selain itu, dia juga dianugerahi beberapa penghargaan. Antara lain Satya Lencana Karya Bakti Praja Nugraha 2015 atas pencapaian bidang pemerintahan untuk kinerja sangat tinggi, Satya Lencana Wira Karya 2018 atas pencapaian di bidang kelautan, Satya Lencana Dwija Praja 2017 atas keberhasilan di sektor pendidikan, dan Satya Lencana Pembangunan atas kesuksesan di bidang SDM. Untuk pertama kalinya, di bawah kepemimpinan Tantri, Kabupaten Probolinggo mendapatkan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) 2016 di bidang pembangunan dan komitmen kesetaraan dan keadilan gender. Kemudian di tahun 2018 juga meraih penghargaan serupa. Penghargaan APE ini sebagai apresiasi untuk semakin memotivasi Pemda dalam melaksanakan berbagai inisiatif untuk mewujudkan suksesnya proses pembangunan yang adil. Prestasi ini merupakan apresiasi atas komitmen Pemkab Probolinggo yang tercantum dalam Visi Misi Bupati dan Wakil Bupati. Agar dapat memenuhi target kerja, Tantri harus konsisten dalam memegang nilai-nilai yang digenggamnya selama ini, salah satunya nilai kebermanfaatan terhadap sesama. “Saya pikir tidak hanya politisi, tetapi seluruh amanah apa pun harus didasari pada niatan untuk memberi manfaat dan menebar kebaikan untuk sesama. Jika hal itu betul-betul menjadi pegangan dan diterjemahkan dalam pelaksanaan amanah, tentu akan memberi hasil yang mendekati sempurna,” tuturnya. (Angie)Ratu Tatu Chasanah, Bupati Serang Wanita kelahiran Serang, Banten tanggal 23 Juli 1967 ini merupakan mantan wakil bupati Serang periode sebelumnya. Dia kemudian maju dan memenangkan Pilkada Serang tahun 2015. Dengan hasil perolehan suara sebanyak 60,54% persen, Ratu Tatu Chasanah memenangkan posisi untuk memimpin Kabupaten Serang sekali lagi, namun kali ini sebagai Bupati Serang bersama wakil Pandji Tirtayasa. Pasangan tersebut memperoleh suara sebanyak 319.696 dari  565.005 pemilih yang menggunakan hak suaranya. Kepemimpinan sang bupati dalam pelayanan publik bidang perlindungan perempuan dan anak secara keseluruhan terlaksana dengan baik. Terindikasi dari keberhasilannya mendapatkan penghargaan Manggala Karya Kencana tidak lepas dari kesuksesan dalam program keluarga berencana (KB). Penghargaan ini diharapkannya dapat meningkatkan motivasi Pemkab Serang untuk membangun kualitas masyarakat yang dimulai dari keluarga yang baik. Kemudian, dinilai sukses menjalankan UU tentang Ketenagakerjaan, bupati Tatu juga dianugerahi penghargaan Paritrana Award. Fokus program Pemkab Serang pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dinilai sebagai bentuk empowering people, menjadikan manusia sebagai subjek pembangunan. Menurut Tatu,masyarakat adalah subjek pembangunan, bukan objek. Oleh karena itu, fokus program peningkatan IPM tentu bisa menyelesaikan masalah pembangunan daerah. Program andalannya terkait berbagai aspek pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi masyarakat. Di bidang pendidikan, Pemkab Serang memberikan beasiswa kepada siswa SD, hingga perguruan tinggi dan berbagai insentif kepada tenaga pendidik maupun kependidikan. Pada bidang kesehatan, telah diberikan jaminan kesehatan untuk kader posyandu, peningkatan kuantitas tenaga kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan, hingga program jampersal dan rumah tunggu kelahiran. Sedangkan di bidang ekonomi atau daya beli masyarakat, Tatu mendorong melalui pengembangan UMKM, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan pariwisata. Ada pula rencana pembangunan Islamic Centre yang telah masuk pada tahap penyusunan detail engineering design (DED). (Angie)Umi Azizah, Bupati Tegal Setelah menjabat sebagai wakil ketua Bupati periode 2014-2019, per November tahun lalu Umi Azizah resmi diangkat sebagai Bupati Tegal. Dia dilantik sebagai bupati untuk periode 2019-2024 bersama dengan Sabilillah Ardie sebagai wakil. Selama menjadi wakil bupati, Umi dikenal aktif mengawal berbagai program sosial kemasyarakatan seperti penanggulangan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, kebencanaan, serta pengarusutamaan gender dan perlindungan anak. Di akhir tahun 2018, Umi menerima penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) 2018 tingkat Madya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Penghargaan ini diberikan atas kontribusi nyata Pemkab Tegal terhadap penerapan dan pelaksanaan pengarusutamaan gender (PUG), pemberdayaan perempuan (PP), perlindungan anak (PA), dan upaya pemenuhan hak anak.Tidak hanya itu Tegal juga meraih penghargaan sebagai kabupaten yang peduli dengan Hak Asasi Manusia (HAM) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI untuk keempat kali. Untuk pertama kalinya, Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Pemkab Tegal Tahun 2018 juga berhasil meraih nilai B dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB). SAKIP sendiri lebih menitikberatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran yang mampu merumuskan tujuan maupun sasaran secara jelas. Selain itu, sistem ini juga diharapkan mampu menghadirkan layanan publik berkualitas juga memuaskan dengan ditunjang akuntabilitas kinerjanya yang semakin meningkat. Di awal masa jabatannya, Umi melaksanakan reformasi birokrasi. Baginya hal ini sangat diperlukan untuk mewujudkan pemerintahan bersih, terbuka, akuntabel, dan efektif dalam melayani masyarakat agar tercipta pelayanan publik yang memuaskan dan dapat dipercaya. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) juga dinilai sangat membantu dalam membangun sistem pengendalian pengelolaan keuangan yang efektif. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasannya.Selain meningkatkan kualitas sistem internal, Tegal juga berhasil mencatatkan penurunan tingkat penderita demam berdarah yang terus berkurang selama tiga tahun terakhir. (Indah)Untuk selengkapnya dapat dibaca di majalah cetak maupun digital Women’s Obsession edisi Maret 2019.