Kisah Jenderal Fonseka: Dari Pahlawan Hingga Jadi Tahanan Politik

Kisah Jenderal Fonseka: Dari Pahlawan Hingga Jadi Tahanan Politik
Jakarta, Obsessionnews.com - Berangkat dari pemikiran Charles Tilly (1929-2008), seorang ilmuwan politik yang populer melalui karyanya From Mobilization to Revolution, mengatakan “perang menciptakan negara”. Pernyataan perang menciptakan negara pada gilirannya membawa implikasi lanjutan, bahwa penciptaan negara kerap kali dilalui dengan perang. Fenomena ini dijalani oleh Pembebasan Macan Tamil Eelam (Liberation Tigers of Tamil Eelam/LTTE), yang berperang untuk menciptakan negaranya. Namun, keinginan itu tidak kesampaian, lantaran dihentikan oleh Jenderal Sarath Fonseka (2006-2009) Panglima Angkatan Darat Sri Lanka di tahun 2009 lalu. Reputasi Jenderal Fonseka, mantan Panglima Angkatan Darat Sri Srilanka, setara dengan Jenderal Ahmat Yani, mantan Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad/1962-1965) di era pemerintahan Presiden Soekarno (1945-1965), di mana Yani sukses menghancurkan gerakan separatis Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat pada tahun 1958, yang memberontak terhadap Pemerintah Republik Indonesia. Sama dengan Jenderal Fonseka sukses menghancurkan gerakan separatis Macan Tamil Eelam, yang memberontak selama 25 tahun terhadap Pemerintah Sri Lanka. Fonseka lahir pada 18 Desember 1950 di kota pesisir Ambalangoda di Selatan Sri Lanka. Ayahnya adalah Peter Fonseka, seorang kepala sekolah dan ibunya Piyawathie Fonseka adalah seorang guru. Dia menempuh pendidikan dasar di Madawalalanda Maha Vidyalaya (1955–1957) di Ampara, melanjutkan pendidikan menengahnya dari Dharmasoka College, Ambalangoda (1958–1965) dan Ananda College, Colombo (1966–1969). Ketertarikannya pada kadet menginspirasinya untuk bergabung dengan Angkatan Darat. Sehingga Fonseka pun bergabung dengan Angkatan Darat Srilanka pada 5 Februari 1970 dan selanjutnya mengikuti pelatihan dasar perwira di Pusat Pelatihan Angkatan Darat di Diyatalawa. Fonseka lantas meniti karier di Batalyon 1, Resimen Ceylon Sinha pada 1 Juni 1970, dengan pangkat letnan dua. Perlahan-lahan karirnya mulai menanjak, puncak karirnya saat Pemerintah Sri Lanka mempercayakan dia menjadi Panglima Angkatan Darat Srilanka, untuk menumpas pemberontakan Macan Tamil Eelam di tahun 2009. Namun jauh sebelum itu, Fonseka sudah memiliki pengalaman menghadapi gerakan separatis ini, tatkala dia masih berpangkat perwirah menengah, dia kerap bertempur melawan Macan Tamil Eelam, sejak Perang Eelam 1 sampai dengan 3.  Penugasan yang diberikan kepadanya selama berkarier militer sangat beragam, dan dia juga terlibat dalam sejumlah operasi Balawegaya dan Jayasikuru, untuk merebut jalur lalu lintas penting menuju wilayah utara Sri Lanka, yang diduduki Macan Tamil Eelam. Batalion yang dipimpinnya, Batalion 6 Resimen Singha, pernah terkepung di Elephant Pass pada 1991, tetapi bisa mengatasi serangan Macan Tamil Eelam, setelah bertahan beberapa jam, dan akhirnya mendapat bantuan penyerangan dari darat maupun udara.  Fonseka pernah terluka pada 1993 saat terlibat dalam operasi Yaldewee, tetapi luka itu tak memengaruhinya. Ketika itu dia berpangkat kolonel dan memimpin Brigade 23 AD Sri Lanka di Polonnaruwa. Saat Benteng Jaffna dikepung Macan Tamil Eelam dalam waktu cukup lama, Kolonel Fonseka kemudian memimpin pasukannya dalam operasi Midnight Express, untuk menyelamatkan tentara yang terkepung di benteng itu. Saat itu, Gotabaya Rajapaksa yang berpangkal letkol ikut bersamanya dalam operasi itu. Hasil operasi itu menggembirakan, ratusan prajurit diselamatkan. Sebagai jenderal lapangan (field general), Fonseka nyaris kehilangan nyawa pada Perang Eelam 3. Peristiwa itu terjadi pada 25 April 2006, seorang ibu hamil Anoja Kugenthirarasah dari Macan Tamil Eelam melakukan bom bunuh diri, dengan menerobos masuk ke klinik bersalin reguler, yang disediakan untuk warga sipil di rumah sakit militer. Bom itu pun meledak dan mengena Fonseka, dia terluka para. Fonseka pun dilarikan ke Rumah Sakit Umum Colombo, dan baru pada 30 April dia sadar. Dia kemudian dipindahkan ke rumah sakit militer di Markas Besar Angkatan Darat, dan selanjutnya diterbangkan ke Singapura untuk perawatan medis. Meskipun Fonseka nyaris tewas, tapi tak menyurutkan langkahnya untuk melibas separatis Macan Tamil Eelam. Dia kembali terlibat dalam Perang Eelam 4, dimana dia menyusun strategi militer untuk memenangkan pertempuran. Metode konvensional ditinggalkannya, sesuai dengan taktik dan strategi Macan Tamil Eelam yang cerdik. Sepenuhnya dia memanfaatkan kekuatan numerik yang unggul, dengan disupport kekuatan tembakan dari Angkatan Bersenjata Sri Lanka. Sehingga mampu menekan musuh. Hal ini diikuti dengan sinergitas pengerahan penuh kekuatan angkatan laut, angkatan darat, dan udara dalam rangka melibas Macan Tamil Eelam. Fonseka membina pasukannya dengan profesional, dan memberi motivasi bagi mereka. Selanjutnya memecah pasukan menjadi kelompok-kelompok kecil, untuk menyusup ke wilayah-wilayah yang dikuasai Macan Tamil Eelam. Hal ini diikuti dengan melacak kader-kader pejuang Macan Tamil Eelam dan melenyapkan mereka. Dia mengubah tentara Sri Lanka dari sikap defensif menjadi opensif. Untuk finalisasi penghancuran Macan Tamil Eelam, dia pun merumuskan rencana yang akan mengakhiri perang dalam jangka waktu tiga tahun. Fonseka mengadopsi ahli strategi militer Cina terkenal Sun Tzu (545-470 SM), dengan menyerang daerah terkuat Macan Tamil Eelam. Upaya itu membuahkan hasil, dimana pada 18 Mei 2009, militer Sri Lanka akhirnya mengalahkan Macan Tamil Eelam, setelah perang selama 26 tahun. Velupillai Prabhakaran (1954-2009) pendiri dan pimpinan Macan Tamil Eelam pun tewas ketika mencoba melarikan diri dengan sebuah mobil ambulans. Sehingga Macan Tamil Eelam benar-benar lenyap. Fonseka memainkan peran kunci sebagai Komandan Angkatan Darat. Dia dianggap sebagai pahlawan oleh mayoritas rakyat Sri Lanka, karena pencapaian itu. Namun apresiasi itu tidak bertahan lama. Pasalnya dinamika politik, yang terjadi sehingga kepahlawanan Fonseka mengalami kemorosotan. Pada tahun 2010 Fonseka mengalami kejatuhan dramatis. Rivalitas dalam pencalonannya sebagai calon Presiden Sri Lanka, bersama calon Presiden Sri Lanka incumbent Mahinda Rajapakse (2005-2015) pada Pemilu Sri Lanka di tahun 2010 lalu memanas. Dia lantas ditahan, dengan tuduhan melakukan korupsi pembelian senjata. Sehingga dia menjalani hukuman penjara 30 bulan, dan baru dibebaskan pada tahun 2012 lalu. Tentu suatu dinamika dramatis politik, yang menimpa Fonseka dari pahlawan menjadi tahanan politik. (Has)