Warganet Puji Iriana Lewat Tagar #IbuNegaraAsyik

Jakarta, Obsessionnews.com – Ibu Negara Iriana mendapat pujian dari warganet melalui tagar #IbuNegaraAsyik yang menjadi trending topic di media sosial Twitter pada Rabu (30/1/2019) hingga pukul 06.00 WIB. Warganet menyebut Iriana berperanan besar atas keberhasilan karier Joko Widodo (Jokowi) hingga menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Berikut ini kicauan beberapa warganet: Paula Oetomo @paula_oetomo:Bahagianya pak @jokowi memiliki keluarga yang saling melengkapi. Karna keluarga selalu menjadi nomor SATU . #IbuNegaraAsyik#01JokowiLagiAnisa Deasty Malela @Desty007: Indonesia maju di pimpin pak @jokowi dan istri yg mendukungnya. A C I @Acilestari_ : Alhamdulillah punya #IbuNegaraAsyik yang cantik, sederhana, dan selalu tulus menemani perjalan pak @jokowicincauho @ikan_asin01 :Dibalik keberhasilan @jokowi pasti ada sosok istri yg berperan hebat dlm mengatur, melengkapi, dan mendampingi setiap langkhnya. Bukan hal mudah menjadi istri seorang presiden, yg sudah tentu hujan badai pasti akan menerpanya.(our country mother is a great woman) #IbuNegaraAsyik Figur Sederhana Menjadi istri presiden tidak mengubah gaya hidupnya berubah hedonis, seperti kebanyakan pejabat lainnya. Iriana tetap Iriana, wanita Solo yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, kesederhanaan, dan cinta produk lokal. Kesuksesan seorang pria, tak hanya didukung kemampuan diri dan tim yang solid, tapi juga berkat adanya sosok istri nan setia menemani saat duka maupun suka dari awal berkarier, hingga mencapai puncak keberhasilan. Begitu pun dengan Presiden Jokowi, ada figur sederhana Iriana Jokowi yang berperan besar terhadap kesuksesannya selama ini. Meskipun menyandang status First Lady, Iriana tetaplah rendah hati dan dikenal sebagai ibu rumah tangga yang ‘membumi’ serta menjadi panutan bagi banyak perempuan. Tampil sebagai wanita modern bersahaja, dia termasuk istri yang tangguh mendampingi suami mengurus negeri dengan persoalan yang begitu kompleks. Di sisi lain, dia adalah seorang ibu sekaligus sahabat yang setia bagi ketiga anaknya. “Saya mendidik putra dan putri saya hidup sederhana, mandiri, dan tidak bergantung kepada orang tua. Jangan mentang-mentang jadi anak pejabat terus bisa seenaknya," ungkapnya seperti dikutip sebuah media massa nasional. Baca juga:Ibu Negara Iriana yang SederhanaKisah Inspiratif Buah Hati JokowiJokowi dan Isu PKIJokowi Akan Bangun Perumahan untuk Tukang Cukur di Garut Perempuan kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1963 ini pun dikenal sebagai sosok yang pintar, sekaligus cepat beradaptasi. Tak heran, dia dengan mudah memahami lingkungan kerja Jokowi, baik saat menjadi pegawai, pengusaha, hingga pejabat publik, dan kini Presiden RI. Sejatinya, dia merasa beruntung memperistri Iriana. Pembawaannya yang tenang seringkali menjadi energi dahsyat baginya dalam menghadapi setiap permasalahan. Tak terkecuali urusan negara dan politik yang sangat pelik. Dia senantiasa mengurai penat pikiran dan menyejukkan hati suaminya. Ketenangan yang dibawa Iriana, seperti diakuinya, seringkali terungkap dalam doa. “Saya selalu mendukung apa yang dilakukan Bapak. Saya hanya bisa berdoa untuk kebaikan Bapak,” ungkapnya dengan nada tulus. Kisah Cinta Jokowi dan Iriana Kisah cinta mereka begitu sederhana, jauh dari unsur kemewahan. Ketika itu Jokowi masih duduk di bangku kuliah semester tiga Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, sementara Iriana tengah menjalani pendidikan kelas 3 SMA di Surakarta. Dia merupakan sahabat dekat dari adik Jokowi. Pertemuan mereka terjadi ketika dia kerap main dengannya. Pria yang pernah menjadi wali kota Solo ini jatuh cinta dengan kecantikan dan kesederhanaan Iriana. Namun, tidak mudah ternyata untuk menaklukkan hati seorang Iriana. Jokowi memberanikan diri mengajaknya bersepeda dan perlu waktu pendekatan enam bulan untuk menarik hatinya. Pada usia 23 tahun dan saat kuliah semester VI di Universitas Muhammadiyah Surakarta, dia menerima cinta Jokowi, lalu menikah dengan mas kawin berupa cincin seharga Rp24 ribu yang sampai saat ini masih melingkar di jari manis kirinya. Tak terasa dirinya kini telah setia mendampingi Jokowi selama 32 tahun. Iriana memiliki catatan istimewa tersendiri soal kedekatannya terhadap rakyat Indonesia. Sejak berkegiatan sebagai First Lady di Surakarta, dia telah bersentuhan dengan beragam aktivitas pemberantasan kemiskinan dan sangat peduli dengan ‘wong cilik’. Ini terlihat jelas pada sikap maupun cara Iriana menyapa rakyat di setiap pelosok negeri. Rekam jejaknya bersama sang suami yang jatuh-bangun dalam meniti hidup menjadi alasan kuat tumbuhnya empati dari dalam dirinya. Berbelanja di Warung Tradisional Kesederhanaannya terlihat dari penampilan dan kebiasaan sehari-hari. Meskipun istri seorang presiden, dia tak gengsi atau malu berbelanja di warung tradisional dan sudah menjadi kebiasaannya membeli snack kiloan sendiri di pasar. Lain dengan ibu-ibu pada umumnya yang senang belanja sayur di mal, Iriana senang berbelanja di pasar tradisional sambil meninjau kondisi setempat. Dia juga tidak tabu bertandang ke warung kaki lima dan membagikan makanan ke orang-orang sekitar sambil berinteraksi dengan mereka. Lazimnya ibu-ibu pejabat menenteng tas bermerek dunia. Dia malah tampak banggga mengenakan tas yang dibelinya dari produk UKM daerah. Seorang pengrajin tas di Boyolali bercerita Iriana datang dengan dandanan yang sederhana dan mengaku hanya ibu rumah tangga biasa, lalu memesan tas kombinasi kulit ikan pari dan kulit sapi yang dibanderol harga Rp1 juta. Menjadi istri presiden tidak mengubah gaya hidupnya berubah hedonis, seperti kebanyakan pejabat lainnya. Iriana tetap Iriana, wanita Solo yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan cinta produk lokal. Tak hanya sekali, perempuan rendah hati ini pun berulang kali tertangkap kamera warganet memesan tiket pesawat di kelas ekonomi. Bahkan, dia tak canggung berbaur bersama penumpang lainnya untuk duduk di ruang tunggu biasa untuk umum, bukan di lounge dan naik pesawat kelas ekonomi tanpa pengawalan. Kecintaannya terhadap anak-anak dituangkan dengan menyempatkan diri menjadi guru PAUDseharian, saat berkunjung ke berbagai daerah dan terlihat begitu sabar meladeni anak-anak, sambil membacakan dongeng dari sebuah buku cerita bergambar. Penyalahgunaan Narkoba Tak kalah penting persoalan penyalahgunaan narkoba termasuk menjadi perhatian serius Iriana, karena dampak yang ditimbulkan tak hanya menjadi beban berat keluarga dan lingkungan, tapi masa depan negara pun turut terancam. Pencegahan dan penindakan telah dilakukan oleh berbagai pihak yang peduli, sedangkan aparat penegak hukum pun tak segan melakukan tindakan cukup keras hingga melakukan penembakan, lantaran para pelaku melawan. Meskipun telah banyak korban baik pemakai maupun yang melakukan peredaran, masih banyak oknum yang mencoba mengedarkannya dengan target mendapatkan keuntungan cukup besar, walaupun risikonya nyawa melayang. Iriana tak pernah bosan-bosannya berpesan di berbagai kegiatannya, agar pencegahan narkoba mesti terus dilakukan dan digencarkan terutama di dalam keluarga, lingkungan rumah, hingga sekolah. Demi membentengi generasi muda sebagai penerus bangsa. “Para pelajar di mana pun berada jauhilah narkoba, pornografi, dan kekerasan. Penyalahgunaan ataupun peredaran gelap narkoba saat ini sudah dalam kondisi memprihatinkan. Obat haram ini telah memasuki segala aspek kehidupan, baik yang tinggal di kota maupun di desa, orang kaya maupun miskin, terpelajar maupun tidak pernah sekolah, orang dewasa ataupun anak-anak. Lebih dari itu, dampak negatifnya sangat luas, baik dari segi kesehatan, sosial, ekonomi, dan tindak kriminal. Pemberantasan peredaran narkoba tidaklah hanya merupakan kewajiban komponen Polri, TNI, atau komponen tertentu, melainkan tugas dan tanggung jawab semua pihak, baik para siswa di SMP, SMA, masyarakat, maupun pejabat negara,” paparnya dengan nada prihatin. KDRT Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak saat ini juga cukup tinggi, mayoritas berupa Kekerasan Terhadap Rumah Tangga (KDRT) dan perkosaan. Kekerasan yang dilakukan oleh kaum laki-laki terhadap perempuan disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya karena berada dalam kondisi tidak sadar, akibat mabuk atau dalam pengaruh narkoba, alasan ekonomi sampai masalah keluarga. "Kemajuan zaman yang semakin modern, ternate tidak mengurangi jumlah kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak. Bentuk maupun motif kekerasan tersebut malah semakin berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Sesungguhnya, pada saat yang sama di belahan dunia yang lain, masih ada ribuan, bahkan jutaan kaum perempuan dan anak-anak menderita, sekaligus menjadi korban kekerasan. Mereka menanti uluran tangan, pemikiran, bantuan maupun perhatian dari kita semua," kata (arh)




























