Ironi Perjuangan Susi Pudjiastuti: Diakui Dunia, Tak Didukung Negeri Sendiri

Ironi Perjuangan Susi Pudjiastuti: Diakui Dunia, Tak Didukung Negeri Sendiri
Jakarta, Obsessionnews.com - Komitmen Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia Susi Pudjiastuti dalam mempertahankan kelestarian ikan serta biota laut mendapat pengakuan dunia. Komitmen itu ditunjukkan dengan keberaniannya menelurkan kebijakan yang dianggap menakutkan, serta diperhatikan kawan maupun lawan. Oleh majalah ternama Foreign Policy, Susi Pudjiastuti masuk ke dalam daftar bergengsi Global Thinkers 2019. Susi masuk ke dalam kategori 10 besar tokoh yang dianggap punya pengaruh di bidang pertahanan dan keamanan. Menteri kelahiran Pangandaran, Jawa Barat, tersebut bersanding dengan perempuan berpengaruh lain seperti Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen. Kemudian Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina Wazed dengan rekor jabatan terlama dalam sejarah negara sejak Januari 2009. Susi Pimpinan Penenggelaman Kapal Selama menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi dikenal karena keputusannya menenggelamkan kapal nelayan yang kedapatan memancing secara ilegal di wilayah perairan Indonesia. Susi mengaku bangga. Meski dengan pendidikan yang tak sementereng orang-orang berpengaruh lainnya, ide dan gagasan Susi Pudjiastuti diakui di dunia. "Senang saja. Berarti aku dianggap pintar, dong. Pemikirannya dianggap bagus, dong. Begitu saja," kata Susi di Istana Kepresidenan, Rabu (23/1/2019). Indonesia dibawah komandonya telah menenggelamkan 363 kapal di teritorinya. Dampak dari kebijakan tersebut, adalah stok ikan meningkat dari sebelumnya 6,52 juta ton pada 2011 menjadi 12,5 juta ton pada 2017. Kemudian ukuran ikan yang ditangkap nelayan mengalami peningkatan, serta jarak melaut kian dekat, serta neraca perdagangan perikanan Indonesia nomor satu di ASEAN pada 2016. "Penenggelaman untuk security too. Ya mungkin itu saja maksudnya. Ya gembira, bangga. Gini-gini saya pemikirannya diakui, gitu kan," tambah Susi. Sedih Karena Tak Didukung Namun sayangnya Susi mengaku merasa gelisa. Sebabnya, dia merasa berjuang sendiri tanpa mendapat dukungan di negeri sendiri. Belum lagi konsistensi penegakan hukum terbentur kepentingan di balik kekuasaan. Kebijakannya itu juga sempat menimbulkan ketegangan dengan China yang menuduh Indonesia menembaki kapal nelayan dan melukai satu orang.  Susi menegaskan, menjaga hubungan baik dengan China bukan berarti kendur dalam urusan penegakan hukum di sektor illegal fishing (pencurian ikan). Dia mendukung penuh tindakan Komando Armada Maritim Kawasan Barat (Koarmabar) yang menembak kapal berbendera China di kawasan Natuna Juni 2018. "Hubungan baik kita harus jaga. Tapi soal pencurian ikan ya tidak termasuk hubungan baik antarlembaga dong," ujar Susi kala itu. Dalam kategori pertahanan dan keamanan, Susi sejajar dengan beberapa menteri dari negara lain, seperti Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, dan juga Komandan Pasukan Quds Iran Qassem Suleimani. Sedangkan nama-nama besar lain yang masuk daftar di kategori lain antara lain Kanselir Jerman Angela Merkel, Direktur IMF Christine Lagarde, pendiri Amazon Jeff Bezos dan pendiri Alibaba Jack Ma. Sebelumnya, Duta Besar Inggris Moazzam Malik memberikan pujian atas peran Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti. Ini berkat sertifikasi standar emas yang diraih perusahaan perikanan nasional dari Inggris.  PT Citra Raja Ampat Canning (Crac) mendapat sertifikasi dari Marine Stewardship Council (Dewan Penjaga Kelautan, MSC) asal London, Inggris. Peluang ekspor perseroan pun disebut akan semakin kuat di Eropa. "Selamat Ibu Susi Pudjiastuti - kepemimpinan Anda meraih hasil nyata dalam sustainability (keberlanjutan), lingkungan, dan komunitas perikanan Indonesia," ujar Moazzam dalam kicauannya lewat akun media sosial Twitter. Usaha-usaha Susi Pudjiastuti dalam menjaga kelautan juga semakin terdengar di dunia internasional. Mulai dari pengeboman hingga praktik perikanan berkelanjutan. "Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti telah memimpin di dunia dalam hal melawan perikanan ilegal di negaranya yang telah menjadi masalah besar di sama," ujar Martin Purves, direktur pelaksana International Pole and Line Foundation. Menurut The Guardian, PT Crac menjadi pertama di Indonesia dan kedua di Asia Tenggara yang meraih sertifikasi tersebut. PT Crac merupakan perusahaan asal Sorong. "Usaha-usaha yang dibuat oleh (otoritas) perikanan untuk meraih sertifikasi MSC akan menjaga keberlangsungan hidup, suplai makanan laut, dan samudera yang sehat bagi generasi masa depan," ujar Patrick Caleo, Direktur Asia-Pasifik MSC. CEO PT Crac Ali Wibisono menyambut positif sertifikasi ini dan berharap ini akan membuat perikanan Indonesia semakin dikenali dalam perpetaan industri perikanan dunia. "Ini adalah pijakan penting bagi negara ini," ujar dia. "Perikanan kami juga memiliki kepentingan besar bagi rakyat Indonesia dengan menyediakan kerja, makanan, dan mendukung sumber pencaharian," kata dia. (Has)