Simpang Siur Kerja Paksa Mahasiswa Magang di Taiwan

Simpang Siur Kerja Paksa Mahasiswa Magang di Taiwan
Jakarta, Obsessionnews.com -Pemerintah Indonesia memutuskan menghentikan sementara perekrutan dan pengiriman mahasiswa skema kuliah-magang ke Taiwan. Keputusan itu menyusul adanya kabar ratusan mahasiswa Indonesia menjalani kerja paksa di Taiwan, baru- baru ini. Mahasiswa yang dikabarkan menjalani kerja paksa itu merupakan mahasiswa dari program kuliah-magang yang dibuat oleh Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI). "Indonesia menghentikan sementara perekrutan serta pengiriman mahasiswa skema kuliah-magang hingga disepakati tata kelola yang baik," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir Kamis (3/1/2019). Migrant Care memilik penilaian sendiri dalam melihat kasus ini. Program kuliah magang ratusan mahasiswa Indonesia di Taiwan yang diduga ada unsur kerja paksa disebut organisasi untuk pekerja migran. Dalam praktiknya Migrant Care mencurigai ada modus perdagangan manusia. Modus itu diduga sudah berjalan selama sekitar satu tahun mulai tahun ajaran 2017/2018. "Kita melihat ini trafficking ya, tapi dengan modus pengiriman mahasiswa magang. Sebenarnya, ini sudah lama sekali modus seperti ini," ungkap Anis Hidayah, ketua pusat studi migrasi Migrant Care, Kamis (3/1/2019). Anis mengatakan praktik perdagangan manusia ini terjadi karena overtime alias jam kerja melewati peraturan dan gaji yang tidak standar. "Ketiga, unsur eksploitasinya masuk, kemudian yang keempat, bahwa ada penipuan di banyak proses. Yang kelima, tentu keuntungan besar oleh para pemainnya," paparnya. Anis juga melihat kasus ini bukan barang baru. Kasus serupa kata dia, pernah juga terjadi beberapa tahun yang lalu di Malaysia dengan tawaran edukatif dijadikan kedok perdagangan manusia. "Itu dimanfaatkan, karena ini dilihat reguler, potensinya ada, jaringan trafficking itu kan melihat supply dan demand juga," tutur Anis. Menurut Anis, langkah pemerintah yang meminta agar perwakilan Taiwan menghentikan pemberian visa untuk program kuliah magang tidaklah cukup. Menurutnya, harus ada investigasi kolaboratif untuk mengusut modus perdagangan manusia. "Jadi siapa sesungguhnya broker, jaringan trafficking di balik itu, gitu. Di sini, di Taiwan, juga jaringan-jaringan internasional yang lain, juga keterlibatan universitas, karena selama ini mereka berlindung di balik program pendidikan," kata Anis. Mahasiswa Indonesia di Hsing Wu membantah kerja paksa Sebelumnya, seperti dilaporkan China Times , anggota parlemen Taiwan dari Partai Kuomintang, Ko Chih-en, menyebutkan sejumlah universitas mempekerjakan secara paksa ratusan mahasiswa Indonesia ke pabrik-pabrik dalam program magang, termasuk mahasiswa Universitas Hsing Wu, universitas swasta yang terletak di Distrik Linkou, New Taipei. Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan WNI di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Fajar Nuradi, menyatakan bahwa dalam penelusurannya, tak ada unsur kerja paksa terhadap para mahasiswa magang. "Kerja magang itu diatur oleh pihak universitas dan perusahaan. Tidak ada masalah tentang pembayaran gaji, mereka (peserta magang) digaji sesuai aturan ketenagakerjaan, yaitu NT$150 per jam (sekitar Rp70.000 per jam)," ungkap Fajar kepada koresponden BBC, di Taiwan Cindy Sui (3/1). Ia menegaskan bahwa para peserta tak dipaksa bekerja dan disiksa. Ia juga membantah bahwa mereka diberi makanan mengandung babi seperti ramai diberitakan, padahal sebagian besarnya adalah Muslim. "Saya mewawancara beberapa mahasiswa. Mereka memang disediakan makanan yang mungkin mengandung babi, tapi mereka tidak dipaksa untuk memakannya. Mereka punya pilihan sayur dan makanan vegetarian," pungkasnya. Lebih dari 200 mahasiswa Indonesia yang mengikuti kuliah magang di Universitas Hsing Wu menandatangani petisi Rabu (02/01) dan menyanggah terjadinya kerja paksa. "Pihak universitas tidak memaksa kami kerja dan kami tak pernah diberikan makanan mengandung babi," kata para mahasiwa dalam petisinya. Sementara itu Universitas Hsing Wu juga mengeluarkan pernyataan resmi memprotes tuduhan itu dengan mengatakan isu ini merusak reputasi perusahaan-perusahaan yang ikut dalam skema magang untuk memberikan pengalaman kerja kepada para mahasiswa. "Para mahasiswa tak pernah dieksploitasi," kata universitas dalam satu pernyataan. (Albar)