Dulu Kawan, Ini Orang-orang yang Kini Melawan Prabowo

Jakarta, Obsessionnews.com - Prabowo Subianto disegani banyak orang karena banyak pengikut. Namanya dikenal bukan hanya sebagai mantan prajurit TNI Angkatan Darat. Namun, ia juga seorang politisi unggul yang memimpin Pertai Gerindra. Ia kini dijagokan kembali menjadi calon presiden bertarung melawan petahana pada Pilpres 2019. Sebagai orang penting di negeri ini, Prabowo tentu banyak memegang kendali dalam percaturan politik di negeri. Kiprahnya di dunia politik juga membuat Prabowo memiliki banyak kawan dekat. Tapi ada juga mereka yang tidak suka, dan secara terang-terangan menentang sikap politik Prabowo. Siapa sajakah itu? Berikut kami merangkum ada lima orang yang terang-terangan melawan Prabowo: 1. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) [caption id="attachment_234914" align="alignnone" width="640"]
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).[/caption] Kemesraan keduanya bahkan tercermin dari keluarga Ahok yang pernah diundang makan bersama dengan Prabowo di kediamannya di Hambalang Bogor. Sayang, momen itu nampaknya hanya menjadi kenangan kedua belah pihak. Karena kemesraan tidak berlangsung lama. Tetapnya saat Jokowi memutuskan untuk menjadi calon presiden, Ahok memutuskan keluar dari Partai Gerindra pada akhir 2014 lalu. Kekisruhan ini berawal dari pembahasan UU Pilkada. Gerindra ingin kepala daerah dipilih DPRD, sementara Ahok menolak usulan partainya itu. Usaha Ahok pun berhasil, Pasca Joko Widodo menang Pilpres 2014, Ahok jadi gubernur DKI selama 2 tahun tanpa embel-embel partai politik di tubuhnya. Peristiwa itu ternyata menjadi kado pahit bagi Prabowo usai kalah bertarung melawan Jokowi di Pilpres 2014. Prabowo seperti salah menempatkan orang. 2. La Nyalla Mattalitti [caption id="attachment_270455" align="alignnone" width="640"]
La Nyalla Mattalitti.[/caption] Sama halnya dengan Ahok, La Nyalla juga pernah punya hubungan mesra dengan Prabowo. Ia bahkan menjadi salah satu tim sukses Prabowo pada Pilpres 2014 lalu. Namun sekarang arah politik La Nyalla sudah tidak lagi berkiblat pada Prabowo, melainkan beralih mendukung Jokowi. Kepada Jokowi, La Nyalla terus terang minta maaf telah membuat isu Jokowi sebagai keturunan PKI melalui Tabloid Obor Rakyat. Sikap La Nyalla yang kecewa dengan Prabowo dimulai lantaran dirinya batal diusung Partai Gerindra sebagai calon gubernur Jawa Timur pada 2018. Menurutnya, salah satu penyebab kegagalannya karena tidak sanggup memenuhi 'mahar politik' berupa uang ratusan miliar yang diminta Prabowo. Kepada wartawan, La Nyalla mengungkit jasanya untuk Prabowo pada dua kali pemilihan presiden yakni pada 2009 dan 2014. Dia mengaku mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk kebutuhan Pilpres. La Nyalla juga menggerakkan semua elemen di Jatim mulai dari Kadin, Pemuda Pancasila, KONI, Hipmi dan lainnya, untuk memenangkan Prabowo. La Nyalla mengaku kecewa dengan Gerindra. Sebab, rekomendasi yang diberikan Presidium alumni 212 tidak dijalankan. Salah satu rekomendasi itu adalah mengusung La Nyalla sebagai cagub di Pilgub Jatim. Serangan La Nyalla tidak berhenti disitu, ia menantang Prabowo adu sholat dan mengaji dengan Jokowi, untuk membuktikan bahwa calon presiden inkumben itu tidak anti-Islam. Dia juga mengklaim bahwa Jokowi lebih hebat dari Prabowo urusan beragama. "Pak Jokowi berani mimpin salat. Pak Prabowo berani disuruh mimpin salat? Enggak berani. Ayo kita uji keislamannya Pak Prabowo. Suruh Pak Prabowo baca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, baca bacaan salat. Kita semua jadi saksi," ujar La Nyalla di kediaman Ma'ruf Amin, Selasa, (11/12/2018). 3. Yusril Ihza Mahendra [caption id="attachment_270464" align="alignnone" width="640"]
Yusril Ihza Mahendra.[/caption] Siapa yang tidak kenal dengan sosok satu ini. Pakar hukum tata negara ini juga pernah punya hubungan mesra dengan Prabowo. Ia dipercaya menjadi kuasa hukum Prabowo pada Pemilu 2014. Namun, belakangan Yusril beralih dukungan, kini Ketua Umum PBB itu menjadi kuasa hukum Jokowi di Pilpres 2019. Yusril pernah mengatakan dirinya ragu akan citra yang selama ini dikembangkan seolah pasangan Prabowo-Sandiaga banyak berjasa untuk kepentingan Islam. Padahal sepengetahuannya, selama ia mengenal dan bergaul dengan Prabowo dan Sandiaga, hampir tak ada rekam jejak yang mengindikasikan ke arah itu. "Jadi kalau Pak Prabowo dianggap sangat Islam, saya sendiri kurang percaya juga dengan hal itu. Apa iya? Sebab, nggak ada track record-nya," kata Yusril, yang baru ditunjuk sebagai kuasa hukum pasangan calon presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin kepada detikcom, Kamis (8/11/2018). Begitu juga Sandiaga Uno. Dia mempertanyakan kapan Sandi menjadi anggota PII (Pelajar Islam Indonesia) atau HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) atau apa pun. "Atau ketika ulama dikriminalisasi, dia teriak atau dia melawan?" tandasnya. 4. Ali Mochtar Ngabalin [caption id="attachment_270456" align="alignnone" width="640"]
Ali Mochtar Ngabalin.[/caption] Setelah sempat menjadi tim sukses Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014 lalu, Ali Mochtar Ngabalin juga berubah haluan. Ia belakangan mendukung Jokowo dan diangkat tenaga ahli Istana, serta Komisaris BUMN. Ia menolak disebut sebagai penghianat karena dia merasa tidak pernah makan uang sepeser pun dari Prabowo. Ngabalin kesal dengan Prabowo karena sebagai opisisi tidak pernah melakukan sikap yang konstruktif. "Ternyata mereka memilih menjadi oposisi yang tidak konstruktif. Makanya saya menyatakan, saya berhenti dan keluar dari oposisi. Jadi bukan dari kemarin sore, bukan," tandas Ali Mochtar Ngabalin. Ngabalin bahkan menganggap kritikan Prabowo soal hutang negara terhadap Pemerintahan Jokowi layaknya sampah yang tak ada guna. "Anak SD kelas VI akan pasti tertawa mendengar karena pernyataan itu, pasti. Karena bagaimana mungkin pernyataan sampah, murah, keluar dari mulut tokoh seperti Prabowo. Kasihan," ujar Ngabalin di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (25/6/2018). 5. Oesman Sapta Odang [caption id="attachment_134196" align="alignnone" width="640"]
Oesman Sapta Odang.[/caption] Oesman Sapto Odang dikenal sebagai seteru Prabowo Subianto dalam perebutan kursi ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia periode 2010-2015. Saat itu Prabowo menggelar Munas HKTI di Bali, namun OSO juga menggelar Munas HKTI tandingan. Kedua-duanya diangkat sebagai ketua umum oleh HKTI masing-masing. Karena itu ada istilah HKTI OSO dan HKTI Prabowo. Keduanya pun saling menggugat secara hukum dan merasa paling berhak mengusung bendera HKTI. Dalam proses gugat menggugat itu, Oesman dikenal tidak gentar melawan Prabowo yang merupakan bekas jenderal Orde Baru. Pada Pilpres 2014 lalu, HKTI di bawah Oesman Sapta menyatakan mendukung Jokowi-JK, pasangan rival Prabowo-Hatta. (Albar)
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).[/caption] Kemesraan keduanya bahkan tercermin dari keluarga Ahok yang pernah diundang makan bersama dengan Prabowo di kediamannya di Hambalang Bogor. Sayang, momen itu nampaknya hanya menjadi kenangan kedua belah pihak. Karena kemesraan tidak berlangsung lama. Tetapnya saat Jokowi memutuskan untuk menjadi calon presiden, Ahok memutuskan keluar dari Partai Gerindra pada akhir 2014 lalu. Kekisruhan ini berawal dari pembahasan UU Pilkada. Gerindra ingin kepala daerah dipilih DPRD, sementara Ahok menolak usulan partainya itu. Usaha Ahok pun berhasil, Pasca Joko Widodo menang Pilpres 2014, Ahok jadi gubernur DKI selama 2 tahun tanpa embel-embel partai politik di tubuhnya. Peristiwa itu ternyata menjadi kado pahit bagi Prabowo usai kalah bertarung melawan Jokowi di Pilpres 2014. Prabowo seperti salah menempatkan orang. 2. La Nyalla Mattalitti [caption id="attachment_270455" align="alignnone" width="640"]
La Nyalla Mattalitti.[/caption] Sama halnya dengan Ahok, La Nyalla juga pernah punya hubungan mesra dengan Prabowo. Ia bahkan menjadi salah satu tim sukses Prabowo pada Pilpres 2014 lalu. Namun sekarang arah politik La Nyalla sudah tidak lagi berkiblat pada Prabowo, melainkan beralih mendukung Jokowi. Kepada Jokowi, La Nyalla terus terang minta maaf telah membuat isu Jokowi sebagai keturunan PKI melalui Tabloid Obor Rakyat. Sikap La Nyalla yang kecewa dengan Prabowo dimulai lantaran dirinya batal diusung Partai Gerindra sebagai calon gubernur Jawa Timur pada 2018. Menurutnya, salah satu penyebab kegagalannya karena tidak sanggup memenuhi 'mahar politik' berupa uang ratusan miliar yang diminta Prabowo. Kepada wartawan, La Nyalla mengungkit jasanya untuk Prabowo pada dua kali pemilihan presiden yakni pada 2009 dan 2014. Dia mengaku mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk kebutuhan Pilpres. La Nyalla juga menggerakkan semua elemen di Jatim mulai dari Kadin, Pemuda Pancasila, KONI, Hipmi dan lainnya, untuk memenangkan Prabowo. La Nyalla mengaku kecewa dengan Gerindra. Sebab, rekomendasi yang diberikan Presidium alumni 212 tidak dijalankan. Salah satu rekomendasi itu adalah mengusung La Nyalla sebagai cagub di Pilgub Jatim. Serangan La Nyalla tidak berhenti disitu, ia menantang Prabowo adu sholat dan mengaji dengan Jokowi, untuk membuktikan bahwa calon presiden inkumben itu tidak anti-Islam. Dia juga mengklaim bahwa Jokowi lebih hebat dari Prabowo urusan beragama. "Pak Jokowi berani mimpin salat. Pak Prabowo berani disuruh mimpin salat? Enggak berani. Ayo kita uji keislamannya Pak Prabowo. Suruh Pak Prabowo baca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, baca bacaan salat. Kita semua jadi saksi," ujar La Nyalla di kediaman Ma'ruf Amin, Selasa, (11/12/2018). 3. Yusril Ihza Mahendra [caption id="attachment_270464" align="alignnone" width="640"]
Yusril Ihza Mahendra.[/caption] Siapa yang tidak kenal dengan sosok satu ini. Pakar hukum tata negara ini juga pernah punya hubungan mesra dengan Prabowo. Ia dipercaya menjadi kuasa hukum Prabowo pada Pemilu 2014. Namun, belakangan Yusril beralih dukungan, kini Ketua Umum PBB itu menjadi kuasa hukum Jokowi di Pilpres 2019. Yusril pernah mengatakan dirinya ragu akan citra yang selama ini dikembangkan seolah pasangan Prabowo-Sandiaga banyak berjasa untuk kepentingan Islam. Padahal sepengetahuannya, selama ia mengenal dan bergaul dengan Prabowo dan Sandiaga, hampir tak ada rekam jejak yang mengindikasikan ke arah itu. "Jadi kalau Pak Prabowo dianggap sangat Islam, saya sendiri kurang percaya juga dengan hal itu. Apa iya? Sebab, nggak ada track record-nya," kata Yusril, yang baru ditunjuk sebagai kuasa hukum pasangan calon presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin kepada detikcom, Kamis (8/11/2018). Begitu juga Sandiaga Uno. Dia mempertanyakan kapan Sandi menjadi anggota PII (Pelajar Islam Indonesia) atau HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) atau apa pun. "Atau ketika ulama dikriminalisasi, dia teriak atau dia melawan?" tandasnya. 4. Ali Mochtar Ngabalin [caption id="attachment_270456" align="alignnone" width="640"]
Ali Mochtar Ngabalin.[/caption] Setelah sempat menjadi tim sukses Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014 lalu, Ali Mochtar Ngabalin juga berubah haluan. Ia belakangan mendukung Jokowo dan diangkat tenaga ahli Istana, serta Komisaris BUMN. Ia menolak disebut sebagai penghianat karena dia merasa tidak pernah makan uang sepeser pun dari Prabowo. Ngabalin kesal dengan Prabowo karena sebagai opisisi tidak pernah melakukan sikap yang konstruktif. "Ternyata mereka memilih menjadi oposisi yang tidak konstruktif. Makanya saya menyatakan, saya berhenti dan keluar dari oposisi. Jadi bukan dari kemarin sore, bukan," tandas Ali Mochtar Ngabalin. Ngabalin bahkan menganggap kritikan Prabowo soal hutang negara terhadap Pemerintahan Jokowi layaknya sampah yang tak ada guna. "Anak SD kelas VI akan pasti tertawa mendengar karena pernyataan itu, pasti. Karena bagaimana mungkin pernyataan sampah, murah, keluar dari mulut tokoh seperti Prabowo. Kasihan," ujar Ngabalin di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (25/6/2018). 5. Oesman Sapta Odang [caption id="attachment_134196" align="alignnone" width="640"]
Oesman Sapta Odang.[/caption] Oesman Sapto Odang dikenal sebagai seteru Prabowo Subianto dalam perebutan kursi ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia periode 2010-2015. Saat itu Prabowo menggelar Munas HKTI di Bali, namun OSO juga menggelar Munas HKTI tandingan. Kedua-duanya diangkat sebagai ketua umum oleh HKTI masing-masing. Karena itu ada istilah HKTI OSO dan HKTI Prabowo. Keduanya pun saling menggugat secara hukum dan merasa paling berhak mengusung bendera HKTI. Dalam proses gugat menggugat itu, Oesman dikenal tidak gentar melawan Prabowo yang merupakan bekas jenderal Orde Baru. Pada Pilpres 2014 lalu, HKTI di bawah Oesman Sapta menyatakan mendukung Jokowi-JK, pasangan rival Prabowo-Hatta. (Albar) 




























