Kelebihan dan Kekurangan Gaya Komunikasi Prabowo dan Jokowi

Kelebihan dan Kekurangan Gaya Komunikasi Prabowo dan Jokowi
Jakarta, Obsessionnews.com - Komunikasi yang baik menjadi syarat penting bagi kedua pasangan calon presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto untuk menarik perhatian masyarakat. Kepemimpinan mereka sebagai tokoh nasional diuji dari gaya komunikasinya saat berhadapan dengan masyarakat. Utamanya saat memberikan sambutan atau memberi tanggapan dari sejumlah wartawan. Terkait hal itu, konsultan komunikasi Prita Laura punya penilaian sendiri menanggapi gaya komunikasi Prabowo dan Jokowi. Kedua tokoh ini dipandang memiliki gaya komunikasi yang jauh berbeda. Dari pandangan Prita, dengan menggunakan kalimat aktif, Prabowo memiliki teknik berbicara di depan umum yang sangat baik. "Prabowo pandai menggunakan kalimat efektif, suaranya lantang dan berwibawa," kata Prita dalam sesi 'Keterampilan Berbicara di Depan Publik', Tempo Media Week 2018, di Gedung Tempo, belum lama ini. Dalam beberapa kesempatan Prabowo kerap menyampaikan pidato tanpa teks dengan intonasi yang menggelora. Ini membuat audien merasa tergugah untuk terus menyimak apa yang akan disampaikan Prabowo secara keseluruhan. Secara teknik, Prabowo mengikuti semua teknik public speaking yang sering diajarkan di berbagai kesempatan. Bagus sekali," kata Prita. Berbeda dengan Prabowo, Jokowi secara teknik berbicara di depan umum itu masih memiliki kekurangan. Beberapa kali Jokowi selalu menggunakan teks sehingga terkesan monoton, dan tidak terlihat rilek. Terlebih jika ditanya wartawan, jawaban Jokowi dianggap kurang begitu tegas. "Jokowi juga banyak mikir. Apalagi saat ditodong wartawan, sering sekali terdengar 'eeee..'," kata Prita. Secara verbal, komunikasi Jokowi di panggung memang tidak sebagus Prabowo. Namum kata Prita, Jokowi tetap memiliki keunggulan. Dengan gayanya yang sederhana, Jokowi dianggap mampu menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya itu Jokowi kerap menonjolkan gaya komunikasinya melalui kegiatan blusukan dan bersama keluarga besarnya. Prita mencontohkan ketika Jokowi sedang berolahraga bola atau tinju dengan cucunya, Jan Ethes saat hendak mempromosikan pesta olahraga Asian Games 2018 di Jakarta. Lain waktu, Jokowi kerap mempromosikan pentingnya keluarga hanya dengan bermain dengan anak, menantu dan cucunya bukan dengan berpidato. "Tidak jarang pula Jokowi berpakaian ala milenial untuk mencoba komunikasi dengan anak muda," jelasnya. Prita menilai gaya komunikasi Jokowi yang lebih suka melakukan kegiatan dengan Jan Ethes atau blusukan ke mall justru menutupi kekurangan Jokowi dalam hal teknik berorasi di atas panggung. Disinilah Jokowi masih dianggap unggul dari Prabowo yang suka menujukan kelas elitnya. "Jokowi itu cerdas dalam membaca situasi dan fleksibilitasnya melihat kondisi penontonnya. Hal itu juga sangat diperlukan dalam hal berbicara di depan umum," kata Prita. Dari segi efektivitas pesan kedua calon presiden itu sampai di masyarakat, Prita mengatakan pesan Jokowi lebih mengena kepada para penontonnya. "Pengamatanku ini karena ada perbedaan zaman yang dialami Prabowo dan Jokowi," kata Prita. Gaya bicara Prabowo itu mirip sekali dengan zaman orde baru. Gaya bicara itu cocok sekali ketka para pemimpin itu menjadi bintang yang ada di antara pendukung dan semua mata tertuju padanya. Gaya bicara itu juga dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono. "Di era itu, orang akan berpikir seorang pimpinan itu memang harus menjadi bintang terang. Cara bicara pun harus lantang," katanya. Sebaliknya, saat ini masyarakat terlihat lebih suka berkomunikasi lebih egaliter seperti yang dilakukan Jokowi saat menyapa masyarakat. Dia mau ke mall dan berbicara tentang ekonomi kreatif. "Justru gaya seperti ini yang menarik hati masyarakat terutama generasi milenial sekarang," katanya. Prita menyarankan beberapa perbaikan gaya berkomunikasi untuk para calon presiden itu. Prabowo, kata Prita, memiliki personal branding yang identik dengan cara orasi militernya. Hal itu pula yang mungkin menjadi faktor masyarakat memilihnya. Ada baiknya Prabowo memperbanyak melakukan tanya jawab kepada para penonton. "Prabowo jangan keluar dari personal brandingnya. Tapi dengan membuat banyak tanya jawab dengan masyarakat, hal itu bisa membuat masyarakat terutama milenial merasa dekat dan lebih tertarik dengan Prabowo," kata Prita. Jokowi, kata Prita, juga sudah memiliki personal branding yang sangat kuat. Walaupun memiliki kekurangan dalam hal teknik komunikasi, tetap saja banyak yang menyukainya. "Tantangan Jokowi itu ya saat ditodong wartawan. Dia sering bicara terbata-bata," kata Prita yang berharap Jokowi bisa memperbaiki teknik bicaranya agar lebih lancar. (Albar)