Susi Pudjiastuti Minta Masyarakat Jaga Alam Laut

Susi Pudjiastuti Minta Masyarakat Jaga Alam Laut
Jember, Obsessionnews.com - Laut Indonesia merupakan salah satunya yang diyakini sebagai masa depan bagi bangsa Indonesia. Jika laut Indonesia yang memiliki pantai kedua terpanjang di dunia ini dapat dikelola dengan baik, maka laut Indonesia ini dapat memberikan kehidupan yang layak bagi penduduknya yang merupakan penduduk kelima terbesar di dunia. Hal itu disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti  yang didampingi Bupati Jember, Faida saat menghadiri Kongres Nelayan di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur pada Sabtu (24/11/2018). Susi mengatakan, agar bangsa Indonesia khususnya masyarakat Jember menjaga alam yang telah diwariskan secara turun temurun.  “Laut itu warisan bukan milik kita, tapi sebuah warisan dari nenek moyang kita ke kita. Dari warisan maka harus kita turunkan ke anak cucu kita,” ujar Susi dalam keterangan tertulisnya yang diterima Obsessionnews.com, Selasa (27/11). Menurut dia, 70 persen dari dunia ini adalah lautan, 70 persen dari wilayah Indonesia adalah lautan. Ditambah sungai, ditambah danau 80% lebih hampir 85% wilayah Indonesia ini adalah air. “Jadi airlah yang harusnya menjadi (sumber) kehidupan kita semua,” ungkap Susi. Menggantungkan hidup dari lautan berarti juga harus siap untuk menjaga kelestariannya. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, baik dalam bentuk kantong kresek, bungkus makanan atau produk kecantikan, sedotan, botol minuman, dan sebagainya yang dapat membahayakan lingkungan dan ekosistem di dalamnya. Susi mencontohkan, mudarat yang didatangkan sampah plastik di lautan yaitu dengan ditemukannya paus jenis sperma yang mati terdampar di Desa Kapota Utara, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, beberapa waktu lalu. Meski belum dipastikan penyebab kematiannya, namun di dalam perutnya ditemukan berbagai macam sampah dalam jumlah yang tidak sedikit. “Kemarin ikan paus besar mati terdampar. Setelah dibuka isi perutnya ada sandal capit, ada pancing, ada senar, ada rapia, ada kantong kresek. Sekarang Bapak jaring tiap hari, ada plastik enggak di jaringnya? Pasti ada,” ujarnya. Dia memperkirakan Indonesia ini sekarang menjadi penyumbang sampah laut terbesar nomor 2 di dunia. “Dan khusus sampahnya sampah plastik, kita belum hitung sampah yang lain. (Tapi) kalau sampah lain bisa hancur. Bapak-bapak dan Ibu-ibu harus tahu, sampah plastik itu 450 tahun tidak akan hancur,” imbuhnya. Sementara itu, beberapa daerah akan memulai penerapan kebijakan pelarangan plastik sekali pakai, salah satunya Bali, yang rencananya akan memulai pada Januari mendatang. Selain itu, penggunaan plastik sekali pakai juga telah diterapkan di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan pemberian denda bagi yang melanggar. Susi berpendapat, stok ikan lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) Indonesia yang belakangan telah mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan harus dijaga dengan upaya pelestarian lingkungan. Tak hanya menjaga lingkungan dari sampah, dia juga meminta nelayan Jember agar tak lagi menggunakan alat tangkap yang dapat merusak lingkungan dan menghindari cara penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing). Susi juga mengimbau kepada masyarakat agar tak serakah mengeksploitasi sumber daya ikan yang telah diberikan Tuhan melalui tata kelola penangkapan yang baik. “Di laut sampean ngasih makan (ikan) enggak? Yang kasih makan Tuhan, Tuhan kasih makan, Tuhan kasih jaga, mbok yo sabar. Di Pangandaran dulu, satu hari  di kampung saya 30 ton ikan layur, 5 ons 3 ons harganya Rp70.000. Kalau nelayannya rakus, serakah,  yang mata jaringnya dikecilin dari 23/4 menjadi 1 inc seperempat. Saya bilang sampean nih mbok piye toh, nanti pakai kelambu saya nangkep ikannya, biar telornya semuanya kena, saya bilang. Sampean enggak usah nangkep ikannya nangkep endognya ae. Akhirnya yang 30 ton Rp70.000 sekarang nyari 5 ton samene-mene Rp5.000 perak diasin. Ya enak. Tapi kalau semua ikannya ditangkepnya gini lah ya bagaimana? Suatu hari mata rantainya akan putus,” jelas Susi. Segala upaya dan kampanye menjaga laut yang dilakukan ini merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Menurutnya, ia telah diberikan kehormatan dan kepercayaan luar biasa oleh Presiden yang harus ia pertanggungjawabkan dengan berupaya bekerja maksimal. “Saya diberikan amanah satu kehormatan. Saya harus betul kerja, saya harus jaga kedaulatan negara ini. Saya bangun pulau-pulau terpencil, saya tenggelamkan kapal-kapal asing. Dikomentari menteri sinting, menteri galak, menteri gila, sekarepmu. Yang penting saya kerja benar untuk negara, untuk saya dan untuk anak cucu saya,” tandasnya. (Poy)