Wajah Baru Pelabuhan Indonesia di Tangan IPC

Wajah Baru Pelabuhan Indonesia di Tangan IPC
Jakarta, Obsessionnews.com - Didirikan pada tahun 1957, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/Indonesia Port Corporation (IPC) tak henti berbenah diri untuk terus memberikan pelayanan paripurna kepada masyarakat. Terlebih, ketika IPC dipimpin Elvyn G. Masassya, berkat tangan dinginnya ia sukses membawa perusahaan pelat merah ini menjawab tantangan zaman. Sejak awal pemerintahan, Presiden Joko Widodo dengan program Nawa Cita telah menggagas penguatan jati diri Indonesia sebagai Negara Maritim. RI-1  juga memiliki visi untuk mengembalikan kejayaan maritim Indonesia yang dapat dicapai dengan melakukan pembangunan sektor maritim. Karenanya, pemerintah memiliki fokus untuk memanfaatkan segala potensi sumber daya kelautan serta membangun transportasi laut dan infrastruktur pelabuhan. Sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengemban tugas untuk mewujudkan cita-cita tersebut, IPC dibawah nakhoda Elvyn sukses mengubah citra pelabuhan tak lagi menyeramkan bahkan bertransformasi menjadi digital port dan memantapkan diri sebagai pengelola pelabuhan berkelas dunia. Kerja cerdas dan keras yang dilakukan Elvyn berserta jajaran berbuah manis, seperti yang diutarakan Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi kepada Men’s Obsession baru-baru ini bahwa salah satu keberhasilan 4 tahun pemerintahan Presiden Jokowi-JK di sektor kelautan bisa dilihat dari pencapaian Pelabuhan Tanjung Priok (dikelola IPC) yang mampu menjadi pelabuhan percontohan serta perubahan agar dapat meningkatkan daya saing nasional. Bahkan, kapal kontainer berkapasitas 10.000 TEUs bersandar di pelabuhan yang memiliki luas lahan 604 ha tersebut. Kapal itu berlabuh seminggu sekali di Pelabuhan IPC. Dengan kapasitasnya yang besar, Kapal CMA CGM berdiri sangat gagah dibandingkan kapal-kapal lainnya yang sedang melakukan aktivitas bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Priok.  “Ini adalah kapal pertama yang beroperasi dengan kapasitas sebesar 10.000 TEUs,” ujar Budi Karya.  Maka dengan masukya kapal-kapal besar ke Indonesia, kini pengiriman barang tidak perlu lagi dikirim terlebih dulu ke Singapura untuk diantarkan ke Negara lainnya. Untuk terus mendongkrak kinerja positif, IPC pun mengimplementasikan Pelindo Incorporated.    Strateginya adalah memperluas wilayah operasi, memperbesar kapasitas finansial, dan akses pendanaan. Strategi lainnya, fokus memperkuat kapabilitas produksi dan pemasaran, standardisasi fasilitas, sistem IT, serta pelayanan jasa. Salah satu bentuk Pelindo Incorporated adalah IPC bekerja sama dengan Pelindo I dalam pengelolaan Pelabuhan Batu Ampar. Elvyn juga terus berupaya untuk memperluas pasar IPC dengan membangun pelabuhan di banyak Tempat, antara lain pembangunan dan pengusahaan jasa kepelabuhanan, Terminal Kijing Pelabuhan Pontianak, Kalimantan Barat. Sebagai salah satu proyek strategis nasional, Terminal Kijing yang nantinya mengusung konsep digital port ini akan menjadi pelabuhan berstandar internasional terbesar di Kalimantan.  Keberadaannya akan terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sehingga akan mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat. Hal ini sekaligus mendekatkan cita-cita Indonesia menjadi poros maritim. Tak hanya itu di semester kedua tahun 2018, IPC mulai menggunakan aplikasi Customer Relationship Management dan meluncurkan IPC Smart Card melalui program Port Service Financing (PSF) bekerja sama dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. PSF adalah fasilitas pembiayaan atas jasa layanan kepelabuhanan yang digunakan oleh pelanggan IPC. Sedangkan, IPC Smart Card adalah kartu elektronik yang digunakan sebagai kartu akses masuk gerbang Pelabuhan Tanjung Priok. IPC Smart Card juga bisa dipakai untuk transaksi jalan tol, serta beberapa transaksi lain di supermarket. Layanan PSF ini menjamin kepastian transaksi atas jasa kepelabuhanan di pelabuhan yang dikelola IPC selama 24 jam dan 7 hari seminggu, tanpa tergantung lagi pada ketersediaan uang tunai pengguna jasa. Sehinga ke depan, diharapkan sudah tidak ada lagi gangguan dalam proses kegiatan sandar, bongkar muat.  Elvyn memastikan bahwa transaksi pembayaran jasa kepelabuhanan akan lebih cepat, lebih mudah dan lebih murah, serta bisa dipantau langsung melalui BNI direct. Peluncuran IPC Smart Card, juga dinilai  sejalan dengan penerapan autogate system yang sudah berjalan sebulan terakhir di Pelabuhan Tanjung Priok. Tahap berikutnya, kartu akan diterapkan di Cabang Pelabuhan IPC lainnya. IPC Cabang Pelabuhan Panjang juga sudah memanfaatkan aplikasi Tempat Penimbunan Sementara berbasis Online (TPS Online) di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung. TPS Online merupakan solusi digital untuk melakukan Pertukaran Data Elektronik (PDE) kontainer antara sistem IPC di Terminal Peti Kemas dengan sistem Bea Cukai di pelabuhan. Sehingga, IPC dan Bea Cukai dapat memberikan pelayanan lebih optimal kepada pelanggan. Penerapan TPS Online ini melengkapi aplikasi Auto Gate System serta Automatic Tally System yang juga akan diterapkan di pelabuhan tersebut. Setelah sebelumnya, TPS Online sukses diimplementasikan di Pelabuhan Tanjung Priok, Pontianak, dan Palembang.  “Sebagai komitmen berkesinambungan untuk mewujudkan pelayanan yang maksimal kepada pelanggan, maka TPS Online ini akan diterapkan di seluruh Terminal Peti Kemas ocean going (internasional) di wilayah IPC. TPS Online akan mengurangi biaya logistik dan memangkas dwelling time,” terang sosok yang hobi bermusik tersebut. Sebelumnya, Pelabuhan Panjang telah mengaplikasikan tiga layanan kepelabuhanan berbasis digital, seperti Vessel Management System (VMS) yang terintegrasi dengan Inaportnet yang dikembangkan Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. VMS ini mencakup informasi tentang pemberitahuan kedatangan kapal, rencana kedatangan kapal, serta permintaan pelayanan kapal dan barang yang berbasis online. Pelabuhan Panjang juga mengaplikasikan e-service solution yang berisi modul-modul layanan registrasi, booking, tracking, pembayaran, penerbitan tagihan, serta layanan umum bagi pelanggan berbasis online. Terkait pola operasi penanganan peti kemas, Pelabuhan Panjang telah memanfaatkan aplikasi Terminal Operating System OPUS yang terintegrasi dengan Terminal Billing System. IPC juga terus memodernisasi fasilitas kepelabuhanan untuk mendukung industri di Tanah Air. Peluncuran ekspor kendaraan utuh (CBU) PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia yang telah mencapai 1,3juta unit pada awal September lalu membuktikan, perusahaan berhasil memfasilitasi kegiatan ekspor industri otomotif yang diproduksi di dalam negeri. “Sebagai pintu gerbang utama kegiatan ekspor-impor, fasilitas kepelabuhanan yang dikelola IPC terus dikembangkan untuk memperlancar ekspor-impor,” ucapnya. Lebih lanjut Elvyn menuturkan, IPC melalui anak perusahaan, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPC Car Terminal/ IPCC), terus membangun layanan terminal kendaraan, termasuk memfasilitasi keluar masuk alat berat, seperti excavator, bulldozer, lokomotif, serta suku cadang lainnya dengan sistem yang terintegrasi. IPCC memiliki fasilitas lengkap untu kjasa Vehicle Processing Center (VPC), Equipment Processing Center (EPC), Port Stock, termasuk kualitas akses jalan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri otomotif. Berbagai langkah yang telah dilakoni IPC, bagi Elvyn, merupakan wujudnya takomitmen IPC dalam mengembangkan dan memanfaatkan teknologi digital di semua lini agar pelayanan yang mereka berikan semakin cepat, lebih mudah, dan lebih murah. Semua ini diharapkan akan menekan biaya logistik yang akhirnya akan meningkatkan daya saing produk nasional.  “Dengan progres dan capaian ini, kami sedang memasuki era baru Pelabuhan Indonesia dan saya optimistis pada tahun 2020, IPC betul-betul memantapkan posisinya sebagai digital port, sekaligus menjadi pengelola pelabuhan kelas dunia yang unggul dalam operasional serta layanan,” tutupnya. (Giattri F.P)