"Kasus Khashoggi Indikasi Rusaknya Moral Gedung Putih"

Koran El Pais cetakan Spanyol menilai pendekatan Trump terhadap kasus pembunuhan wartawan dan kritikus Saudi sebagai indikasi merosotnya moral Gedung Putih. Koran ini menulis, pembunuhan Jamal Khashoggi bukan saja sebuah brutalitas yang ditunjukkan Arab Saudi, bahkan mengindikasikan sepertinya sebuah realita bahwa Presiden AS Donald Trump mengabaikan pembelaan terhadap kebebasan. Sejak berkuasanya Trump di AS, standar moral dan langkah politik negara ini terhadap isu HAM menurun drastis dan langkah Trump hanya refleksi dari realita anti perempuan, rasisme, pelecehan, kebodohan mengerikan presiden Amerika ini. Jamal Khashoggi dinyatakan hilang sejak 2 Oktober setelah memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul dan beberapa hari kemudian media melaporkan terbunuhnya wartawan dan kritikus Riyadh ini secara mengerikan. Arab Saudi setelah 18 hari bungkam akhirnya membenarkan terbunuhnya Khashoggi di konsulatnya di Istanbul. Presiden AS mengaku tidak puas atas pembunuhan wartawan ini dan perilaku Riyadh yang berusaha menutupinya, namun ia tidak rela menghentikan penjualan senjata kepada Arab Saudi. [caption id="attachment_265537" align="alignnone" width="640"]
Jamal Khashoggi[/caption] Penumpasan Rakyat di Bahrain dan Saudi Terjadi Karena Ijin AS Koran Al-Akhbar terbitan Lebanon menulis, aksi-aksi penumpasan masyarakat oleh rezim Al-Khalifa dan rezim Al-Saud terjadi hanya karena lampu hijau dari Amerika Serikat. Dalam sebuah analisa pada Kamis (25/5/2017), koran Al-Akhbar menulis, hubungan dekat rezim Al-Khalifa dan Al-Saud dengan Amerika Serikat, serta penandatanganan kontrak pembelian senjata senilai milyaran dolar, semakin meningkatkan kejahatan kedua rezim itu terhadap masyarakat mereka. Pasca vonis pengadilan Bahrain untuk memenjarakan dan menyita aset milik Syeikh Isa Qassem, seorang ruhaniwan Bahrain, dan juga protes masyarakat, pasukan rezim Al-Khalifa pada Selasa sore menyerang wilayah Al-Diraz, kediaman Syeikh Isa Qassem dan dalam insiden tersebut enam orang tewas serta lebih dari 200 orang terluka. Pasukan keamanan juga menangkap 300 orang. Menurut keterangan koran Lebanon ini, Hamad bin Isa, Raja Bahrain dalam pertemuan terbarunya dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela konferensi Arab-AS di Riyadh, menegaskan tekadnya untuk menumpas segala bentuk penentangan. Banyak lembaga hak asasi manusia (HAM) termasuk Pusat HAM dan Demokrasi Bahrain, berulangkali menyatakan bahwa Hamad bin Isa, Raja Bahrain, adalah boneka Amerika Serikat dan untuk menumpas rakyatnya meminta ijin dari Presiden Amerika. (ParsToday)
Jamal Khashoggi[/caption] Penumpasan Rakyat di Bahrain dan Saudi Terjadi Karena Ijin AS Koran Al-Akhbar terbitan Lebanon menulis, aksi-aksi penumpasan masyarakat oleh rezim Al-Khalifa dan rezim Al-Saud terjadi hanya karena lampu hijau dari Amerika Serikat. Dalam sebuah analisa pada Kamis (25/5/2017), koran Al-Akhbar menulis, hubungan dekat rezim Al-Khalifa dan Al-Saud dengan Amerika Serikat, serta penandatanganan kontrak pembelian senjata senilai milyaran dolar, semakin meningkatkan kejahatan kedua rezim itu terhadap masyarakat mereka. Pasca vonis pengadilan Bahrain untuk memenjarakan dan menyita aset milik Syeikh Isa Qassem, seorang ruhaniwan Bahrain, dan juga protes masyarakat, pasukan rezim Al-Khalifa pada Selasa sore menyerang wilayah Al-Diraz, kediaman Syeikh Isa Qassem dan dalam insiden tersebut enam orang tewas serta lebih dari 200 orang terluka. Pasukan keamanan juga menangkap 300 orang. Menurut keterangan koran Lebanon ini, Hamad bin Isa, Raja Bahrain dalam pertemuan terbarunya dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela konferensi Arab-AS di Riyadh, menegaskan tekadnya untuk menumpas segala bentuk penentangan. Banyak lembaga hak asasi manusia (HAM) termasuk Pusat HAM dan Demokrasi Bahrain, berulangkali menyatakan bahwa Hamad bin Isa, Raja Bahrain, adalah boneka Amerika Serikat dan untuk menumpas rakyatnya meminta ijin dari Presiden Amerika. (ParsToday) 




























