Ratna ‘Marsinah’ Sarumpaet yang Kritis terhadap Penguasa  

Ratna ‘Marsinah’ Sarumpaet yang Kritis terhadap Penguasa  
Jakarta, Obsessionnews.com – Berita dugaan aktivis dan tokoh teater Ratna Sarumpaet yang dianiaya tiga orang tak dikenal paling banyak ditelusuri di mesin pencari Google. Pantauan Obsessionnews.com di Google Trends wilayah Indonesia pada Rabu (3/10/2018) pukul 6.29 WIB berita tersebut ditelusuri lebih dari 200 ribu kali. Ratna merupakan salah seorang juru kampanye nasional di Badan Pemenangan Nasional pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Ratna menceritakan kronologi penganiayaan yang dialaminya kepada Prabowo. Dalam pertemuan tersebut hadir pula Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon Pertemuan Ratna dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Amien Rais, dan Fadli Zon tersebut diungkapkan Wakil Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Nanik S Deyang di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (2/10). Nanik menjelaskan, Ratna dianiaya oleh tiga orang pada 21 September 2018 lalu di sekitar Bandara Husein Saatranegara, Bandung, Jawa Barat. Malam itu Ratna baru saja menghadiri acara konferensi dengan peserta beberapa negara asing di sebuah Hotel. Kemudian Ratna naik taksi dengan peserta dari Sri Lanka dan Malaysia. "Mbak Ratna sebetulnya agak curiga saat tiba-tiba taksi dihentikan agak jauh dari keramaian. Nah saat dua temannya yang dari luar negeri turun dan berjalan menuju Bandara, Mbak Ratna ditarik tiga orang ke tempat gelap, dan dihajar habis oleh tiga orang, dan diinjak perutnya," kata Nanik. Setelah dipukuli, Ratna dilempar ke pinggir jalan, sehingga bagian samping kepalanya robek. Dengan sisa tenaga, Ratna mencari kendaraan menuju rumah sakit di Cimahi serta menelepon temannya seorang dokter bedah agar langsung ditangani. Menurut pengakuan Ratna, lanjut Nanik, kejadiannya sangat cepat sehingga sulit mengingat bagaimana urutan kejadiannya. [caption id="attachment_262381" align="alignnone" width="640"] Ratna Sarumpaet dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. (Foto: Twitter @fadlizon)[/caption] "Mbak Ratna masih sedikit sadar saat dia kemudian dibopong sopir taksi dan dimasukkan ke dalam taksi. Oleh sopir taksi mbak Ratna diturunkan di pinggir jalan di daerah Cimahi," ucap Nanik. "Mbak Ratna malam itu juga langsung balik ke Jakarta dan dalam situasi trauma habis dia harus berdiam diri selama 10 hari. Barulah hari Minggu lalu dia memanggil Fadli Zon ke rumahnya dan baru semalam Fadli Zon melaporkan ke Pak Prabowo, dan hari ini di suatu tempat mbak Ratna menemui Pak Prabowo," tuturnya. *** SUKA atau tidak suka, Ratna Sarumpaet ikut berperan menggulingkan Presiden Soeharto dari kursi kekuasaannya. Ratna bersama berbagai elemen masyarakat aktif berdemonstrasi menuntut Soeharto mundur. Akhirnya Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun terjungkal oleh gerakan reformasi pada 21 Mei 1998. Di masa kekuasaan Soeharto yang memerintah dengan tangan besi, Ratna acapkali mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari aparat keamanan. Pada era 1990-an seringkali Teater Satu Merah Panggung pimpinannya dicekal pentas di berbagai tempat. Termasuk yang dicekal adalah pementasan monolog Marsinah Menggugat. Marsinah adalah aktivis buruh di Sidoarjo, Jawa Timur, yang diduga dibunuh aparat keamanan karena sering memimpin unjuk rasa. Ratna memprotes aparat keamanan yang mencekal pementasan teaternya. Akibatnya ia ditangkap dan diintegorasi. Meski demikian dia tak takut, apalagi dia mendapat simpati dari para aktivis pro demokrasi. Dukungan dari para aktivis yang sebagian besar berusia muda itu membuatnya semakin bersemangat turun ke jalan untuk berdemonstrasi menentang berbagai kebijakan rezim Orde Baru yang dinilainya merugikan rakyat. Perempuan kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 16 Juli 1949, ini bernafas lega karena ikut berperan menjatuhkan Soeharto. Namun, perjuangan Ratna tak berhenti hanya sampai di situ. Ia terus melancarkan aksi unjuk rasa terhadap siapapun yang berkuasa, termasuk Presiden Jokowi dan Gubernur DKI Jakarta (saat itu) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Bahkan dengan lantang Ratna mengajak para pendukungnya menurunkan Jokowi dan Ahok, karena menurut Ratna kebijakan Jokowi dan Ahok merugikan rakyat. Salah satu kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang dinilai Ratna merugikan rakyat adalah penggusuran rumah warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, Agustus 2015 lalu. Ratna pun menganggap perbuatan Pemprov DKI Jakarta itu melanggar HAM. Oleh karena itu Ratna turun tangan membela warga Kampung Pulo, dan bersama berbagai organisasi kemasyarakataan (ormas) menggalang kekuatan melalui Gerakan Melawan Ahok. Meski usianya sudah senja, 66 tahun, Ratna seakan-akan tak pernah kehabisan energi memimpin demonstrasi untuk memperjuangkan aspirasi rakyat yang tertindas. Ya, Ratna tak pernah lelah membela rakyat yang teraniaya, meskipun ia harus berurusan dengan aparat keamanan. Ia pahlawan bagi para aktivis pro demokrasi. Namun, di sisi lain ia juga dikecam oleh orang-orang yang pro pemerintah. (arh)   Baca juga:Kasus Ratna, Fahira: Level Terendah Manusia itu Menganiaya PerempuanSudah Seminggu, Kasus Ratna Sarumpaet Baru TerungkapPolitisi PKS: Ratna Dianiaya Agar BungkamMahfud MD: Penyerangan Ratna Sarumpaet Biadab!Pihak Istana Tuding Ratna Satumpaet Provokasi Keluarga Korban KM Sinar Bangun