Para Tokoh Dibuat Bingung dengan Kasus Ratna Sarumpaet

Para Tokoh Dibuat Bingung dengan Kasus Ratna Sarumpaet
Jakarta, Obsessionnews.com - Teka-teki kasus penganiayaan terhadap aktivis perempuan Ratna Sarumpaet masih menyimpan tanda tanya. Benarkah salah seorang anggota tim sukses pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ini benar dianiaya atau kabar itu ternyata hoax yang sengaja diumbar untuk kepentingan politik sesaat? Bukan masyarakat umum saja yang bingung dengan kasus ini. Sejumlah tokoh juga merasa bingung. Sebab muncul berita penganiayaan Ratna berbarengan dengan tahun politik, yakni Pilpres 2019. Publik tentu berharap besar kasus ini bisa terungkap dengan terang benderang. Jangan sampai politik mengorbankan integritas seseorang untuk berkata bohong. "Sekali lagi, ibu @RatnaSpaet bicaralah....katakan hitam adalah hitam dan putih adalah putih...telanlah apa yang menjadi fakta. Saya masih muda tak layak memberimu nasehat. Tapi hari2 ini sejarah menanti kesaksian anda. Dan setelah itu kita tutup satu episode," ujar Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah di akun twitternya @Fahrihamzah, Rabu (3/10/2018). Fahri meminta Ratna berkata jujur dengan kejadian yang dialaminya. Jangan sampai menambah gaduh masyarakat di tengah bencana yang menimpa negeri ini. "Tapi jika ada kekeliruan, tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi. Terlalu mahal harga waktu kita di tengah bencana dan di tengah musibah yang menimpa anak bangsa. Ayo ibu @RatnaSpaet katakan apa yg sebenarnya terjadi. Ini era demokrasi dan ini era merdeka," kata Fahri. "Saya termasuk yg sulit percaya bahwa orang, meski perempuan tp berumur 70 tahun bisa berubah mudah dan memutar kesaksiannya. Maka jika itu terjadi, adalah hak kita untuk mengambil dua sikap berbeda: percaya bahwa ini dusta atau seseorang tak berani berkata apa adanya," tambahnya. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD juga bingung dengan kasus Ratna. Sebab berdasarkan hasil penyelidikan sementara kepolisian, bahwa luka di wajah Ratna disebabkan operasi plastik. Kemudian fakta yang ditemukan polisi di lapangan tidak sesuai dengan apa yang disampaikan pihak Ratna kepada masyarakat. "Apakah ini benar atau hoax?" tanya Mahfud di akun twitternya @mohamfudmd ketika diberitahu informasi soal temuan polisi soal kasus Ratna, Rabu (3/10). Mahfud minta publik tidak terburu-buru menyimpulkan kasus ini. "Kita lihat dulu hasil penyelidikan Polri, tak usah buru2 menyimpulkan. Kalau itu penganiayaan ya kita kutuk dan pelakunya hrs ditangkap. Tp kalau itu permainan ‘playing victim’ jg hrs dikutuk dan perekayasanya hrs segera diperiksa dan diproses scr hukum," ujar Mahfud. Berdasarkan keterangan dari pihak Prabowo Subianto, Ratna dihajar tiga orang 21 September yang lalu di sekitar Bandara Husein Saatranegara, Bandung, Jawa Barat. Malam itu seusai acara konfrensi dengan peserta beberapa negara asing di sebuah Hotel, Ratna naik taksi denngan peserta dari Sri Lanka dan Malaysia. "Mbak Ratna sebetulnya agak curiga saat tiba-tiba taksi dihentikan agak jauh dari keramaian. Nah saat dua temannya yang dari luar negeri turun dan berjalan menuju Bandara, Mbak Ratna ditarik tiga orang ke tempat gelap, dan dihajar habis oleh tiga orang, dan diinjak perutnya," kata Wakil Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Nanik S Deyang, Selasa (2/10/2018). Setelah dipukuli, Ratna dilempar ke pinggir jalan aspal, sehingga bagian samping kepalanya robek. Menurut pengakuan Ratna, kejadiannya sangat cepat sehingga sulit mengingat bagaimana urutan kejadiannya. "Mbak Ratna masih sedikit sadar saat dia kemudian dibopong sopir taksi dan dimasukkan ke dalam taksi. Oleh sopir taksi mbak Ratna diturunkan di pinggir jalan di daerah Cimahi. Dengan sisa-sisa tenaga, imbuh Nanik, Ratna mencari kendaraan menuju ke rumah sakit di Cimahi serta menelepon temannya seorang dokter bedah dan langsung ditangani. "Mbak Ratna malam itu juga langsung balik ke Jakarta, dan dalam situasi trauma habis dia harus berdiam diri selama 10 hari. Barulah hari Minggu lalu dia memanggil Fadli Zon ke rumahnya, dan baru semalam Fadlizon melaporkan ke Pak Prabowo, dan hari ini di suatu tempat menemui Pak Prabowo," pungkas Nanik. Namun, kabar tersebut berbanding terbalik dengan fakta yang ditemukan kepolisian di lapangan. Berikut fakta yang ditemukan polisi berdasarkan penyelidikan Polda Metro Jaya. Berdasarkan penyelidikan Polda Jabar, ditemukan bahwa tidak ada konferensi negara asing di Jabar pada tanggal 21 September 2018. Kemudian, berdasarkan hasil pengecekan 23 rumah sakit di Jawa Barat, tak ada pasien atas nama Ratna Sarumpaet. Hasil koordinasi dari pihak Bandara Husein, seperti sopir taksi, avsec, sopir rental, porter, dan tukang parkir, mereka tak mengetahui peristiwa penganiayaan Ratna Sarumpaet. Kemudian, tak terdapat manifes kedatangan atau keberangkatan penumpang atas nama Ratna Sarumpaet. Sementara, Polda Metro Jaya menyelidiki bahwa jejak Ratna dalam waktu yang disebutkan dianiaya tengah berada di Jakarta. Hal itu terlihat dari call data record dan pembayaran di sebuah rumah sakit khusus bedah plastik di Menteng, Jakarta Pusat. Tercatat dalam buku registrasi rawat inap di RS BE bahwa Ratna Sarumpaet masuk hari Jumat, 21 September 2018 pukul 17.00 WIB. Kemudian pada rekaman CCTV Ratna Sarumpaet keluar dari RS BE pada Senin, 24 September 2018 pukul 21.28 WIB dan pergi dengan menggunakan taksi Blue Bird. Kabag Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo belum mengkonfirmasi hal tersebut. "Tunggu rilis oleh Kadiv Humas, saya belum dapat info tentang paparan tersebut," kata Argo saat dikonfirmasi. (Albar)   Baca juga:Mahfud MD Minta Fadli Zon Bertanggung Jawab Atas Kasus RatnaRatna ‘Marsinah’ Sarumpaet yang Kritis terhadap Penguasa  Kasus Ratna, Fahira: Level Terendah Manusia itu Menganiaya PerempuanSudah Seminggu, Kasus Ratna Sarumpaet Baru TerungkapPolitisi PKS: Ratna Dianiaya Agar Bungkam