Jadi Ketua Kwarnas Pramuka, Buwas Bantah Ada Intervensi dari Pemerintah

Kendari, Obsessionnews.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso membantah terpilihnya dia sebagai Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke X di Kendari, Sulawesi Tenggara ada intervensi dari pemerintah melalui peran intelijen. "Saya malah nggak tahu itu dari mana. Jadi gini tadi itu pemilihan berjalan fair ya. Kalau mau membuktikan ada intervensi atau tidak tadi itu berjalan terbuka. Semua bisa menyampaikan pendapat semua. Jadi nggak itu intervensi," ujar Budi di Kendari, Jumat (28/9/2018). Buwas sapaan akrab Budi Waseso juga mengaku tidak masalah dengan statusnya yang rangkap jabatan sebagai Direktur Bulog. Justru menurutnya, dengan menjadi Ketua Kwarnas, akan memperkuat peran peran Pramuka dalam membantu ketahanan pangan. "Justru nanti menjadi kekuatan untuk menjalankan bulog. Pramuka jadi agen-agen untuk mendistribusikan Bulog. Dam jadi agen-agen ketahanan pangan," jelasnya. Sebelumnya banyak info beredar bahwa situasi Munas ke-10 Gerakan Pramuka di Kendari, Sulawesi Tenggara berlangsung tidak kondusif. Beberapa ketua Kwarda dipanggil satu per satu dan ditekan untuk mendukung Budi Waseso sebagai Calon Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka. Pemanggilan dan penekanan itu dilakukan oleh oknum-oknum yang dicurigai sebagai intel pada instansi tertentu. Beberapa Kwarda mengaku sangat tertekan karena sejak Gerakan Pramuka didirikan tahun 1961 belum pernah ada gaya intervensi dalam pemilihan seperti ini kepada Gerakan Pramuka. “Ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah Pramuka, tidak ada calon Ketua Kwarnas yang menggunakan oknum intel untuk memanggil, menekan, memaksa Kwarda untuk mendukung calon tertentu," ujar Pengurus Kwarda yang tidak mau disebutkan namanya di Kendari, Jumat Situasi ini sudah berlangsung sejak hari pertama Munas digelar. Berbagai spanduk gelap dipasang untuk menyudutkan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault. Adhyaksa Daut terus dikaitkan dengan alumni 212 dan pendukung tim sukses Prabowo-Sandiaga Uno. Spanduk ini tiba-tiba muncul di beberapa lokasi di Kota Kendari yang hingga hari ini tidak diketahui siapa aktor dan donatur di belakangnya. Para Ketua Kwarda merasa sangat terganggu dan beberapa ingin pulang karena tertekan akibat dipanggil oknum-oknum intel untuk mendukung Budi Waseso dengan dipaksa menandatangani pernyataan bermaterai dan cap jempol. Dalam Munas ini ada tiga calon yang maju. Buwas mendapatkan 19 suara, Adhyaksa Dault 14 suara, dan Jana T. Anggadiredja mendapatkan 2 suara. Total ada 35 suara. Pemilihan berlangsung voting. (Albar)





























