Di Sela-sela Bukit Cisarua, Saya Sampaikan Pesan Damai Madinah

Di Sela-sela Bukit Cisarua, Saya Sampaikan Pesan Damai Madinah
Oleh: Helmi Hidayat, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta   Ketika menulis catatan ini saya sudah berada di Indonesia, tepatnya sedang menghadap gunung hijau penuh pesona di Cisarua, Bogor. Semalam saya diminta berceramah ‘’Urgensi Toleransi Beragama di NKRI’’ di hadapan 100 lebih umat agama-agama yang hidup subur di tanah air tercinta. Kisah ini saya masukkan dalam catatan dari tanah suci karena undangan untuk ceramah ini sampai kepada saya ketika saya masih berada di Makkah, kota suci sejuta tangis yang pekan lalu saya tinggalkan. Copy undangan itu disampaikan lewat Whatsapp oleh Ridwan Rusli, Kasubdit Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta, yang saat itu juga sedang berada di Makkah. Kebetulan saya dan Ridwan sama berhaji tahun ini meski kami tak sempat bertemu di tanah suci. Saat menerima undangan itu, saya berdoa pada Allah agar bangsa Indonesia tetap bersatu di tengah perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), agar bangsa ini tidak terjatuh dalam kubangan perang saudara akibat perbedaan SARA, dan agar negara dan bangsa ini selalu dikirimkan oleh Allah SWT para pemimpin yang menyatukan perbedaan di antara kami. Doa itu penting saya panjatkan kepada Zat Penuh Kedamaian karena selama berada di tanah suci, saya juga bertemu dengan jamaah asal Afghanistan, Suriah, Libanon, Palestina, juga Irak dan Mesir. Mereka adalah orang-orang penuh penderitaan karena negara mereka, terutama Suriah, luluh lantak akibat perang saudara yang dipicu oleh kesalahpahaman atas perbedaan SARA. Para pemimpin dan elit politik mereka tak pandai merawat perbedaan itu lalu masuk dan terperosok terlalu jauh dalam jurang perbedaan itu sendiri. Akibatnya sesama anak bangsa saling bunuh saling tikam, lalu jutaan anak bangsa lainnya dengan menderita lari mengungsi ke luar negeri meninggalkan tanah air yang semula damai sentosa. Karena itu wajar jika di sela-sela doa itu, saya membuka lebar-lebar ruang syukur di dada saya pada Allah bahwa saya dipertemukan dengan orang-orang semacam Ridwan Rusli. Di tengah kesibukannya beribadah di tanah suci, ia masih menyempatkan waktu memikirkan bangsanya yang penuh mosaik, bangsa yang penuh pernik-pernik perbedaan SARA, dengan menyelenggarakan acara yang semalam saya jadi narasumbernya. Tujuan ibadah haji adalah agar seseorang mendapatkan ‘’al-birr’’ (kebaikan) dan haji yang penuh kebaikan disebut ‘’mabrur’’. Memikirkan persatuan dan kesatuan bangsa dari jarak ribuan kilometer, tak pelak lagi, adalah ‘’al-birr’’ itu sendiri. Syukur berikutnya adalah bahwa sejak lima tahun terakhir dan sampai saat ini, Allah mengizinkan saya terlibat dalam pelatihan, diskusi, atau seminar seputar kerukunan umat beragama. Saya selalu diminta menjadi narasumber. Mereka yang hadir rata-rata aktif dalam organisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan didatangkan dari delapan penjuru Jakarta. Para peserta diminta menginap di Cisarua selama empat atau lima hari untuk mendengarkan aneka ceramah dan motivasi hidup rukun di tengah perbedaan. Semalam, misalnya, sebelum tampil sebagai narasumber, saya menyaksikan sendiri bagaimana Taufan Bakri, Plt. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemda Prov, DKI Jakarta, berbicara berapi-api tentang pentingnya warga Jakarta hidup rukun di tengah perbedaan SARA. Inti ceramahnya adalah pesan yang sangat kuat bahwa pertikaian akibat perbedaan adalah ketololan yang berujung pada penderitaan. Di hari itu saya tahu, Taufan bukan hanya membuka forum yang saya hadiri semalam, tapi juga menjadi pembicara di beberapa acara serupa di kawasan Puncak, Bogor. Ia terlihat letih, apa yang ia kerjakan tak berjejak, tapi urgensinya buat keutuhan bangsa sangat luar biasa. Sesunguhnya, pelatihan dan konsolidasi batin serupa ini tak hanya dilakukan oleh Kesbangpol tingkat provinsi, tapi juga oleh level yang lebih bawah di kantor-kantor Pemkot. Saya kerap diundang oleh Kesbangpol Pemkot Jakarta Utara dan Kanwil Kemenag Jakarta yang rajin menyelenggarakan acara serupa ini. Di Jakarta Utara saya kenal ustaz Abi Ikhwanuddin, pendeta Maringan, serta tokoh-tokoh agamawan lain yang rajin merawat perbedaan SARA di tengah komunitas mereka. Abi bahkan menjabat sekretaris MUI Jakarta Utara. Tapi ia tak segan-segan masuk dan keluar gang sempit di permukiman kumuh Jakarta Utara melakukan konsolidasi sosial-politik ketika terjadi ketegangan sosial. Itu ia lakukan secara akrab dan familiar bersama kawan-kawannya sesama pemuka agama lain di lingkungan mereka. Saya yakin, semua Pemda dan Kanwil Kemenag di Indonesia, dengan jejaring di bawah mereka, melakukan hal yang sama. Inilah yang diam-diam membuat Indonesia berbeda dengan Afghanistan dan Suriah serta negara-negara lain yang hancur akibat perbedaan suku dan agama. Di tengah kedamaian yang tampak sejuk di permukaan sekam, sebagai bangsa kita tak boleh abai siapa tahu ada ancaman api pertikaian di bawah butir-butir sekam itu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan berkoba ke mana-mana. Pernah suatu ketika, istri saya menyetir mobil mengantar saya memenuhi undangan ustaz Abi dan kawan-kawannya di Jakarta Utara. Dengan mengikuti arahan Googlemaps, istri saya membelokkan mobil kami ke sebuah gedung. Tapi, betapa terkejutnya dia begitu sampai di halaman gedung itu, ternyata ia adalah sebuah gereja. ‘’Pa, enggak salah nih, papa ceramah di gereja?’’ katanya penasaran. ‘’Ya memang saya akan ceramah di gereja,’’ kata saya santai. ‘’Tidak apa-apa kan? Tuh ada ustaz Abi dan ustaz-ustaz lain sudah menunggu,’’ lanjut saya sambil menunjuk beberapa lelaki yang tersenyum menunggu kehadiran saya. Benar, di hari ketika saya berceramah di gereja itu, juga semalam di Cisarua, saya menyampaikan nilai-nilai baik yang dibawa oleh semua agama. Tapi sebagai Muslim, tentu saja saya akan lebih banyak menyampaikan warna agama yang lebih dominan dalam pikiran saya. Maka di gereja itu dan di forum Cisarua semalam, saya lebih banyak bercerita tentang Rasulullah Muhammad SAW yang hidup damai bersama Yahudi, Nashrani, Majusi, juga Shabiin di Yatsrib – distrik kecil yang nantinya berubah nama jadi Al-Madinah Al-Munawwarah atau Enlightening Civilization. Saya ceritakan kepada mereka betapa Nabi SAW mengizinkan para pendeta dari Najran shalat di Masjid Nabawi ... Saya kisahkan bagaimana Rasulullah yang agung itu sengaja berdiri padahal saat itu beliau sedang duduk berceramah ketika iring-iringan jenazah seorang Yahudi lewat tak jauh dari majlis taklim yang beliau gelar untuk menghormati jenazah Yahudi itu ... Saya ungkapkan kendati Thu'mah adalah seorang keturunan Arab dan beragama Islam tapi Nabi SAW tetap menghukumnya ketika ia kedapatan mencuri baju perang ... Saya dendangkan lagu perdamaian agama-agama karena Al-Quran yang saya yakini dan kehidupan Rasulullah SAW yang saya teladani banyak mengajarkan dan menyampaikan pesan-pesan perdamaian itu. Bukan agama jika ia memerintahkan pengikutnya membuat kerusakan di muka Bumi ... Saya sampaikan bahwa nabi pertama adalah Adam alaihissalam, lalu setelahnya Allah utus nabi-nabi yang banyak di tempat-tempat yang berbeda dengan misi yang sama yakni keesaan Allah. Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW banyak menyebut nama Adam, sebanyak buku suci ini menyebut Ibrahim, Ismail, Daud, Musa dan Isa alaihimussalam. Saya sadar tak semua kawan saya dari kalangan Muslim setuju dengan cara dakwah yang saya lakukan, tapi cara ini akan terus saya lakukan. Sekali saya yakin Allah itu ada meski Zat Maha Anggun itu belum pernah saya lihat, keyakinan itu akan terus terpatri di dada saya, apa pun yang terjadi. Maka, jika cara dakwah ini saya yakini benar, saya tak mau peduli jika satu atau dua kawan saya dari pengurus masjid tertentu tak lagi mengundang saya ceramah atau khutbah. Jika saya berceramah dengan tujuan merawat perbedaan demi terwujudnya persatuan dan kesatuan, maka saya pun harus siap dengan perbedaan yang harus saya hadapi dengan jalur dakwah yang saya tekuni. Saat saya menulis catatan ini, pohon-pohon di bukit-bukit dan gunung-gunung di Cisarua itu terus bergoyang. Thaif di Arab Saudi yang pernah saya kunjungi indah, tapi Cisarua dan Indonesia jauh lebih indah. Saya tak mau negeri indah tempat saya dilahirkan ini porak-poranda akibat perang saudara gara-gara perbedaan pendapat yang tidak perlu. Untuk Indonesia tercinta, saya tak akan berhenti menyampaikan pesan-pesan damai al-Madinah al-Munawwarah, insya Allah sampai Izrail sambil tersenyum datang lalu duduk di samping saya.