Yaman Terus Memburuk, Lima Juta Anak Sekarat Akibat Kelaparan

Yaman Terus Memburuk, Lima Juta Anak Sekarat Akibat Kelaparan
Hodeidah, Obsesionnews – Satu negeri di antara pertemuan Laut Merah dan Teluk Aden, nasibnya tak juga membaik setelah remuk-redam dihajar konflik bertahun-tahun. Hari ke hari tak pernah lagi ada kabar baik, negeri itu makin terpuruk di antara laju negara-negara berkembang yang makin melesat termasuk Indonesia. Negeri itu bernama Yaman. Memasuki pertengahan September 2018, kabar buruk kembali datang dari Yaman. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengirimkan laporan terbaru tentang Yaman. Laporan itu menyebut dua pertiga dari populasi Yaman atau sekitar 64,5 persen dari seluruh populasi Yaman berada dalam kondisi kelaparan. Laporan itu menyimpulkan bahwa, dua pertiga dari populasi Yaman tak tahu bakal mendapat makanan dari mana di hari berikutnya. Tahun 2016 lalu, populasi Yaman ada di angka 27,58 juta penduduk. Kabar lebih buruk lagi, anak-anak Yaman tengah mengalami kondisi paling buruknya akibat perang yang tak kunjung usai. Rangkuman data terbaru dari sejumlah lembaga kemanusiaan internasional menuliskan, setidaknya ada lima juta anak-anak Yaman berada dalam kondisi sekarat akibat kelaparan. Lapar yang diakibatkan karena harga-harga makanan dan minyak di Yaman melonjak tak bisa dikendalikan. Sementara perang sudah membuat jutaan kepala keluarga di Yaman tak punya pekerjaan. Pelabuhan Hodeidah, pintu masuk satu-satunya untuk Yaman Apa jadinya kalau negara benar-benar terisolasi? Seperti apa yang tengah terjadi Gaza Palestina, Yaman pun tengah menghadapi nasib serupa. Tidak ada bandara yang bisa didarati pesawat di Yaman. Seluruh penerbangan internasional dari dan menuju ke Yaman pun sudah lama menutup rutenya. Konflik sejak tahun 2015 silam telah menghancurkan bandara-bandara inti yang berada di Yaman, khususnya bandara di dua kota utama yang menjadi pusaran konflik, Kota Sanaa dan Kota Aden. Satu-satunya pintu masuk adalah Pelabuhan Hodeidah (Al Hudaydah) di ujung barat Yaman, pelabuhan yang menghadap langsung ke Laut Merah. Hanya Pelabuhan Hodeidah inilah satu-satunya pintu masuk komersial untuk memasok bahan-bahan pangan, termasuk bantuan kemanusiaan untuk Yaman. Namun, hal yang ditakutkan pun terjadi. Melansir laman Kantor Berita Al-Jazeera, dikutip dari siaran pers ACT, Kamis (20/9/2018) beberapa pekan terakhir pusat konflik justru sedang terjadi di Hodeidah. Operasi militer antara pihak-pihak yang berseteru terjadi di Hodeidah, salah satu targetnya adalah mengambil alih dan menguasai pelabuhan. Konflik tak kunjung berakhir, ekonomi juga ikut kolaps. Sejak perang sipil dimulai di Yaman tahun 2015 silam, harga makanan dan bahan pokok telah melambung hingga 68 persen. Riyal Yaman mata uang yang digunakan telah mengalami depresiasi atau pelemahan hingga mencapai 180%. Al-Jazeera melaporkan, harga bahan bakar bahkan telah meningkat sampai 25 persen sejak November tahun lalu sampai September 2018. Setahun lalu, November 2017 masih tersimpan rapi dokumentasi mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang berbasis di Kota Hiran, Yaman. Hiran adalah sebuah kota kecil berjarak 260 kilometer dari Sanaa. Hiran menjadi salah satu lokasi penampungan pengungsi internal yang lari dari perang di Aden dan Sanaa. November 2017 tahun lalu mitra ACT di Yaman berhasil membawa sejumlah bantuan pangan untuk Yaman. Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response ACT mengatakan, Insya Allah beberapa tahap bantuan pangan lanjutan bakal dikirimkan lagi untuk Yaman. “Akses mendistribusikan bantuan di Yaman masih sangat sulit. Tapi kami akan terus berikhtiar kirimkan bantuan untuk Yaman. Terakhir, mitra ACT di Yaman mendistribusikan amanah Global Qurban di bulan Agustus 2018 lalu,” ujar Faradiba. (Vina)