Neneng Goenadi, Perempuan berkarier Cemerlang

Neneng adalah satu dari sekian perempuan Indonesia yang berkarier cemerlang. Dia membuktikan eksekutif senior perempuan yang ulet dalam mengatasi tantangan daripada pria di bidang konsultan keuangan berskala global.
Jakarta, Obsessionnews.com - Predikat sebagai country managing director wanita pertama di Accenture Indonesia melekat kuat pada diri Neneng Goenadi. Lulusan dari Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung pada 1987 ini pernah menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Setelah menyandang gelar MBA dari Cleveland State University pada 1990, dia kemudian bergabung dengan Accenture Indonesia, yang pada saat itu bernama Anderson Consulting. Selama dua tahun mengawali karier sebagai junior analis, dia pun dipromosikan menjadi konsultan. Kariernya terus menanjak, sehingga menjabat sebagai manajer. Dia berperan sebagai head of inclusion and diversity Asia Pasific untuk industri resources, head of human capital and diversity ASEAN, bagian dari CEO advisory global. Ibu satu anak perempuan ini mengaku dan bersyukur sang suami turut mendukung kemajuan kariernya di dunia konsultan. Keuletan Neneng pun berbuah manis. Menurutnya, semua yang telah dicapai saat ini tidak diperolehnya secara instan. Dia menilai menggunakan cara cepat meraih puncak karier akan membawa sisi negatif dibandingkan positif. Dia menerapkan hubungan seperti teman kepada para bawahannya tanpa ada batas atau tembok penghalang. Untuk membangun kedekatan, dia seringkali mengadakan hangout bersama atau meluangkan waktu untuk sharing dan diskusi. Dia pun tak pernah segan berbagi ilmu dengan mereka. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh sang ayah yang menjadi pegangannya, ilmu adalah modal utama dalam hidup. “Jika menjalani hidup tanpa ilmu, apapun yang kita miliki akan sia-sia. Jika hanya berorientasi materi, maka hanya itu yang kita dapatkan. Sedangkan bila mengandalkan ilmu pengetahuan dan membagikannya maka akan berguna di mana pun seseorang berada. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman saya,” ujarnya. Selain menjaga filosofi kerja, Neneng pun sangat terbuka dengan inovasi yang berkembang saat ini, salah satunya teknologi digital. Perusahaan jasa profesional global yang bergerak di bidang layanan konsultasi, digital, teknologi dan operasi, menemukan adanya lima tren pada transformasi digital di bidang migas. Salah satunya adalah, kurangnya investasi di bidang digital terbukti meningkatkan risiko perusahaan. Hal itu pun sejalan dengan isi laporan Accenture Technology Vision 2018 yang memuat paparan teknologi virtual dan augmented reality secara signifikan mengubah cara hidup dan pekerjaan masyarakat dengan semakin hilangnya jarak terhadap pelanggan, informasi maupun pengalaman. Selain fasih soal penerapan teknologi digital dalam bisnis, dia juga aktif dalam pemberdayaan perempuan, misalnya Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE). Dalam laporan bertajuk ‘Getting to Equal 2018’, Neneng memaparkan bahwa budaya perusahaan yang peduli terhadap kemajuan pekerja perempuan juga akan meningkatkan poin keberhasilan pekerja kaum laki-laki. “Kami melihat bahwa riset ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa pembentukan budaya perusahaan yang tepat adalah dukungan penting untuk mencapai kesetaraan gender. Program bukanlah faktor utama, namun manusialah yang mampu menciptakan perusahaan inklusif dengan keragaman di dalamnya,” imbuhnya. (Angie Diyya) Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2018




























