Amsal Ungkap Tiga Cara Jaga Kerukunan Umat di Papua

Jakarta, Obsessionnews.com- Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah sebanyak madu, adalah harta harapan. Demikian syair lagu "Tanah Papua" yang dipopulerkan penyanyi Edo Kondologit. Tak berlebihan bila Papua dianggap surga kecil yang jatuh ke bumi. Kekayaan alam yang melimpah dan terbentang indah di tanah Papua, makin lengkap dengan kerukunan warga yang terdiri dari berbagai macam latar belakang suku dan agama. Demikian penuturan Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua Amsal Yowei di kantor Kemenag RI, Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta. Jumat (7/9/2018) Dalam kesempatan tersebut putra Papua ini berbagi pengalaman tentang tiga cara yang ia lakukan demi menjaga kerukunan umat beragama di Papua. Ya, sebagai aparatur sipil negara (ASN) Kemenag Amsal memang memiliki tugas menjadi penjaga kerukunan umat beragama di Papua. "Selama tiga puluh tahun saya menjadi pegawai Kementerian Agama, tentu saja saya menyaksikan sendiri keunikan kerukunan umat beragama yang ada di tanah Papua," tutur Amsal seperti dikutip Obsessionnews.com dari situs Kemenag, Senin (17/9). Amsal mengungkapkan, kerukunan umat beragama di tanah Papua terjalin dengan sangat baik. Hal ini menurutnya karena terdapat tiga cara yang telah dilakukan untuk menjaga kerukunan di Papua. Pertama, kerukunan umat beragama di Papua tercipta karena adanya peran serta dari pemerintah daerah setempat. “Kanwil Kemenag Papua melakukan kerja sama dengan semua unsur di pemda Papua, untuk membangun kesadaran pentingnya kerukunan umat beragama di Papua,” papar Amsal. Kesadaran ini, menurutnya, menjadikan seluruh aparat pemerintahan di Papua memberikan pelayanan kepada seluruh warga Papua dengan sepenuh hati, tanpa melihat latar belakang agama. “Terutama kami yang ada di Kanwil Kemenag Papua. Kami memberikan pelayanan kepada seluruh penduduk, apa pun agamanya. Memberikan pelayanan serta memenuhi kebutuhan mereka adalah kewajiban kami,” tandasnya. Hal kedua yang dilakukan Kepala Kanwil Kemenag Papua yang baru dilantik Juli 2018 lalu ini adalah melakukan aktivasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Di Papua, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen ini, sering kali melakukan dialog maupun diskusi lintas agama untuk memecahkan masalah bersama. “Di sini, bila ada perselisihan umat, maka penyelesaiannya ada di FKUB,” jelas Amsal. Menurutnya, FKUB adalah lembaga konsultatif yang bertugas untuk mencari solusi untuk setiap permasalahan kerukunan umat beragama. Dan saat ini FKUB Provinsi Papua telah menjalankan tugasnya dengan cukup baik. Ia pun mencontohkan peristiwa pembangunan menara masjid Al-Aqsa di Sentani, Jayapura. Masalah yang terjadi pada pembangunan menara masjid tersebut dapat diselesaikan dengan baik berkat adanya komunikasi dan koordinasi yang baik para pemuka agama maupun pemerintah daerah di FKUB Provinsi Papua. Cara ketiga yang dilakukan Amsal Yowei dalam menjaga kerukunan umat beragama di Papua adalah dengan mencintai pekerjaannya sebagai ASN Kemenag. “Pertama, kita sebagai ASN Kemenag harus mencintai pekerjaan kita. Ini agar kita dapat sepenuh hati melayani seluruh umat yang ada di tanah Papua,” tutur magister pendidikan agama Kristen ini. Bukan hanya kemajemukan suku dan agama yang ada di Papua saja yang menuntut tiap ASN Kemenag di Papua harus mencintai pekerjaannya sepenuh hati. “Papua ini unik. Daerahnya tidak semuanya mudah dijangkau. Tapi tiap ASN Kemenag harus ingat, umat yang harus kita layani ada di pelosok-pelosok, bahkan di daerah yang masih sulit dijangkau dengan kendaraan. Bila tak ada rasa cinta, pasti berat untuk melakukan pelayanan. Bila sebagian umat merasa tidak dilayani, ini bahaya,” tutur Amsal yang juga pernah menjadi penyuluh Bimas Kristen ini. Belum lagi lokasi provinsi Papua juga berbatasan dengan negara-negara tetangga. Hal ini tentu juga menjadi perhatian dari Kemenag terkait pelaksanaan kehidupan keagaaman. Tak jarang demi memantau langsung kehidupan beragama di pelosok Papua, Amsal yang sempat sembilan tahun memimpin Kankemenag Kabupaten Yapen ini terpaksa merelakan waktu kebersamaannya dengan keluarga. “Apalagi semenjak menjadi Kakanwil, saya merasa bertanggung jawab untuk melihat langsung masyarakat saya. Terkadang ada rasa sedih, karena dalam seminggu paling hanya sehari bertemu dengan keluarga,” ujar ayah empat anak ini dengan mata berkaca-kaca. Namun, hal ini tak menyurutkan langkah Amsal. Baginya, kehidupan harmonis masyarakat Papua ada di pundaknya. Dan tanggung jawab ini ia lakukan sepenuh hati dengan penuh cinta. “Saya yakin dan percaya bahwa Papua adalah miniatur Indonesia yang senantiasa mencanangkan kebersamaan, persatuan dan kesatuan yang memang ada di atas tanah ini,” ujarnya. (red/arh) Baca juga:Sejarah Buktikan Papua adalah Indonesia Sejak 17 Agustus 1945Demokrat Pusing, 90% Pengurus DPD-DPC Papua Dukung JokowiGubernur Papua: 3 Juta Suara Papua untuk JokowiDekati Pilpres, 2 Juta Warga Papua Belum Punya e-KTPPapua Sudah Siap Jadi Tuan Rumah PON 2020





























