Fathema Kedepankan Revitalisasi Infrastruktur dan Layanan Berbasis Digital

Fathema Kedepankan Revitalisasi Infrastruktur dan Layanan Berbasis Digital

Memimpin rumah sakit berusia 100 tahun merupakan amanah sekaligus tantangan bagi Fathema, agar rumah sakitnya tetap eksis di masa sekarang. Sebagai direktur utama, dia berjibaku mengedepankan revitalisasi infrastruktur dan layanan berbasis digital.

Jakarta, Obsessionnews.com - Selama hampir tiga tahun menjabat Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Pelni, DR dr Fathema Djan Rachmat terbilang sukses menorehkan wajah baru di dunia layanan kesehatan. Bukan sekadar menjadi pusat rujukan masyarakat dengan perkembangan inovasi, RS Pelni juga bisa menjadi rumah sakit lebih berkelas dengan pelayanan prima. “RS Pelni akan terus mengembangkan layanan diiringi peningkatan kapasitas dan kompetensi rumah sakit menjadi Royal Pelni Hospital,” ujarnya dalam suatu wawancara. Sejak program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dijalankan mulai 1 Januari 2014, RS Pelni sudah langsung menjadi provider BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara program JKN. Sempat kewalahan menerima pasien yang setiap hari membludak, namun kondisi tersebut malah memicu Fathema untuk membuat formula baru menyangkut layanan prima di rumah sakit. Salah satunya menghadirkan ‘one stop service’ di klinik heritage sebagai upaya memberikan kecepatan pelayanan dan kenyamanan kepada pasien. Masyarakat yang memegang kartu mandiri in health dapat mengakses RS Pelni 24 jam, karena telah tersedia aplikasi khusus, terutama untuk kondisi elektif maupun darurat supaya dapat tertangani dengan optimal. “Semua pelayanan mulai dari pendaftaran sampai dengan mendapat obat atau pemeriksaan didukung oleh peralatan teknologi canggih, sehingga tidak memerlukan waktu lama untukmendapatkan pelayanan berkualitas,” papar Fathema. Di bawah kepemimpinan wanita yang juga sempat menjadi Komisaris Utama sekaligus dokter bedah thoraks kardiovaskular, Rumah Sakit Jantung Jakarta ini, proses pendaftaran dipangkas menjadi hitungan menit dengan penggunaan sistem berbasis elektronik. RS Pelni juga mengembangkan sedikitnya 53 perangkat lunak untuk layanan berbagai sistem pada pertengahan 2017. Tersedia pula anjungan mandiri untuk pasien BPJS maupun non-BPJS melakukan pendaftaran, mengecek ketersediaan unit kamar, hingga memilih dokter spesialis. Agar tidak ada pasien yang yang ditolak rumah sakit akibat keterbatasan biaya. Sejak adanya inovasi tersebut, sebanyak 60% pasien rawat jalan merupakan peserta BPJS. Sementara itu, untuk pasien rawat inap mencapai 82% pemegang kartu BPJS. Kerja kerasnya dan tim berbuah apresiasi positif. Antara lain di akhir tahun 2017 memboyong dua penghargaan di ajang Indonesian Quality Award 2017 dalam kategori Good Performance dan Gold Growth Achievement Performance Baldrige Excellent Framework. Selain itu, perkembangan dan kesuksesan pengaplikasian teknologi menuai penghargaan dalam event TOP IT & Telco Awards 2017 sebagai TOP IT Implementation on BUMN Hospital 2017. Selaku direktur utama dia juga diganjar penghargaan TOP IT Leadership 2017 di acara yang sama. Berkat kredibilitasnya memimpin RS Pelni, dia termasuk peraih Anugerah Apresiasi Karya Alumni Universitas Indonesia awal 2018 ini, almamaternya menilai sosoknya termasuk yang berkontribusi nyata untuk bangsa Indonesia. (Indah Kurniasih) Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2018