Yogyakarta, Obsessionnews.com - – Sebanyak seratus dai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti Orientasi Dai Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) di Gedung Pertemuan Komplek Balaikota Timoho, Yogyakarta, Minggu (2/9/2018). Dikutip Obsessionnews.com dari situs muslimobsession.com, Senin (3/9), dalam kesempatan itu Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) DIY Ma’sum Amrullah berharap dai Parmusi dapat menyatukan umat, seperti tagline-nya “connecting muslim”, tanpa mempermasalahkan masalah perbedaan ‘ubudiyyah. “Semoga ini jadi momentum awal kebangkitan Islam. Bersama Parmusi para dai dapat menyatukan umat Islam, karena connecting muslim tidak membedakan apa latar belakangnya,” ujar Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) DIY Ma’sum Amrullah dalam sambutannya. Ma’sum menegaskan, menjadi dai Parmusi mesti memiliki prinsip. Adapun prinsip yang paling dasar adalah keikhlasan. “Prinsip kita menjadi dai Parmusi adalah jangan berharap pada pemberian orang. Cukuplah kepada Allah saja kita berharap,” kata Ma’sum. Pernyataan Ma’sum diamini Ketua Umum PP Parmusi H. Usamah Hisyam. Ia pun menekankan pentingnya para dai untuk berdakwah dengan keikhlasan tidak berharap diberi, bahkan sebaliknya harus memberi. “Antum semua harus berdakwah dengan prinsip dakwah zaman now. Apa itu? Dakwah zaman now adalah keikhlasan berdakwah, tidak berharap diberi malah harusnya memberi. Dengan prinsip ini, insya Allah pintu-pintu kemudahan akan terbuka,” tutur Usamah dalam arahannya.
Ketua Umum PP Parmusi, H. Usamah Hisyam saat memberikan pengarahan dalam Orientasi Dai Parmusi DIY, Ahad (2/9/2018). Orientasi Dai Parmusi digelar dalam rangka pembekalan sebelum para dai mengikuti Jambore Nasional Dai Parmusi yang akan di Gunung Gede Pangrango, Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, pada 24-27 September 2018. Jambore Nasional rencananya akan dihadiri 5.000 dai Parmusi dari seluruh Indonesia. Gelaran ini akan menjadi momentum perubahan paradigma Parmusi dari political oriented menjadi dakwah oriented. Usamah memaparkan, para dai Parmusi ini nantinya akan bergelut berdakwah di daerah asalnya dengan manhaj Desa Madani, dimana para dai akan berdakwah dalam rangka mensejahterakan warga masyarakat, khususnya umat Islam di berbagai pelosok tanah air. Kesejahteraan itu, menurutnya, bukan saja melalui upaya peningkatan iman dan takwa, membangun kemandirian ekonomi, pemberdayaan sosial, kualitas pendidikan, tetapi juga rasa aman dan nyaman warga di seluruh pelosok tanah air dengan menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). “Program Desa Madani ini adalah sebuah manhaj atau jalan atau metode dakwah yang dirancang untuk menjawab peluang, tantangan dan problematika dakwah dalam rangka membentengi akidah umat Islam Indonesia di berbagai daerah. Para dai Parmusi nantinya diharapkan dapat berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat setempat dan keamanan lingkungan,” tegasnya. (Hilmi/Fath/arh)