Penny Kusumastuti Lukito Catat Sejarah Kaum Hawa di Badan POM

Penny Kusumastuti Lukito Catat Sejarah Kaum Hawa di Badan POM

Memasuki tahun kedua masa bakti Penny Kusumastuti Lukito di Badan POM, garis komando dan arahannya jelas untuk melayani dan melindungi masyarakat maupun meningkatkan daya saing para pelaku industri obat dan makanan legal.

Jakarta, Obsessionnews.com - Keterpilihan Penny mengomandoi Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) pada 2016 terbilang mencatatkan sejarah bagi kaum Hawa. Yakni perempuan pemimpin pertama di luar kalangan Badan POM. Komitmennya dalam memimpin sangat jelas, yakni memperkuat Badan POM sebagai institusi yang benar-benar melayani dan melindungi semua elemen. “Pengawasan obat dan makanan tidak hanya dilihat dari aspek kesehatan, tetapi juga berdampak luas terhadap sisi ketahanan bangsa maupun daya saing produk di dalam maupun luar negeri,” ungkap perempuan kelahiran 9 November 1963 ini. Dengan garis komando tersebut, dia menghimpun seluruh karyawan dengan corporate value solid, loyal, tangguh, dan pantang menyerah. Ditekankan pula sikap leadership yang inovatif, berani mengambil risiko, dan keterbukaan. Dia juga menerapkan evaluasi kinerja pimpinan dalam tenggat waktu 3 hingga 12 bulan. Secara lugas, dia menyatakan salah satu tantangan mengepalai Badan POM terletak pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari segi kualitas maupun jumlah. Oleh karena itu, Penny mendorong lahirnya kemitraan dengan stakeholders lain, seperti sinergi dengan Kepolisian, Kejaksaan Agung, dan Badan Intelijen Negara dalam pembentukan Deputi Bidang Penindakan. Oktober 2017 Badan POM meluncurkan Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat yang diresmikan oleh Presiden Jokowi yang melibatkan banyak Kementerian/Lembaga. Badan POM juga menggalakkan Gerakan Masyarakat Gema Sapa (GMGS) untuk memberdayakan masyarakat aktif dalam pengawasan obat dan makanan melaui perkuatan jalinan dengan institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, seperti kepramukaan. Dari sisi payung hukum, UU Pengawasan Obat dan Makanan kini sedang berproses di DPR. Dia pun menguntai harapan segera rampung dan tidak terpengaruh dengan tahun politik. Ketika ditelusuri soal lingkup Badan POM, tidak hanya berkutat soal pengawasan dari hulu ke hilir, tetapi turut berperan dalam mendampingi dan memfasilitasi pelaku usaha terutama UMKM. “Badan POM memiliki Program Terpadu Lintas 8 Kementerian/Lembaga untuk Peningkatan UMKM Obat, Obat Tradisional, Kosmetik, dan Pangan Berdaya Saing,” tukasnya. Peningkatan daya saing produk nasional juga dilakukan melalui percepatan pendaftaran produk dengan registrasi online. Langkah terbaru Badan POM untuk lebih intensif dan dekat dengan masyarakat dalam melayani dan melindungi, pada TA 2018 dibangun 40 Balai POM di Kota/Kabupaten untuk memperkuat Balai POM yang ada di 34 Ibukota provinsi. Penggunaan teknologi informasi pun terus diperkuat dengan membangun Command Center untuk data analisis dan transparansi. Sepak terjang Badan POM juga sudah terbukti di level mancanegara. Barubaru ini Badan POM mendapat pengakuan dari WHO sebagai lembaga yang terkualifikasi, bermutu dengan jaminan sistem pengawasan produk vaksin yang baik dan andal sesuai standar internasional (WHO). Selain itu, Indonesia melalui Badan POM menjadi tuan rumah pertemuan pertama kepala otoritas obat negara-negara anggota OKI pada November nanti. Penny berharap komitmen kebersamaan terus lestari dalam bekerja. Selaras dengan harapannya di usia 73 tahun Indonesia, kesatuan dalam membangun bangsa, tanpa ego sektoral dan konflik kepentingan. (Silvy Riana Putri) Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2018