Penguatan Kapabilitas Keuangan Jadi Fokus Utama Nilawati Djuanda

Penguatan Kapabilitas Keuangan Jadi Fokus Utama Nilawati Djuanda
Jakarta, Obsessionnews.com - Berkarier di industri telekomunikasi selama lebih dari tiga dekade, tak menyurutkan Nilawati Djuanda untuk menghidupkan kembali perseroannya menjadi prime mover industri Tanah Air. Karier Nila di dunia telekomunikasi memasuki tahun ke-33. Berbekal pengalaman tersebut, dia memacu diri agar PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) (Persero) leading di industri telekomunikasi dan bisa kembali menjadi prime mover industri dalam negeri. Memasuki tahun keempat masa baktinya sebagai direktur keuangan PT INTI yang memegang fungsi corporate finance, human capital management and quality, serta information technology, dia terus berbenah. “Dari porsi saya, penguatan kapabilitas keuangan terutama untuk mendukung pencapaian target tahun berjalan, masih menjadi fokus utama. Hal itu di antaranya dengan mencari sumber pendanaan yang terbuka, menjaga perputaran modal kerja dan mendorong recurring business, melakukan cost reduction dalam sektor operasional, dan memperketat manajemen risiko di berbagai bidang, khususnya pada proyek yang menyedot alokasi modal besar,” papar perempuan kelahiran 29 September 1960 ini. Dari sisi sumber daya manusia (SDM), dibuat sebuah konsep Giving Back to Employee untuk mendongkrak performansi semua level karyawan melalui program performal based insentive, salary adjustment, maupun penyempurnaan fasilitas. Secara psikologis, langkah ini meningkatkan performansi karyawan, produktivitas perusahaan, sekaligus bentuk penghargaan atas kerja keras tim yang berhasil membawa perusahaan masuk ke zona positif. Dari sebelumnya merugi Rp316,2 miliar, di tahun 2017 mulai meraih laba Rp6,6 miliar. Terkait pertumbuhan di tahun ini, kondisi perseroan masih dalam posisi mengamankan di zona positif. Hingga pertengahan tahun 2018, tetap fokus mencapai target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2018. Dari segi pendapatan, sejumlah proyek masih berstatus on going, proses tender masih berjalan, dan proyek multiyear recurring menunggu berita acara serah terima pekerjaan. Penjualan product genuine dengan customized solution juga turut didorong. Diperkuat pula tata kelola BUMN, efisiensi operasional, hingga kualitas sumber daya manusia. Sektor manufaktur perseroan akan dihidupkan kembali melalui penyelesaian Smart Industrial Park. Area produksi terintegrasi dan modern seluas delapan hektar yang siap memfasilitasi produksi berbagai product genuine PT INTI dan area produksi karya inovatif milik anak dan cucu perusahaan. Seperti INTIPay, INTI Converter Kit, INTI Gas Meter, Set Top Box, hingga Fiber Optik. Bahkan, PT INTI (Persero) siap merevitalisasi RND Center dengan menggandeng perusahaan strategis, seperti ZTE, Hughes System, dan Sharp Jepang. Ketika disinggung harapan sebagai pemimpin dari BUMN di usia 73 tahun Indonesia, dia mengurai ingin kembali menjadi market leader di industri telekomunikasi dan berharap dengan program Nawacita keberpihakan pemerintah terulang lagi di industri telekomunikasi nasional kemudian regional. “Di era perdagangan bebas, tantangan dan peluang bagi industri telekomunikasi tidaklah mudah. Oleh karena itu, selain terus meningkatnya kapasitas perusahaan dalam segala bidang, juga diperlukan dukungan regulasi, insentif fiskal, maupun nonfiskal dari pemerintah. Butuh sokongan mulai dari hulu ke hilir sebagai ecosystem pembentuk kemandirian industri telekomunikasi,” tegas peraih Satya Lencana Pembangunan di tahun 2015. (Silvy Riana Putri) Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2018