In Memorium Moh Slamat Anwar: Karakter Pejabat Berintegritas

Oleh: M. Fuad Nasar, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam Kemenag RI Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Moh.Slamat Anwar salah satu tokoh panutan Kementerian Agama meninggal dunia Rabu 15 Agustus 2018 pukul 18.53 WIB pada usia 85 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo Jakarta hari Kamis (16/8) siang. Semasa hidup almarhum pernah mengemban berbagai jabatan, terakhir Inspektur Jenderal Kementerian Agama. Sebelum shalat jenazah di Masjid Darul Muttaqin Komplek Perumahan Pegawai Departemen Agama di Cengkareng Jakarta Barat, Pak Ahmad Gozali meminta saya menyampaikan sambutan perpisahan untuk almarhum, setelah sambutan Pak Gozali mewakili keluarga besar pensiunan Kementerian Agama. Dalam pidato di depan keranda jenazah, saya mengenang sosok almarhum sebagai sesepuh Kementerian Agama yang berintegritas, jujur, bersahaja dan rendah hati. Pesan Pak Slamat yang tak bisa saya lupakan ialah beragama bukan hanya saat berada di masjid, tetapi juga di kantor, di pasar, di jalan dan mana saja berada. Saya secara pribadi mengenal Pak Slamat sejak tahun 1994. Saat itu saya meminta Kata Sambutan Menteri Agama Dr. H. Tarmizi Taher untuk buku biografi dan pemikiran almarhum Bapak H.S.M. Nasaruddin Latif. Staf sekretariat menteri mengarahkan saya agar menghubungi Pak Slamat Anwar. Pertama kali saya bertemu Pak Slamat di lantai dua Gedung Kementerian Agama Jalan Lapangan Banteng Barat No 3-4 Jakarta. Pak Slamat menempati ruang kerja berdampingan dengan staf ahli menteri agama. Ketika itu beliau sudah purnabakti dari jabatan struktural eselon satu. Menteri Agama Tarmizi Taher menghormati Pak Slamat sebagai sesepuh Kementerian Agama. Dalam sebuah acara resmi yang saya hadir, menteri agama menyapa beliau dengan panggilan orangtua kita. Beliau pensiun dari pegawai negeri sipil tahun 1998 sebagai widyaiswara. Pak Slamat adalah “pegawai pejuang” yang telah memberi contoh tentang bagaimana menjaga integritas, loyalitas dan keikhlasan dalam bekerja sebagai aparatur negara. Menurut Pak Ahmad Gozali, mantan Inspektur Jenderal Kementerian Agama, istilah pegawai pejuang berasal dari amanat Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri (1962 1967) saat memberi pengarahan kepada para pegawai Kementerian Agama;saudara-saudara bukan sekedar tenaga administrasi seperti di kantor-kantor lain, saudara-saudara adalah pegawai pejuang! Pesan dan nasihat yang berulang kali disampaikan Pak Slamat dalam berbagai kesempatan ialah, “Beragama jangan hanya saat berada di masjid, di atas sajadah shalat, di saat berdoa, tetapi juga di jalan raya, di kantor, di pasar, di dalam pergaulan dengan sesama dan pada saat bertugas.” Dalam pergaulan sehari-hari Pak Slamat seorang yang ramah dan simpatik tanpa membeda-bedakan orang. Saya melihat beliau kalau datang ke Kementerian Agama bertegur sapa bukan saja dengan pejabat, tapi juga dengan staf dan petugas satpam. Drs. H. Moh. Slamat Anwar lahir di Waled, Cirebon tanggal 3 Maret 1933. Pendidikan formalnya SD di Cirebon, SMP dan SMA di Jakarta, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PHIN) Tingkat III tahun 1958 di Yogyakarta, STIA LAN tahun 1967, dan tugas belajar di University of Sydney Australian tahun 1972 1974. Sekitar tahun 1976 mendapat kesempatan mengikuti SESPA (Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi) dan mengikuti pendidikan LEMHANNAS KRA XIV tahun 1981. Pak Slamat menapak karir kepegawaian dari tangga paling bawah. Jenjang karir dilaluinya mulai dari pegawai golongan rendah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1952. Mengabdi sebagai Guru SMP di Yogyakarta tahun 1955-1958. Kemudian menjadi pegawai/Kepada Bagian Ibadah Sosial dan Urusan Haji Kantor Urusan Agama Provinsi Nusa Tenggara di Singaraja Bali tahun 1959-1961, Kasubag pada Direktorat Urusan Agama Kementerian Agama di Jakarta tahun 1961-1967, Kepala Bagian pada Biro Organisasi dan Metoda tahun 1967-1972, Kepala Biro Kepegawaian tahun 1974-1979, Kepala Pusdiklat Pegawai tahun 1979-1981, Inspektur Perlengkapan tahun 1981-1983, Inspektur Kepegawaian tahun 1983-1984, dan Inspektur Jenderal tahun 1984-1991. Pak Slamat menjabat Inspektur Jenderal Kementerian Agama dalam periode Menteri Agama H. Munawir Sjadzali, MA yang berlatar belakang diplomat. Dalam masa jabatannya sebagai Inspektur Jenderal selama lebih kurang tujuh tahun, Pak Slamat telah meletakkan fondasi sistem audit dan pengawasan internal di Kementerian Agama, melanjutkan hasil kerja pendahulunya Prof. H. Anton Timur Djaelani, MA (Inspektur Jenderal yang pertama) dan H. A. Qadir Basalamah. Pak Slamat merupakan Irjen ke-3 di Kementerian Agama. Irjen Moh Slamat Anwar digantikan oleh Drs. H. Ahmad Gozali yang selesai menjabat sebagai Irjen menjadi Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji dan Sekjen. Di lingkungan BP4 (Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan) yang semula merupakan organisasi semi-resmi dalam rangka menunjang tugas dan fungsi Kementerian Agama dalam pembinaan perkawinan dan keluarga, Pak Slamat dikenang sebagai salah satu sesepuh dan pelaku sejarah. Dalam susunan pengurus BP4 Pusat periode tahun 1961-1970, Moh Slamat Anwar ditunjuk sebagai Penulis II (sekarang Sekretaris). BP4 di masa itu singkatan dari Badan Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian. Susunan Pengurus BP4 Pusat periode tersebut merupakan kepengurusan pertama organisasi BP4 bersifat nasional yang dilantik oleh Menteri Agama K.H. Wahib Wahab tanggal 20 Oktober 1961. Pada 23 November 1985 Kementerian Agama (dahulu Departemen Agama) mengadakan Diskusi Panel Sehari tentang Sejarah 40 Tahun Lahirnya Departemen Agama RI. Dalam acara yang dibuka oleh Menteri Agama Munawir Sjadzali, Pak Slamat sebagai panelis mengemukakan bahwa Departemen Agama di negara Pancasila perlu ditegakkan guna menampung dan menyalurkan aspirasi keagamaan bangsa Indonesia. Ditegaskannya bahwa agama merupakan aspek kehidupan yang sangat penting dan mendasar. Sebagaimana dirangkum dalam buku Amal Bakti Departemen Agama 3 Januari 1946 - 3 Januari 1996 Eksistensi dan Derap Langkahnya, Pak Slamat memaparkan, “Agama mempunyai peranan dan fungsi yang sangat menonjol dalam pembangunan nasional, bukan hanya di bidang urusan keagamaan, melainkan juga bidang ideologi, politik, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. Keberhasilan fungsi Departemen Agama dalam menghadapi tantangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan industrialisasi terhadap kehidupan sosial keagamaan, sangat tergantung kepada manusia pengelola dan penanggungjawabnya, yang ditunjang organisasi yang realistis dan fasilitas kerja memadai. Menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat sebagai akibat pengaruh industrialisasi, pengaruh ilmu dan teknologi modern, membawa akibat tidak ringan, dan ini merupakan tantangan terhadap peran dan fungsi Departemen Agama yang terasa semakin meningkat dan berat. Pada tahun 1986 Kementerian Agama membentuk Tim Penelitian dan Penyempurnaan Buku Sejarah Departemen Agama yang ditetapkan dengan SK Menteri Agama Nomor 285 tanggal 25 Oktober 1986. Saya membaca nama Drs. H. Moh Slamat Anwar bersama H. Aswasmarmo, SH, H.A. Qadir Basalamah dan Drs. H.A. Ludjito sebagai Pengarah. Adapun Tim Pelaksana dan Penulis diketuai oleh Drs. H. Hasbullah Mursyid dengan susunan personalia antara lain;Dr. Zamakhsyari Dhofier, Drs. M. Shodiq, Drs. H.A. Gozali, H.M. Djamil Latif, SH, M. Hasby Yasin, Drs. Djohan Effendy dan lain-lain. Salah satu rekan sejawatnya di Kementerian Agama, Ibu Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat (almarhumah), pernah menjabat Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam, menyarankan agar Pak Slamat menulis buku pengalaman hidup dan pengabdiannya sebagai cermin dan inspirasi bagi generasi penerus. Pak Slamat setahu saya tidak sempat menulis buku memoar. Suatu hari di tahun 2002, tepatnya 21 Mei 2002, Pak Slamat menemui saya di kantor. Sesepuh Kementerian Agama yang rendah hati itu membawa stopmap folio berisi makalah beliau tentang Pembinaan Etos Kerja dan Pewarisan Nilai Departemen Agama serta lima lembar naskah ketikan berupa pointers nasihat dan kata-kata hikmah hasil renungan beliau. Bahan tersebut diserahkan kepada saya sekiranya bermanfaat. Dalam tulisannya Pak Slamat mengemukakan bagi orang yang berkedudukan sebagai pejabat/pimpinan haruslah bersikap menjadikan bawahannya sebagai mitra kerja, menghargai bawahannya, tidak bersikap feodal, angkuh dan sombong sehingga menjadikan bawahannya bermental pesuruh, tidak berani berinisiatif atau lebih-lebih berinovatif. Menurut beliau, dalam rekrutmen pegawai dan pejabat, di samping diuji kemampuan keterampilan seseorang yang menjadi dasar profesinya, juga harus diuji pula kemampuan dan kedisiplinan dalam melaksanakan ajaran agamanya, termasuk mental dan moralnya di dalam menghadapi tantangan tugas. Pak Slamat mengatakan tugas mengagamakan bangsa adalah merupakan misi Kementerian Agama dalam rangka memelihara dan mengembangkan keberagamaan bangsa Indonesia agar bangsa Indonesia tetap menjadi bangsa yang beragama sepanjang masa. Pak Slamat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pewarisan nilai Kementerian Agama. Dalam rangka pewarisan nilai, seluruh aparatur dan pejabat Kementerian Agama, dipesankan oleh Pak Slamat, perlu mengetahui dan memahami 5 (lima) hal mendasar sebagai berikut: Pertama, apa itu Kementerian Agama? Kedua, mengapa Kementerian Agama didirikan? Ketiga, untuk apa didirikan? Keempat, apa yang menjadi misi Kementerian Agama? Kelima, bagaimana cara mengelola Kementerian Agama? Seorang pegawai Kementerian Agama menurut beliau bukan sekedar menjalankan tugas sebagai tenaga profesional, tetapi harus mempunyai wawasan luas dan idealisme luhur. Dalam perbincangan dengan Pak Slamat, saya mendapat taushiyah dan wawasan kepemimpinan. Sekalipun sederhana kalimatnya, namun mendalam maknanya. "Dalam organisasi dan birokrasi pemerintahan, jika atasan bermental feodal, maka bawahan bermental pesuruh," kata beliau. Beberapa sikap dan perilaku dapat menghinggapi seorang pejabat, yang beliau istilahkan penyakit pejabat, di antaranya: (a) senang membijaksanakan kebijaksanaan” menjadi kebijaksinian, (b) senang menonjolkan lambang status yang menjadi simbol kedudukan dan kekuasaannya, (c) lupa akan sumpah jabatan dan tanggungjawabnya, (d) lebih senang menerima daripada memberi, (e) kurang menghargai saran, usul, kritik dan inisiatif bawahan, (f) tidak mampu memberi contoh teladan/menjadi panutan, dan (g) tertutup. Segala hal yang dapat melemahkan etos kerja, merusak mental dan moral pegawai perlu dihindari dan dibenahi. "Kita tidak cukup hanya menjadi orang pintar, tetapi haruslah menjadi orang yang benar," tegas beliau. Dalam nasihat dan kata hikmah yang beliau tulis, diungkapkan;Kunci keberhasilan hidup adalah pengendalian diri. Keteladanan adalah kunci keberhasilan seorang pemimpin. Orang bermoral adalah orang yang mampu membedakan halal dan haram, hak dan bathil. Koruptor lebih berbahaya daripada perampok. Pemenuhan kebutuhan materi harus dijiwai ruh Ilahi.” Bukan hanya pemikiran dan inspirasi, akan tetapi karakter yang menjadi suatu ilmu besar patut diteladani dari almarhum. Semasa menjabat Pak Slamat dikenal sebagai pejabat dan pimpinan yang bersih dan sangat hati-hati dalam masalah uang. Saya membaca dalam buku autobiografi 75 Tahun Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin. Rektor IAIN Imam Bonjol Padang tahun 1983-1992 itu menyebut Moh Slamat Anwar pejabat bermoral malaikat. Rektor IAIN pernah bertengkar dengan Pak Slamat dalam pelayanan kunjungan beliau ke IAIN Imam Bonjol. Pak Slamat belum punya tiket pesawat untuk pulang ke Jakarta dan minta tolong dibelikan tiket dengan menyerahkan uang seharga tiket. Rektor atas dasar adat ketimuran merasa tidak enak menerimanya sehingga menolak. Pak Slamat tetap ngotot memberi uang tiket penerbangan Padang Jakarta hingga akhirnya Rektor mengalah. Pelajaran yang diberikan Pak Slamat ialah soal integritas dalam perjalanan dinas dan pelayanan kepada pejabat pusat saat kunjungan ke daerah sekali-kali tidak boleh membebani pejabat di daerah. Pak Slamat tidak sekedar mengajarkan integritas dan kejujuran melalui kata-kata, tapi mempraktikkannya dalam perbuatan nyata. Saya kira banyak anekdot kehidupan dan keteladanan Pak Slamat yang berkesan dan menjadi kenangan tak terlupakan bagi orang-orang di sekitarnya. Selain kejujuran, kesederhanaan hidup dan ketaatan beragama yang menjadi mahkoda kehidupan, Pak Slamat adalah sosok teladan yang selalu memelihara silaturahim. Beliau memerlukan hadir memenuhi setiap undangan pernikahan. Pertemuan para pensiunan dan tasyakuran ulangtahun Kementerian Agama selalu dihadirinya selagi kesehatannya memungkinkan. Pak Slamat memerlukan datang takziyah ke tempat orang meninggal dunia. Dalam tahun-tahun terakhir sebelum wafat, karena faktor usia Pak Slamat sudah banyak lupa dengan nama orang, namun didampingi Bu Slamat beliau tetap rajin datang kalau ada teman dan sahabatnya yang meninggal dunia. Saya sering berjumpa Pak Slamat di dalam moment-moment tersebut di atas. Senyum ramahnya yang memancarkan ketulusan hati setiap bertemu tidak pernah luntur sampai akhir. Sebuah kebiasaan sangat baik dari Pak Slamat berdasar cerita mantan staf beliau saat takziyah di rumah duka, ialah almarhum tiap pagi selalu melaksanakan shalat sunnah dhuha sebelum memulai aktivitas kantor dan beliau juga rajin melaksanakan puasa sunnah. Sampai penghujung usianya Pak Slamat yang pernah menjadi Ketua Yayasan Pembangunan Islam (YPI) adalah seorang yang selalu terpaut hatinya dengan masjid. Beliau ikut mendirikan dan pernah menjadi Ketua Pengurus Masjid Darul Muttaqien Komplek Perumahan Pegawai Departemen Agama Cengkareng. Di Masjid itu pula jenazah beliau dishalatkan. Dalam usia lanjut dan kondisi kesehatan yang tidak prima, satu hal tidak dilewatkannya selagi sanggup melangkahkan kaki yaitu datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Sewaktu Pak Maftuh Basyuni mantan Menteri Agama wafat tanggal 20 September 2016, Pak Slamat datang melayat di kediaman almarhum. Saya terharu melihat Pak Slamat dan Bu Slamat yang sudah sepuh berjalan meninggalkan kediaman Pak Maftuh di tengah hujan gerimis. Sewaktu Pak Muchtar Zarkasyi, mantan Irjen Kementerian Agama meninggal dunia tanggal 17 Oktober 2016, saya ketemu Pak Slamat. Setelah itu saya tidak lagi berjumpa sampai kemudian menjenguk beliau terbaring sakit di kediamannya tanggal 30 Desember 2017. Dan ternyata merupakan pertemuan yang terakhir. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, yang sedang bertugas di Saudi Arabia sebagai Amirulhaj saat mengetahui informasi meninggalnya Pak Slamat Anwar, juga turut berduka dan mendoakan yang terbaik untuk beliau. Terpampang dalam jejeran karangan bunga disepanjang jalan depan rumah almarhum, Menag Lukman mengucapkan duka cita. Semoga amal kebaikan almarhum diterima di sisi Allah SWT, dibukakan pintu rahmat yang seluas-luasnya bagi arwahnya dan ditempatkan di surga Jannatun Naim. Selamat Jalan Pak Slamat Anwar.





























