Ketika Kekerasan Mewarnai Anak-anak

Oleh: Adhyaksa Dault, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Kabar duka kembali menimpa anak-anak kita. Ada seorang siswa kelas 6 SD di Kabupaten Garut, Jawa Barat meninggal dunia setelah dianiaya menggunakan gunting (21/7/2018). Sebelumnya, korban (inisial FNM) dan terduga pelaku (inisial HKM) berkelahi tidak jauh dari lingkungan sekolah, yang dipicu salah paham mengenai hilangnya buku pelajaran milik terduga pelaku. Gunting yang dibawa terduga pelaku karena pada hari itu ada pelajaran seni rupa. Sangat disayangkan tragedi itu bisa sampai terjadi. Terduga pelaku masih berusia di bawah umur. Dua anak itu juga masih memiliki hubungan saudara. Mengingat kondisi tersebut, pihak keluarga korban tidak melaporkan kepada pihak kepolisian. Sangat disayangkan pula anak-anak hari ini cepat tersulut emosi. Hanya masalah sepele, mereka sampai bertengkar. Taruhan nyawa pun tidak mereka hiraukan. Dalam kajian sosiologi, anak-anak ini menderita penyakit “Mad of anger”. Mereka akan mengalami kegilaan usai marah. Penyakit ini sangat berbahaya. Seorang remaja berusia 25 tahun, misalnya, babak belur setelah dikeroyok empat orang pemuda di Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (21/7/2018). Masalahnya sepele. Dia dikeroyok karena saling pandang. Contoh lain, ada seorang pelajar di SMP di Karanganyar dikeroyok oleh beberapa pelajar SMP lainnya (8/2/2018). Masalahnya juga sepele. Pelajar yang dikeroyok itu melintas di depan sekolah mereka dan menggeber gas sepeda motornya. Mereka salah paham, dikiranya menantang, sehingga terjadi perkelahian. Kekerasan bukanlah solusi, malah akan timbul kekerasan yang baru, bahkan bisa lebih brutal. Fenomena tawuran antar remaja terjadi juga karena mereka lebih menggunakan cara-cara kekerasan. Contoh kasus, sekitar 8 pelajar SMPN 4 Padalarang bersama 6 anak putus sekolah diduga menyerang pelajar dari MTs Nurul Falah (28/11/2017). Rencana penyerangan itu muncul setelah terjadi percekcokan di media sosial. Anak-anak saat ini juga menderita penyakit “Mad of joy” atau kegilaan karena kesenangan. Mereka tergila-gila dengan idolanya. Foto-foto idolanya mereka simpan di dompet dan gadgetnya. Poster bergambar idolanya itu pun juga dipajang di dalam kamarnya. Rambut hingga gaya pakaiannya pun mereka ikuti. Begitu idolanya datang, turun dari panggung, mereka sampai teriak-teriak. Tidak masalah walau jatuh asal mereka bisa berfoto bareng, bersalaman, dan seterusnya. Bolehkah mengidolakan seseorang? Tentu boleh, asal jangan sampai keblablasan. Di dompet dan gadget anak-anak juga harus ada foto orangtuanya. Itulah idola sebenarnya. Orangtua selalu berdoa semoga anaknya bermanfaat bagi bangsa dan negaranya. Perjuangannya tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Anak-anak harus banyak bersyukur bisa hidup di Indonesia. Mereka bisa makan, mandi dan bahkan belajar di bangku sekolah. Sementara anak-anak di negara lain untuk mandi dan minum saja masih susah, bahkan sampai ada yang mandi dan minum dengan air kencing hewan. Di beberapa daerah di Indonesia ada juga yang mengalami kondisi memprihatinkan. Saya bersama para pengurus Pramuka pernah mengunjungi dan mendistribusikan bantuan ke negara-negara yang tengah dilanda kelaparan dan konflik. Betapa mengerikan kondisi anak-anak di sana. Dalam beberapa kesempatan menjadi narasumber, saya sering menyampaikan kepada anak-anak, gunakan waktunya bukan untuk bermain-main, melainkan untuk kegiatan positif. Kenikmatan terbesar yang Tuhan berikan setelah keimanan adalah Tanah Air Indonesia. Nah, itu jangan disia-siakan. Anak-anak harus belajar dengan benar. Beragam informasi yang masuk melalui gadget jangan ditelan mentah-mentah. Informasi itu bisa membawa manfaat, atau juga bisa membawa petaka. Seperti yang terjadi di Banjarnegara ini, siswi SMP terlibat perkelahian di halte dekat sekolah karena termakan berita hoaks (10/3/ 2018). Awalnya adu mulut lalu berujung perkelahian. Prof. Dr. Kenichi Ohmae dalam bukunya “The End Of The Nation State” menyebut ada empat i yang akan mengubah wajah dunia, termasuk Indonesia. Pertama, industri. Orang-orang sekarang berpikir tentang industri, tetapi melupakan dampaknya terhadap lingkungan. Kedua, investasi. Semua orang mau menginvestasikan uangnya, sampai ada yang ikut MLM, akhirnya menyesal. Ketiga, individualis. Orang-orang sekarang seperti hidup di dalam lift, tidak ada komunikasi. Siapa yang masuk di lift itu tidak ada komunikasi, yang ada pokoknya sampai tujuan. Keempat, informasi. Anak-anak hari ini dikelilingi lautan informasi. Beragam tayangan baik di televisi-televisi maupun internet bisa dengan mudah mereka tonton, termasuk tayangan yang memuat kekerasan. Tayangan yang ditonton secara terus-menerus bisa berpengaruh pada perasaan, pikiran, dan tindakannya sehari-hari. Tayangan itu tidak segan-segan membuat mereka menerapkannya dalam kehidupan pertemanannya. Tahun 2015 lalu, anak-anak di Pekanbaru tega mengeroyok temannya setelah menonton sinetron Tujuh Manusia Serigala. Di Jawa Barat, ada kasus imbas dari tayangan kekerasan seperti perkelahian ala tayangan Smack Down atau menonjok dan mencekik. Apa yang dilakukan oleh siswa SD di Kabupaten Garut tersebut bisa jadi terduga pelaku telah terpapar tayangan kekerasan. Kejadian itu harus menjadi momentum bagi kita untuk berbenah. Survei Kemenkominfo mengungkapkan, ada 65,34 persen anak usia 9-19 tahun yang menggunakan gadget. Apakah informasi dan tontonan dari gadget mereka sudah bebas dari yang berbau kekerasan?. Apakah kita sudah pernah mengajak anak-anak untuk diskusi mengenai apa yang mereka tonton?. Apakah metode pendidikan kita sudah tidak berbau kekerasan?. If you can not save the world then save your own community. Peraturan saja tidak bisa menjadi jaminan anak-anak terhindar dari kekerasan. Mari kita selamatkan anak-anak kita dari berbagai informasi dan tayangan yang tidak mendidik, bahkan memuat kekerasan. Mendidik melalui cara-cara kekerasan sudah tidak bisa dianggap wajar. Ketika anak-anak mempelajari kekerasan, baik melalui hukuman fisik, menyaksikan kekerasan dalam keluarga, sekolah, tayangan di televisi dan internet, dan lingkungan lainnya, bisa membekas seumur hidup. Kekerasan bisa menjadi salah satu cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Beragam tragedi kekerasan di atas telah membuktikannya.





























