Mahasiswa Unsoed Kembangkan Sambung Cirung

Mahasiswa Unsoed Kembangkan Sambung Cirung
Terung merupakan tanaman yang rentan terkena penyakit busuk akar. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum yang tergolong bakteri tular tanah dan dapat bertahan di tanah dalam kurun waktu yang lama. Selain itu, bakteri ini juga menyerang sebagian besar tanaman lain dari genus solanum. Pengolahan tanah maupun pergantian tanaman tidak dapat mengurangi penyebaran penyakit ini pada lahan budidaya terung. Kelompok mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah yang terdiri dari Anis Inarotul Fuadah, Rifa Azzahro, dan Riany Aulia Shabila mencoba mencari solusi bagi permasalahan busuk akar terung dengan memanfaatkan cimongkak atau terung pipit. [caption id="attachment_252928" align="alignnone" width="640"] Kelompok Program Kreativitas Mahasiswa pada skim PKM-PE dan Dosen Pembimbing (Dyah Susanti)[/caption] Cimongkak (Solanum torvum) merupakan tanaman liar yang masih satu genus dengan terung. Tanaman ini memiliki perakaran yang tahan terhadap penyakit busuk akar. Karakter perakaran cimongkak ini dimanfaatkan oleh Anis, Rifa, dan Riany untuk memperkuat perakaran terung dengan cara menyambung bibit terung dengan bibit cimongkak dengan teknik dua kaki, yang disebut Cirung, akronim dari cimongkak-terung. Cirung merupakan inovasi di bidang pertanian khususnya pada budidaya terung yang rawan terkena busuk akar. Hadirnya Cirung diharapkan mampu mengatasi permasalahan busuk akar pada budidaya terung dan mampu meningkatkan produksi. [caption id="attachment_252930" align="alignnone" width="640"] Kelompok Program Kreativitas Mahasiswa pada skim PKM-PE, Dosen Pembimbing (Dyah Susanti), dan Cirung,[/caption] Gagasan Cirung sebagai solusi permasalahan pada budidaya terung ini mendapat apresiasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dalam bentuk fasilitasi penelitian Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) pada skim PKM-PE. Tim ini diketuai oleh Anis Inarotul Fuadah, mahasiswa Program Studi Agroteknologi angkatan 2014 dengan dosen pendamping Dyah Susanti SP MP (Dosen Fakultas Pertanian Unsoed). Saat ini meski masih dalam tahap penelitian, penyambungan antar spesies dengan menggunakan hormon alami dari air kelapa dan bawang merah ini cukup besar persentase keberhasilannya, dan mulai memasuki fase pembungaan. Inovasi ini diharapkan menjadi sumbangsih Unsoed bagi petani dan pengusaha hortikultura, serta menjadi bukti karya nyata generasi muda pertanian Indonesia. [caption id="attachment_252932" align="alignnone" width="360"] Cirung (cimongkak-terung).[/caption] Bagaimana komentar tentang teknologinya Mahasiswa Fakultas Pertanian Unsoed kembangkan sambung Cirung (Cimongkak-Terung) kaki dua ini? Disebutkan oleh dosen pendamping Dyah Susanti,SP,MP (peneliti produksi tanaman di lahan marginal Fak.Pertanian Unsoed), dari penelitian sebelumnya, interspecific grafting teknik dua kaki ini cukup efektif digunakan pada beberapa tanaman yang masih satu genus. Salah satu contohnya adalah pada penyambungan tanaman cengkeh dengan pucuk merah. Teknik interspecific grafting (penyambungan antar dua spesies) dua kaki pada kedua tanaman ini telah terbukti mampu mengatasi permasalahan perakaran pada cengkeh zanzibar di Pulau Bintan Kepulauan Riau yang memiliki jenis tanah podzolik merah kuning. Reaksi masam serta kondisi miskin hara pada tanah ini mengakibatkan cengkeh zanzibar berproduksi rendah dan lama berproduksi. Dengan teknik sambung dua kaki ini, grafting cengkeh zanzibar-mampu berproduksi lebih tinggi dan lebih cepat dapat dipanen. Keberhasilan pada cengkeh tersebut memberikan keyakinan tim peneliti dan pendamping bahwa teknik sambung dua kaki pada cimongkak – terung ini juga akan mampu meningkatkan produksi terung sekaligus mengantisipasi terjadinya penurunan hasil akibat busuk akar. (Red) .