Pemimpin Baru, Pertumbuhan Ekonomi Malaysia Tembus 6 Persen

Dana Moneter Internasional baru-baru ini meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi terhadap produk domestik bruto (PDB) Malaysia untuk 2018 dari 4,5 persen menjadi 6 persen. Sedangkan Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Malaysia akan mencatat kenaikan 5,8 persen dari PDB tahun ini. Situs Welthinasia melaporkan, harga minyak yang lebih tinggi juga ikut mendorong peningkatan perekonomian Malaysia, seperti meningkatnya permintaan untuk komoditas yang diproduksi oleh sektor elektronik Malaysia. Selain itu, negara ini telah menarik beberapa proyek bernilai tinggi dari investor luar negeri. Pada Februari 2017, Saudi Aramco mengumumkan rencana untuk menginvestasikan 7 miliar dolar dalam proyek pengembangan kilang Petrokas dan Petrokimia terpadu di Johor. Proyek tersebut menjadi investasi hilir Aramco terbesar di luar negara asalnya. Alibaba telah mengumumkan rencana untuk membangun Zona Perdagangan Bebas Digital di Malaysia. HSBC telah memutuskan untuk membangun markas regionalnya di Tun Razak Exchange, pengembangan seluas 70 acre di jantung Kuala Lumpur. Terpilihnya Mahathir Mohammad sebagai perdana menteri Malaysia mendongkrak tingkat kepercayaan rakyat Malaysia dan pasar domestik dan luar negeri terhadap pemberantasan korupsi dan stabilitas ekonomi di negara Asia Tenggara ini.
Ringgit, Mata Uang Terkuat di Asia Mata uang Malaysia, Ringgit menempati posisi terkuat Asia di tengah terjadinya pelemahan mata uang berbagai negara dunia. Bloomberg melaporkan ringgit mengalami kenaikan di tengah upaya pemerintahan baru Malaysia yang dipimpin Mahathir Mohammad mengungkap skandal 1MDB. Analis keuangan internasional, Alan Richardson mengatakan bahwa siklus domestik akan mengungguli sementara siklus global yang berkinerja buruk. Bursa efek Malaysia telah mencapai angka tertinggi dalam dua tahun terakhir pada 16 Juni karena melonjaknya nilai saham industri teknologi, bank, dan konstruksi, sedangkan ekspor negara ini telah mencatat pertumbuhan dua digit. Sebelumnya, jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Reuters mengungkapkan posisi lima mata uang terkuat di Asia terhadap dolar AS. Polling Reuters juga dilakukan terhadap sembilan mata uang negara-negara berkembang Asia: rupee India, yuan Cina, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, dolar Singapura, rupiah Indonesia, dolar Taiwan, dan baht Thailand. Dari lima mata uang Asia berkinerja terbaik selama setahun terakhir terhadap dolar, Ringgit menduduki posisi pertama. Di ranking kedua bertengger won Korea Selatan, bath Thailand, dolar Taiwan dan dolar Singapura. [caption id="attachment_251530" align="alignnone" width="640"]
Barang milik mantan perdana menteri Najib Razak, Jumat (18/5/2018).[/caption] Malaysia Jual Barang-barang Najib yang Disita Pemerintah Malaysia berencana untuk menjual sejumlah perhiasan dan barang berharga yang mereka sita dari mantan Perdana Menteri Najib Razak yang tersangkut kasus pencucian uang. Melansir dari SCMP, data dari kepolisian menyatakan sebanyak 12.000 perhiasan, 567 tas tangan, 423 jam tangan dan 234 kacamata bermerk telah disita dari kediaman dan properti milik Najib pada bulan lalu. Polisi memperkirakan nilai barang yang disita mencapai lebih dari 273 juta dolar atau Rp 3,8 triliun, menjadikannya hasil sitaan terbesar dalam sejarah Malaysia. Menteri Keuangan Malaysia, Lim Guan Eng mengatakan, meski nilai barang berharga yang disita sangat besar, jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan 50 miliar ringgit (sekitar Rp 177 triliun) kerugian negara yang ditimbulkan dalam kasus dana investasi 1MDB. "Pemerintah akan mencoba menguangkan apa pun yang kami bisa. Tetapi perlu diingat jika itu semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jumlah yang telah dirampas dari negara," kata Lim, Jumat (29/6/2018). Rakyat Malaysia dibuat tidak percaya setelah pemerintah mengumumkan harta yang disita dari mantan perdana menteri yang mencakup ribuan perhiasan berupa cincin, kalung, gelang, anting-anting dan bros. (ParsToday)
Ringgit, Mata Uang Terkuat di Asia Mata uang Malaysia, Ringgit menempati posisi terkuat Asia di tengah terjadinya pelemahan mata uang berbagai negara dunia. Bloomberg melaporkan ringgit mengalami kenaikan di tengah upaya pemerintahan baru Malaysia yang dipimpin Mahathir Mohammad mengungkap skandal 1MDB. Analis keuangan internasional, Alan Richardson mengatakan bahwa siklus domestik akan mengungguli sementara siklus global yang berkinerja buruk. Bursa efek Malaysia telah mencapai angka tertinggi dalam dua tahun terakhir pada 16 Juni karena melonjaknya nilai saham industri teknologi, bank, dan konstruksi, sedangkan ekspor negara ini telah mencatat pertumbuhan dua digit. Sebelumnya, jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Reuters mengungkapkan posisi lima mata uang terkuat di Asia terhadap dolar AS. Polling Reuters juga dilakukan terhadap sembilan mata uang negara-negara berkembang Asia: rupee India, yuan Cina, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, dolar Singapura, rupiah Indonesia, dolar Taiwan, dan baht Thailand. Dari lima mata uang Asia berkinerja terbaik selama setahun terakhir terhadap dolar, Ringgit menduduki posisi pertama. Di ranking kedua bertengger won Korea Selatan, bath Thailand, dolar Taiwan dan dolar Singapura. [caption id="attachment_251530" align="alignnone" width="640"]
Barang milik mantan perdana menteri Najib Razak, Jumat (18/5/2018).[/caption] Malaysia Jual Barang-barang Najib yang Disita Pemerintah Malaysia berencana untuk menjual sejumlah perhiasan dan barang berharga yang mereka sita dari mantan Perdana Menteri Najib Razak yang tersangkut kasus pencucian uang. Melansir dari SCMP, data dari kepolisian menyatakan sebanyak 12.000 perhiasan, 567 tas tangan, 423 jam tangan dan 234 kacamata bermerk telah disita dari kediaman dan properti milik Najib pada bulan lalu. Polisi memperkirakan nilai barang yang disita mencapai lebih dari 273 juta dolar atau Rp 3,8 triliun, menjadikannya hasil sitaan terbesar dalam sejarah Malaysia. Menteri Keuangan Malaysia, Lim Guan Eng mengatakan, meski nilai barang berharga yang disita sangat besar, jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan 50 miliar ringgit (sekitar Rp 177 triliun) kerugian negara yang ditimbulkan dalam kasus dana investasi 1MDB. "Pemerintah akan mencoba menguangkan apa pun yang kami bisa. Tetapi perlu diingat jika itu semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jumlah yang telah dirampas dari negara," kata Lim, Jumat (29/6/2018). Rakyat Malaysia dibuat tidak percaya setelah pemerintah mengumumkan harta yang disita dari mantan perdana menteri yang mencakup ribuan perhiasan berupa cincin, kalung, gelang, anting-anting dan bros. (ParsToday) 




























