Ramadhan Menguatkan Resiliensi Keluarga

Ramadhan Menguatkan Resiliensi Keluarga
Oleh: Cahyadi Takariawan, Penulis   Dalam kehidupan keluarga, resiliensi (daya lenting) sangat terkait dengan faktor nilai (value) dan keyakinan hidup setiap orang. Makin bagus kehidupan keagamaan seseorang, akan makin bagus pula tingkat resliensinya. Dalam ajaran setiap agama, selalu ada ajaran tentang pahala dan dosa, tentang surga dan neraka, tentang pengadilan kelak di hari akhir. Keyakinan seperti ini membuat seseorang bisa menerima apapun yang menimpa dirinya, karena akan ada balasan pahala dan surga bagi orang yang berbuat benar dan baik. Sebaliknya akan ada dosa dan siksa bagi orang yang berbuat salah dan jahat, walaupun mereka juga bisa memperbaiki diri dengan bertaubat. Dalam ajaran Islam, ini masuk kategori keyakinan aqidah. Jika ada suami yang jahat, kasar, galak, suka membentak, suka memukul istri, tentu sangat menyedihkan, menakutkan dan mengerikan bagi sang istri. Namun karena sang istri memiliki kehidupan religius yang baik, maka ia mampu bersikap sabar, bahkan mendoakan agar suaminya bisa dilembutkan hatinya oleh Allah dan menjadi suami yang baik. Bahkan saat suami tidak bisa berubah menjadi baik, maka sang istri tetap yakin bahwa perbuatan jahat suami itu kelak akan dihisab dan diadili di hari akhir, maka sang istri menyerahkan dan pasrah kepada Allah. Ajaran agama juga mengajarkan tentang kesabaran, keikhlasan, memaafkan kesalahan orang, berprasangka baik, berbuat baik, kemampuan pengendalian diri juga optimisme menghadapi hari esok. Ini menjadi pondasi kelentingan individu dan keluarga, yang apabila suatu ketika mendapatkan luka, maka akan sangat cepat sembuhnya. Jika suatu ketika merasakan sakit hati, akan cepat hilangnya. Sistem kehidupan yang religius ini membuat suami dan istri memiliki tingkat resiliensi yang tinggi. Sangat banyak orang terpuruk dalam kehidupan yang semakin buruk setelah terjatuh dalam permasalahan. Mereka tidak memiliki resiliensi yang memadai, sehingga tidak segera pulih dan bangkit dari permasalahan. Bahkan semakin mengurung diri dalam ketidakbaikan. Maka sangat penting meningkatkan kehidupan keberagamaan bagi seluruh anggota keluarga. Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menguatkan resiliensi keluarga.