Yasonna: Urusan Kalajengking Saja Banyak yang Nyinyir

Yasonna: Urusan Kalajengking Saja Banyak yang Nyinyir
Jakarta, Obsessionnews.com - Menteri Hukum dan HAM (Menkum dan HAM) Yasonna Laoly heran kenapa masyarakat atau politisi banyak yang nyinyir menanggapi urusan kalajengking yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Padahal, menurutnya, tidak ada yang aneh dari ucapan Jokowi. "Jangan nyinyir dan bersungguh-sungguh. Yang penting adalah kerja keras, kerja cerdas, dan lebih transparan. Sekarang ini banyak orang yang nyinyir. Urusan kalajengking saja dinyinyirin," ujar Yasonna di kantornya Jalan H Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (4/5/2018). Yasonna menyatakan sikap nyinyir tidak menjadikan Indonesia lebih baik. Kalau memang dirasa ada kebijakan pemerintah yang tidak baik sampaikan dengan kritik yang konstruktif, bukan dengan nyinyir. "Kritik berbeda dengan nyinyir," katanya. Presiden Jokowi sebelumnya bercerita tentang zat-zat tak terduga yang memiliki harga begitu mahal di pasaran. Cerita itu disampaikan Jokowi saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di hadapan para kepala daerah di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin, (30/4). Menurut Jokowi, zat dengan nilai tertinggi adalah racun kalajengking yang harganya US$ 10,5 juta atau Rp145 miliar per liter. "Apa komoditas yang paling mahal di dunia? Pasti jawabannya emas. Bukan emas. Ada fakta yang menarik dari informasi yang saya baca. Komoditas yang paling mahal adalah racun kalajengking," ujar Jokowi. Jokowi berkelakar ceritanya ini bisa menjadi ide bisnis bagi masyarakat yang ingin cepat meraup untung. "Jadi kalau mau kaya, cari racun kalajengking," ujar Jokowi. Sementara, menurut Jokowi, zat termahal kedua adalah elemen sintesa californium. Nilainya mencapai US$ 27 juta atau Rp375 miliar per gram. "Saya juga enggak ngerti barangnya," ujar Jokowi. Namun, menurut Jokowi, ada juga satu hal yang sangat tidak ternilai meski dimiliki oleh setiap orang. Hal itu adalah waktu yang bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas. "Meskipun ada komoditas-komoditas yang paling mahal di dunia, yang paling mahal adalah waktu," ujar Jokowi. (Albar)