NKRI, Katak Rebus dan 'Stochholm Syndtome'

Oleh: Insanial Burhamzah, Universitas Hasanuddin POKOK-POKOK MASALAH Bangsa ini seakan terjebak kedalam zona aman palsu seperti "katak rebus" dan gejala penyakit ”Stochholm Syndrome”. Dan ahirnya rakyat bangsa ini menanggung beban kehampaan dan kenestapaannya. Fenomena ”Stochholm Syndrome dan “katak rebus” telah melahirkan “devide et impera” atau diadu domba yang dikendalikan oleh konspirasi global melalui asymmetric war guna melemahkan persatuan dan kedaulatan rakyat bangsa. Sehingga fondasi ekonomi bangsa ini yang dulunya mencapai 16% adalah pernah menjadi terkuat di ASEAN, namun saat ini GDP Indonesia hanya tinggal 10% sementara Thailand 19%. Hal ini dipastikan semakin tidak berdaya lagi, di tengah gelombang krisis keuangan global kedua, yang lebih berbahaya dari krisis keuangan keuangan global tahun 2008 lalu. Demikian pula Angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) kita yang sudah mencapai 6.0 Ini angka darurat, yang semestinya hanya 2.0.. Sepanjang rezim Soeharto, angka ICOR tertinggi adalah 3.0 akibat korupsi, ekonomi rente dan oligopoli. Akhirnya pembangunan ekonomi-politik Indonesia semakin mengarah pada perpecahan bangsa dan puncaknya sejak pada tahun 2014. Sehingga esensi kata NKRI dan Pancasila nyaris kehilangan makna ? Melihat fakta di atas sangat naif jika masih ada elite bangsa yang tidak paham dan masih mau membela rezim yang telah memposisikan bangsa ini berada di tepi kepunahannya. KATAK REBUS Friederich Goltz pernah melakukan penelitian tentang ‘katak rebus’, katak yang direbus. Ini bukan masak-memasak melainkan sebuah penelitian yang menguji sikap katak menghadapi perubahan lingkungan. Sederhananya seperti ini: Awalnya katak dimasukkan ke dalam air panas yang mendidih. Tentu saja katak melompat karena kepanasan. Akan tetapi ketika air itu diganti dengan air biasa/dingin dan ditaruh di atas kompor yang menyala;katak pun bersedia masuk ke dalam air tersebut karena belum panas. Nampaknya si katak merasa nyaman dengan kondisi air yang demikian. Waktu berjalan, api kompor tetap menyala memanasi air, dan suhu air semakin lama semakin naik. Air terasa hangat, dan si katak masih nyaman berendam di dalamnya merasakan kehangatan. Ia tidak sadar bahwa suhu air semakin panas. Hingga air itu mendidih, si katak tetap tidak keluar dari air, karena ia telah mati kepanasan. Sekali lagi ia tidak menyadari hal itu. Bisa jadi kita seperti katak rebus, nyaman dengan kondisi yang ada saat ini, dan tidak menyadari perubahan di sekitar. Di mana China Konunis terus melancarkan Perang Asymetris melalui devide et impera, dan tanpa kita sadari China sudah berhasil menancapkan kukunya, melalui pemimpin bonekanya yang mereka dukung bersama para taipan dan Islam munafiq di negeri ini. Jika kita menganggap bahwa perubahan lingkungan itu biasa-biasa saja dan kita tidak peka, maka kita akan kalah bahkan mati, seperti katak yang di rebus Dan taruhannya NKRI akan hilang dan lenyap ditelan naga yang sudah berubah menjadi predator itu. STOCHHOLM SYNDROME Lebih lima puluh tahun yang lalu, drama penyanderaan enam hari di dalam sebuah bank di Stockholm meraih berita utama di seluruh dunia, dan perilaku mengejutkan yang ditunjukkan oleh empat sandera terhadap penculik mereka melahirkan fenomena psikologis yang dikenal sebagai "Sindrom Stockholm." Pada pagi hari 23 Agustus 1973, seorang narapidana yang melarikan diri menyeberangi jalan-jalan ibu kota Swedia dan memasuki sebuah bank yang ramai, Sveriges Kreditbanken, di alun-alun Norrmalmstorg di Stockholm. Dari balik jaket lipat yang dibawanya ke dalam pelukannya, Jan-Erik Olsson menarik senapan mesin ringan, menembaki langit-langit dan menyamarkan suaranya terdengar seperti orang Amerika, berteriak dalam bahasa Inggris, "Pesta baru saja dimulai!" Setelah melukai seorang polisi yang menanggapi alarm diam, perampok mengambil empat karyawan bank sandera. Olsson, seorang penjaga keamanan yang gagal kembali ke penjara setelah cuti dari hukuman tiga tahun untuk pencurian berat, menuntut lebih dari $ 700.000 dalam mata uang Swedia dan asing, mobil liburan dan pelepasan Clark Olofsson, yang melayani waktu untuk perampokan bersenjata dan bertindak sebagai aksesori pada tahun 1966 pembunuhan seorang perwira polisi. Dalam beberapa jam, polisi mengirim narapidana kepada Olsson, tebusan, dan bahkan Ford Mustang biru dengan tangki gas penuh. Namun, pihak berwenang menolak permintaan perampok untuk pergi dengan para sandera untuk memastikan perjalanan yang aman. Drama yang sedang berlangsung ini menjadi berita utama di seluruh dunia dan diputar di layar televisi di seluruh Swedia. Publik membanjiri markas polisi dengan saran untuk mengakhiri kebuntuan yang berkisar dari konser lagu religius oleh band Salvation Army untuk mengirim segerombolan lebah yang marah untuk menyengat para pelaku agar tunduk. Anehnya para tawanan membentuk ikatan solididaritas dengan para penculik mereka. Olsson mengenakan jaket wol pada bahu sandera Kristin Enmark ketika dia mulai menggigil. Dan ikut menenangkannya, ketika sandera itu bermimpi buruk serta memberinya peluru dari senjatanya sebagai kenang-kenangan. Pria bersenjata itu menghibur Birgitta Lundblad yang ditawan ketika dia tidak dapat menghubungi keluarganya melalui telepon dan mengatakan kepadanya, “Coba lagi;jangan menyerah.” Ketika sandera Elisabeth Oldgren mengeluhkan claustrophobia, dia mengizinkannya berjalan di luar lemari besi yang menempel pada tali sepanjang 30 kaki. Dan Oldgren mengatakan kepada New Yorker setahun kemudian bahwa meskipun melindas,“ Saya ingat pernah berpikir dia sangat baik untuk mengizinkan saya meninggalkan lemari besi.” Tindakan baik Olsson mengeringkan simpati para sanderanya. "Ketika dia memperlakukan kami dengan baik," kata sandera laki-laki Sven Safstrom, "kita bisa menganggapnya sebagai Tuhan darurat." Pada hari kedua, para sandera memiliki basis nama depan dengan para penculik mereka, dan mereka mulai lebih takut pada polisi daripada para penculik mereka. Ketika komisaris polisi diizinkan masuk untuk memeriksa kesehatan para sandera, dia melihat bahwa para tawanan itu tampak memusuhinya tetapi santai dan riang dengan orang-orang bersenjata. Kepala polisi mengatakan kepada pers bahwa ia meragukan orang-orang bersenjata akan membahayakan para sandera karena mereka telah mengembangkan "hubungan yang agak santai." Enmark bahkan menelepon Perdana Menteri Swedia Olof Palme, yang sudah sibuk dengan pemilu nasional dan menyaksikan mati suri bagi Raja Gustaf VI Adolf yang berusia 90 tahun, dan memohon padanya agar membiarkan perampok membawanya bersama mereka di mobil melarikan diri. "Aku sepenuhnya mempercayai Clark dan perampok," dia meyakinkan Palme. “Saya tidak putus asa. Mereka belum berbuat apa-apa bagi kita. Sebaliknya, mereka sangat baik. Tapi, kamu tahu, Olof, yang kutakutkan adalah polisi akan menyerang dan menyebabkan kita mati. ” Bahkan ketika terancam bahaya fisik, para sandera masih melihat belas kasihan di para penculik mereka. Setelah Olsson mengancam akan menembak Safstrom di kaki untuk mengguncang polisi, sandera itu menceritakan kepada New Yorker, “Betapa baiknya saya mengira dia mengatakan bahwa itu hanya kaki saya yang akan dia tembak.” Enmark mencoba meyakinkan rekannya untuk ambil peluru: "Tapi Sven, itu hanya di kaki." Pada akhirnya, para narapidana tidak melukai fisik para sandera, dan pada malam 28 Agustus, setelah lebih dari 130 jam, polisi memompa gas air mata ke dalam lemari besi, dan para pelaku dengan cepat menyerah. Polisi meminta para sandera untuk keluar terlebih dahulu, tetapi keempat sandera, melindungi penculik mereka sampai akhir, menolak. Enmark berseru, "Tidak, Jan dan Clark duluan — Anda akan menembak mereka jika kita lakukan!" Di ambang pintu lemari besi, narapidana dan sandera merangkul, mencium dan berjabat tangan. Ketika polisi menangkap orang-orang bersenjata, dua sandera perempuan menangis, “Jangan sakiti mereka — mereka tidak membahayakan kita.” Sementara Enmark dibawa dengan tandu, dia berteriak kepada Olofsson yang diborgol, “Clark, saya akan melihat Anda lagi." Keterikatan para sandera yang tampaknya tidak rasional terhadap penangkap mereka membingungkan publik dan polisi, yang bahkan menyelidiki apakah Enmark telah merencanakan perampokan dengan Olofsson. Para tawanan juga bingung. Sehari setelah pembebasannya, Oldgren bertanya pada seorang psikiater, “Apakah ada yang salah dengan saya? Mengapa saya tidak membenci mereka? ”Psikiater membandingkant perilaku SAATNYA KITA BUNYIKAN “WAK-EUP CALL” Kini fenomena NKRI berada ditepi kepunahannya. Bahkan, jika semua pihak mau jujur pada fakta yang ada saat ini, bahwa kepunahan bangsa ini tidak perlu menunggu tahun 2030 lagi, sebagaimana prediksi novel “ghost fleet”, sebab hampir disemua sendi pilar ketahanan nasional kita sudah mengalalami “disability” untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. Dalam bidang kesejahteraan dan kesehatan enam bulan lalu bank dunia telah mengeluarkan pernyataan bahwa 37 % anak anak indonesia mengalami gizi buruk. Hal yang sama telah di prediksi oleh DR. Samuel P. Hutington, penulis buku “The Clash of Civilization” tentang pertikaian pada Geopolitik Global akan mengerucut pada China vs Amerika Serikat kedalam neraca kompetisi yang memicu proxy war di Asia dan menggunakan taktik perang Asymetris yaitu perang tanpa militer, tetapi melalui pelemahan ekonomi bangsa lain dengan cara devide et impera dan pemberian hutang untuk mengendalikan suatu negara. Mari kita bangun dari tidur yang panjang kita, Jangan biarkan bangsa ini menjadi “Katak Rebus” dan kena gejala penyakit “Stockholm Synsdrome” yang mau di-adu sesama bangsa, sehingga secara tidak sadar ikut membela musuh bangsa dan berhadapan dengan bangsanya sendiri. (***)





























