Pelaku UKM Penerima KUR Akui Usahanya Berkembang

Pelaku UKM Penerima KUR Akui Usahanya Berkembang
Makassar, Obsessionnews.com - Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), khususnya di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, benar-benar sudah merasakan manfaat dari Kredit Usaha Rakyat (KUR). Misalnya, Maimuddin (32 tahun) seorang pelaku UKM di bidang produksi makanan ringan khas Makassar dengan label Dua Phinisi.  “Saya menjalankan usaha makanan ringan oleh-oleh khas Makassar Dua Phinisi ini sejak 2012. Semakin lama usaha saya semakin besar dan berkembang. Dan untuk lebih mengembangkan usaha ini saya mendapatkan KUR sebesar Rp400 juta dari Bank BNI,” kata Maimuddin usai menerima KUR di sela-sela acara Pembekalan Tenaga Pendamping KUR di Kota Makassar, sebagaimana dalam siaran pers, Rabu (25/4/2018). Di depan Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati dan 133 orang tenaga pendamping KUR dari 10 provinsi (Yogyakarta, Kalimantan Utara, Sulut, Sulsel, Sulteng, Bali, NTB, NTT, Maluku, dan Papua), Maimuddin menjelaskan bahwa KUR yang diperolehnya akan dipergunakan untuk mengembangkan usahanya, baik dari sisi produksi hingga pemasarannya.  “Akan saya pergunakan sebagai tambahan modal kerja,” tandas Maimuddin. Diantaranya, lanjut Maimuddin, akan dipergunakan untuk membeli kendaraan bermotor sebagai penunjang transportasi dan operasional sehari-hari, hingga memperluas sarana produksi di rumah. Hingga saat ini, Maimuddin sudah memiliki tenaga kerja produksi sebanyak lima orang, ditambah dua orang tenaga pemasaran, dan satu orang sopir.  “Dengan adanya KUR ini diharapkan usaha saya semakin meningkat, dari sisi kapasitas produksi juga jaringan pemasarannya,” imbuh Maimuddin lagi. Selain Maimuddin, ada juga UKM lain bernama Hendrawan (32 tahun) yang mendapat KUR sebesar Rp500 juta dari Bank BRI. Dia menjelaskan, usahanya bergerak di bidang pengadaan dan penyalur beras dan telur dengan nama toko Hijrah.  “Saya merintis usaha ini sudah 10 tahun. Dengan tambahan modal kerja dari KUR ini, saya akan lebih memperluas jaringan pasar beras dan telur saya. Dan juga untuk menopang pengadaan beras Bank BRI dalam program bantuan sosial di Sulawesi Selatan,” kata Hendrawan. Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati menegaskan, acara pembekalan Tenaga Pendamping KUR di Kota Makassar ini merupakan tahap kedua, setelah tahap pertama dilakukan di Bekasi, Jawa Barat. Kali ini, Kemenkop dan UKM memberikan pembekalan pada 133 orang tenaga pendamping KUR dan 14 orang koordinator dari 10 provinsi (Yogyakarta, Kalimantan Utara, Sulut, Sulsel, Sulteng, Bali, NTB, NTT, Maluku, dan Papua).  “Dengan adanya program pendampingan, ditargetkan sebanyak 15 ribu usaha mikro pada tahun ini dapat mengakses pembiayaan KUR dengan mudah. Target tersebut lebih besar dari realisasi tahun sebelumnya dimana hanya 14 ribu usaha mikro yang mendapatkan fasilitas KUR,” papar Yuana. Menurut Yuana, pihaknya tidak hanya merekrut tetapi juga memberikan pembekalan kepada para pendamping untuk memberikan informasi dan pemahaman tentang KUR, sehingga mereka dapat melaksanakan tugas dengan baik dan efektif.  "Setelah itu, pendamping dilepas ke wilayah masing-masing dan mensosialisasikan KUR kepada masyarakat setempat,” imbuh Yuana. Yuana menilai, pendampingan ini sangat penting karena tidak sedikit pelaku usaha mikro yang masih takut berhubungan dengan perbankan dan masih terbatas kemampuannya menyiapkan hal-hal administratif yang dibutuhkan dalam pengajuan KUR.  “Ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah pusat untuk mempercepat realisasi penyaluran KUR, yakni bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan kegiatan pendampingan kepada UKM,” katanya. Pemerintah pada tahun ini menargetkan alokasi penyaluran KUR sebesar Rp120 triliun, lebih besar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp110 triliun. Pemerintah mempunyai strategi untuk mempercepat penyerapan KUR, yakni dengan menurunkan suku bunga dari 9 persen menjadi 7 persen pertahun. Selain itu, upaya lain yang dilakukan adalah dengan melakukan penambahan Bank Penyalur KUR, mengikutsertakan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) sebagai penyalur KUR, dan mengikutsertakan koperasi sebagai penyalur KUR.  “Dengan semakin banyaknya channel penyalur KUR diharapkan realisasi penyalurannya dapat lebih mudah dan cepat,” tukas Yuana. Untuk diketahui, total realisasi KUR tahun 2017 senilai Rp96,7 triliun kepada 4.086.971 debitur. Sedangkan realisasi penyaluran KUR tahun ini hingga akhir Maret 2018 sebesar Rp31 triliun kepada 1,2 juta debitur, dengan rincian KUR Mikro sebesar Rp19,9 triliun, KUR ritel sebesar Rp11 triliun dan KUR TKI sebesar Rp66 miliar. (Has)