Jika Hukum Terkorupsi, Tatanan Sosial di Negara akan Hancur

Jika Hukum Terkorupsi, Tatanan Sosial di Negara akan Hancur
Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Dr (HC) Susi Pudjiastuti menyerukan, kita juga harus menjaga tatanan demokrasi agar terus berada di jalur yang benar. Ketetapan dan kepastian hukum juga harus benar. Karena kalau hukum sampai terkorupsi maka tatanan sosial di sebuah negara akan hancur berkeping-keping. "Hukum menjadi pilar yang penting karena hukum adalah ciri sipil society. Jika maju biasanya kepastian tatanan hukumnya baik, jika tidak maka niscaya tidak ada etika," tegas Susi sebagai Keynote Speaker dalam Seminar Nasional “Peran Perempuan dalam Pengembangan Budaya Hukum“ yang digelar Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pancasila (UP) di Aula Sekolah Pascasarjana UP Jakarta, Jumat (20/4/2018), menyogsong Hari Kartini. Sebagai pembicara dalam seminar yang dibuka oleh Rektor UP Prof Dr Wahono Sumaryono ini adalah Sri Nurherwati (Komisioner KOMNAS Anti Kekerasan terhadap Perempuan), Sukma Violetta SH LLM (Wakil Ketua Komisi Yudisial), Prof Dr Sulistyowati Irianto (Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia), dengan Moderator Dr Kunthi Tridewiyanti (Dosen Program Magister Ilmu Hukum UP). Seminar yang dihadiri para jaksa, hakim, pengacara, dan kalangan akademisi ini disertai pementasan kesenian Ludruk dari Jawa Timur yang dikoordinir oleh Dosen Magister Hukum UP Dr Andreas Eno Tirtakusuma SH MH. Kepala Kejaksaan Negeri Biak, Sigit J Pribadi menilai sangat bagus seminar yang disertai kesenian ludruk sebagai budaya bangsa. “Saya di Biak juga kembangkan kesenian kuda lumping, jaipongan, dan lainnya,” kata Kajari Biak. Lebih lanjut, Menteri Susi Pudjiastuti berharap, kejaksaan dan pengadilan harus berpihak pada penegakan hukum yang benar. “Korupsi kita masih di level 37 di Asia, masih tinggi. Kepastian hukum kita bahkan lebih jelek lagi dibanding negara lain. Di sini lah peran ibu-ibu. Wanita lebih banyak bisa menyelesaikan persoalan,” ungkap Susi sembari meminta kaum wanita untuk bekerja menjadi aparat penegak hukum. Kini, menurut Susi, pihaknya bersama TNI AL bisa mengusir lebih 7000 kapal asing pencuri ikan. “Saya tidak mau kompromi dalam penegakan hukum. Tiak ada tawar menawart dan memberi kelonggaran,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan. [caption id="attachment_242746" align="alignnone" width="640"] Rektor UP Prof Dr Wahono Sumaryono beri cinderamata kepada Susi Pudjiastuti usai jadi keynote speaker dalam Seminar Nasional ”Peran Perempuan dalam Pengembangan Budaya hukum” di Magister Hukum UP, Jakarta, Jumat (20/4). (FOTO: Humas KKP)[/caption] Susi mengaku berani meledakkan/menenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan di Indonesia dengan berpedoman pada UU 45/2009. Ia mengunkapkan kalau dilihat dari satelit ada sekitar 7000 – 9000 kapal asing (pencuri ikan/ilegal fishing) dengan bendera asing dan atau dengan bendera Indonesia berkeliaran di lautan Indonesia. “Mengerikan!” serunya. Bagaimana pada mulanya kapal asing pencuri ikan ini bisa bertahan? Menurut Susi, karena berkolanorasi/kongkalikongdengan kalangan oknum pejabat kita, oknum eksekutif, legislatif dan pebisnis kita. “Kita negara berdaulat punya Undang Undang, penegak hukum, aparat hukum, dan lain-lain kenapa kita biarkan kapal asing tranship di tengah laut,” paparnya. “Tranship di laut itu pasti untuk tujuan illegal crime. Ngapain transit di laut? Kan banyak gelombang. Illegal fishing dapat berlangsung begitu lama. Kapal-kapal mereka datang dua bulan sekali untuk menjemputnya, mereka tangkap ikan, binatang-binatang langka, tananam-tanamam langka (di laut). Datangnya (kapal) membawa miras (minuman keras) dan lain-lain,” tambahnya. [caption id="attachment_242526" align="alignnone" width="640"] Kesenian Ludruk yang dipentaskan saat seminar hukum di UP[/caption] “Ini kegilaan. Lebih giola dari saya meledakkan kapal. Mereka mancuri ikan dengan melakukan transhipment. Mereka itu bisnis keuntungannya luar biasa karena zero cost, tidak bayar pajak dan sebagianya. Ini sudah (berlangsung) bertahun-tahuin sehingga hal yang zolim menjadi lazim,” tandasnya. Susi pun menegaskan, bagai kapal asing pencuri ikan ini harus ditenggelamkan. “Kapal-kapal yang bandel kita tenggelamkan. Minggu kemarin, kita juga menangkjap kapal berbendera Sogo tapi didalamnya ada delapan bendera. Kita berhasil tangkap!” serunya. Menteri Susi masih optimis, Indonesia bisa menjadi negara besar asalkan kita harus mau merubah cara kerja karena saat ini dengan kecepatan kemajuan teknologi dan digitalisasi serta globalisasi tak mungkin kita bendung harus merubah cara kerja. "Berarti kita harus berlari. Tidak bisa lagi pelan-pelan lagi," tegasnya. [caption id="attachment_242529" align="alignnone" width="640"] Dr Andreas Eno Tirtakusuma SH MH bersama Kejari Biak Sigit J Pribadi.[/caption] Lebih jauh, ia berharap saatnya Universitas mengkaji kurikulumnya untuk diubah. Karena tidak mungkin kita pakai kurikulum 5-10 tahun yang lalu. "Ini harus menjadi PR para akademisi," tuturnya. Susi mengingatkan, pertumbuhan penduduk Indonesia yang semakin naik dan juga adanya bonus demografi serta era digitalisasi atau mileneal yang makin melebar makin nambah. "Job-job konvensional akan hilang karena digitalisasi, mesinisasi akan semakin terus berkembang," bebernya. Menurutnya, kalau kita tidak mempersiapkan dan membuat 'barier safety' yaitu mengarahkan dan menempatkan surplus demografi maka akan bahaya besar. Sebenarnya, jelas Susi, digitalisasi juga membuka pekerjaan baru, tetapi berapa banyak yang bisa terserap oleh tenaga kerja kita. "Mungkin saya terlalu cemas. Tetapi saya betul-betul mengimbau para akamedisi pakar di universitas untuk memulai menyiapkan tenaga terdidik,” pungkasnya. https://www.youtube.com/watch?v=ht-u7lCLiXo   Menteri Susi mengaku geram dengan banyaknya praktek kejahatan yang terjadi di laut, pencurian ikan, masuknya narkoba melalui perairan, dan masuknya kapal asing ilegal. Ia pun bertekad menghentikan kejahatan tersebut dengan inisiatifnya sendiri. "Kita panggil dubes, pengusaha agent satu per satu. Saya ajak ngobrol dari hati ke hati juga. Saya sudah banyak duit, praktek ini tidak benar beberapa saya kenal baik jadi tolong, kalau you lawan saya, lawan. Kalau you masih tetap kita berkawan, kita tidak usah bicara lagi ikan bicara kapal, semua operation you mesti hentikan," jelasnya. "Dan Alhamdulillah mungkin karena saya wanita, jadi pada gampang nurut, tidak mengajak berantam," tandas Susi disambut ketawa peserta seminar. Pasalnya, lanjut Susi, jika laki-laki tidak merasa direndahkan olehnya. "Kalau laki sama laki ego sama ego biasanya labeling jadi naik. Kalau perempuan ya mereka akhirnya mengalah. Setelah itu, kalau ada kapal yang bandel , kita tengelamkan. Alhamdulillah, tidak ada negara yang protes,” ujarnya. (Red)