#2019 Kita Petarung atau Pecundang?

Oleh: Joko Cahyono, Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur Menggunakan hak tidaklah dilarang, tetapi bijak sikap dalam menggunakan hak tidak menginjak-injak hak orang lain, sekalipun dalam koridor beda pendapat. Bukankah keberagaman merupakan keniscayaan yang tak dapat dielakkan dalam kehidupan kita? Bagi yang bermaksud #2019GantiPresiden silakan saja dengan sejuta argumentasinya, namun bagi yang bersikap #2019JokowiPresidenLagi juga memiliki beragam argumentasi. Siapa yang nantinya dari masing masing pilihannya akan diuji secara konstitusional terpilih menjadi Presiden, maka yang tidak terpilih sepatutnya juga menerimanya dengan profesional dan tidak emosional, apalagi mengganggu jalannya pemerintahan. Kedewasaan pola leadhersip dan sikap bijak, ambisius atau profesional yang beradab bagi seorang pemimpin akan tercermin pada pola perilaku komunitas kader-kadernya. Indonesia bukanlah milik segelintir orang dan sekoloni golongan yang bisa semau gue berbuat di negeri yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini. Demikian juga dalam menjalankam keyakinan dan agama masing masing. Esensinya keseimbangan adalah bagian dari pokok perilaku yang sudah saatnya di zaman now ini dikedepankan...! Bukan siapa lu siapa gue. Semoga kita semua dijauhkan dari golongan orang orang yang dibutakan mata hati kita oleh Allah, hanya karena telah menuhankan pemimpin tertinggi di partai kita, dan mengagamakan kelompok, golongan atau partai kita yang tanpa kita sadari sesungguhnya kita tidak memahami apa di balik target target pribadi pucuk pimpinannya. Kecuali bagi mereka yang nyata-nyata pemimpinnya tidak sedang berlomba mengedepankan sahwat dan ambisi pribadinya dengan dalih mengatasnamakan kepentingam bangsa dan negara dalam laga yang digelar. Semoga semua berjalan dengan baik dan benar.! Dan kita semua dijauhkan dari pola pandang dan kebiasaan sikap dan sifat lalat yang senantiasa terbang ke sana kemari mencari aroma busuk, yang untuk selanjutnya beramai-ramai mengulak ulik busuknya bangkai tersebut, dan menebarkan kebusukan dan keburukan orang lain dengan penuh semangat, serta suka cita tak terkecuali penyakitnya. Tetapi kita lebih terinspirasi sifat lebah yang terbang ke sana kemari mencari harumnya bunga. Dihisap sari madunya, dan akhirnya menjadi madu yang bermanfaat bagi komunitasnya dan makhluk lainnya, tak terkecuali juga bagi kita manusia. Jika memilih #2019GantiPresiden haruskah membongkar habis kebusukan dan keburukan Jokowi', sedangkan nyata-nyata hari ini Jokowi adalah presiden kita, yang seyogyanya harkat martabat sebagai bagian dari warga negara yang ada dalam wilayah Indonesia, yang memiliki adab budaya dan kehormatan sebagai bangsa yang beradap, turut serta menjunjung tinggi pemimpinnya. Suka atau tidak suka Jokowi presiden kita. Demikian juga jika #2019JokowiPresidenLagi bukan berarti membuka aib siapapun rivalnya, tapi lebih bijak jika mengedepankan capaian prestasi dari apa yang telah dan sedang dilakukannya. Silang saling sengkarut opini tak lepas dari lepas kontrolnya pengendalian diri terhadap diri sendiri maupun kader, simpatisan dan loyalis. Kondisi ini dapat dipastikan akan senantiasa menjadi internal problem pola komunikasi dan interaksi keseharian dalam tatanan kehidupan di masyarakat. Bertubi tubinya psikologis public dibentur-benturkan dan dipaksa berbeda pendapat dengan tajam pastilah akan menabung amuk kecamuk dalam setiap personal yang terindoktrinisasi baik langsung maupun tak langsung. Disintegrasi bangsa akan menjadi kekhawatiran berikutnya, karena jiwa-jiwa yang telah terbelah pada dogma, penasbian pemimpinnya, mengagamakan kelompoknya, di mana benar atau salah jika bukan dari kelompoknya maka tidak akan pernah mau menerima kebenarannya. Dan sebaliknya sekalipun salah jika pendapat itu dari kelompok dan komunitasnya, maka dibela mati matian dalihnya. Akankah Indonesia kehilangan marwahnya sebagai bangsa yang berbudaya, beradab, sopan dan sangat toleransi dalam kehidupan keseharian di tengah kebhinekatunggalikaannya?. Sementara budaya gotong royong kini sudah hampir punah, sebab luka jiwa-jiwa yang terbelah karena seringnya diadu antar mereka dalam rangka pencapaian tujuan segelintir orang. Yakni mereka yang mengibarkan bendera sebagai pemimpin, tapi tidak menyadari esensinya jika dia memimpin diri sendiri dan keluarganya saja masih belum mampu. Indikator itu semakin nampak, adalah dengan senantiasa lebih mengemukanya kampanye hitam bagi lawan. Bukan kampanye yang saling menunjukkan prestasi, eksistensi dan kemampuannya. #2109 INI KARYAKU MANA KARYAMU atau #2019 INI PRESTASIKU MANA PRESTASIMU, semoga menjadi bagian dari contoh contoh inspirasi slogan adu jago dalam berdemokrasi. Sesungguhnya kita petarung atau pecundang akan tampak dalam perhelatan pertarungan dan sesudah menerima hasilnya. Karena kita Indonesia, laksana satu penumpang di kapal besar maka siapapun nahkodanya, jika hanya karena ambisi yang tidak kesampaian, lantas kita diam-diam melubangi lambung kapalnya, maka kita akan tenggelam bersama-sama juga.





























