Pilpres 2019, PKB dan Demokrat Dukung Jokowi ?

Pilpres 2019, PKB dan Demokrat Dukung Jokowi ?
Oleh: Dahlan Watihellu (Mantan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam/pengamat sosial politik) PILPRES 2019. Saat ini sudah enam partai telah mendeklarasikan dukungannya ke Presiden Joko "Jokowi" Widodo yang akan kembali maju dalam Pilpres 2019, yakni Partai Nasdem, PDIP, PPP, Partai Golkar, Partai Hanura, dan PSI. Selain itu, Partai Gerindra kemungkinan besar akan mendukung Prabowo Subianto, Ketua Umum mereka, untuk maju kembali dalam Pilpres 2019, serta didukung oleh koalisinya PKS sesuai dengan pernyataan Hidayat Nur Wahid bahwa gabungan Gerindra dan PKS sudah cukup untuk mengusung calon pasangan presiden pada Pilpres 2019. Di poros ini, juga ada PBB perlahan terlihat mulai merapat. Lalu bagaimana dengan sikap politik PARTAI BERKARYA dibawah pimpinan Tomi Soeharto ?. Sebagai petahana, Jokowi memang lebih banyak memiliki keuntungan dibandingkan bakal calon presiden lain. Setidaknya para bakal Calon Wakil Presiden dari kalangan Partai Politik mulai meliriknya. Untuk posisi bakal Calon Wakil Presiden yang akan mendampingi Prabowo belum terlihat ada kandidat yang bermanuver. Sedangkan untuk Jokowi mulai terlihat ada Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari Partai Demokrat yang tengah mengkonsolidasikan diri untuk menjadi Calon Wakil Presidennya Jokowi. Berbicara tentang poros politik dua bakal Calon Wakil Presiden yang ingin mendampingi Jokowi ini cukup menarik dalam membedah teka-teki politik Pilpres 2019. Jika Muhaimin Iskandar diterima sebagai pendamping Jokowi maka Partai Demokrat akan ikut dalam koalisi tersebut. Begitu juga jika Jokowi menggandeng Agus Harimurti Yudhoyono sebagai wakilnya, PKB pun akan kembali menjadi partai pendukung Jokowi - AHY. Jika kedua-duanya tidak digandeng Jokowi, dua partai ini pun tetap menjadi pendukung Jokowi bukan Prabowo. Sikap dua partai politik ini ke Gerindra terlihat kurang bersahabat. Kita berkaca dari perhelatan pilkada DKI 2017 kemarin, PKB dan Partai Demokrat tidak menerima berkoalisi dengan Gerindra dan PKS walaupun nyatanya Anies - Sandi yang didukung Gerindra dan PKS menang sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kenapa pada Pilkada DKI 2017 lalu, PKB berbalik badan dari Ahok dan berkoalisi dengan Partai Demokrat ?. Sebab, disinyalir PKB hanya ingin menjaga eksistensinya dimata santri serta sebagian besar umat Islam DKI dan umat Islam lain di penjuru tanah air yang kala itu mendesak Ahok harus dipenjarakan terkait kasus penistaan agama. Dari sisi kemenangan pilkada DKI, PKB tidak memiliki pilihan untuk berkoalisi dengan Gerindra dan PKS, sebab hubungan emosional yang terbangun bersama (SBY) Demokrat dari tahun 2004 - 2014 masih terawat, sehingga PKB tetap berkoalisi dengan Demokrat untuk mendukung Agus - Silvi walau jauh dari kemenangan. Selain PKB, Dasar politik kenapa SBY menolak berkoalisi dengan Prabowo ?, Ternyata adanya kebuntuan mengenai hubungan Prabowo Subianto dan SBY. Kedua tokoh besar ini sulit disatukan. Mulai dari Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017, kedua tokoh ini terus bersebrangan pilihan politik. Diduga ada ego antar Jenderal, apalagi SBY juga berlatar belakang sebagai seorang mantan presiden RI dua periode, sudah tentu dia (SBY) tidak akan legowo kepada Prabowo. Ego Ini terlepas dari strategi SBY ingin menjadikan anak sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai tokoh yang akan menggantikannya di internal Partai Demokrat serta menjadikannya sebagai jagoan tunggal Partai Demokrat di Pilpres 2019 sebagai wakil Jokowi atau Calon Presiden di tahun 2024. Dari insting politik SBY untuk Pilpres 2019 pun, SBY diduga tidak meyakini Prabowo mampu menumbangkan Jokowi dalam perhelatan tersebut. Dia (SBY) saat ini sudah 'memberi kode' bahwa AHY ingin berpasangan dengan Jokowi atau ikut dalam koalisi. Kode itu dinyatakan saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/3). Dengan bunyi kode "Pak Presiden, jika Allah menakdirkan, senang Demokrat berjuang bersama bapak. Tentu bapak sangat memahami sebagaimana pengalaman saya pada Pilpres 2004 dan 2009 lalu, perjuangan bersama apapun namanya akan berhasil dan menang jika kerangka kebersamaannya tepat dijaga". Dari pernyataan SBY ini, terlihat beliau menyadari ketokohan Agus Harimurti Yudhoyono belum mampu mengalahkan Jokowi atau Prabowo pada Pilpres 2019. Maka dari itu, isu poros tiga yang akan dipimpin Demokrat, kecil kemungkinan terjadi. Sebab, jika PKB berkoalisi dengan Demokrat dalam mengusung pasangan Capres dan Cawapres, jauh dari kemenangan. Sebab, tidak ada figur Capres dan Cawapres yang bisa mengalahkan Jokowi maupun Prabowo Subianto. Dasar inilah mengharuskan dua partai ini tidak mempunyai pilihan lain selain berkoalisi dengan Jokowi. Jika Allah mentakdirkan fenomena politik seperti ini pada Pilpres 2019, hanya Allah jugalah yang berhak menentukan Jokowi atau Prabowo Subianto yang akan memimpin negari ini. Yang pasti dapat dikatakan sikap politik Partai Demokrat dan PKB tidak ingin berkoalisi dengan Gerindra pada Pilpres 2019 nanti merupakan *Pilpres 2019 rasa Pilkada DKI bagi Gerindra. (***)