Permainan Licik AS di Palestina

Permainan Licik AS di Palestina
Sekjen Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Saeb Erekat mengatakan, krisis kemanusiaan di Jalur Gaza hanya mungkin diakhiri dengan mencabut blokade darat, laut dan udara, yang dipaksakan oleh rezim Zionis Israel. Dia menambahkan bahwa situasi di Jalur Gaza semakin memburuk dalam satu tahun terakhir. Rakyat Palestina menekankan bahwa penyatuan geografis antara Tepi Barat dan Jalur Gaza dan pengumuman al-Quds sebagai ibu kota negara Palestina adalah solusi untuk menyelesaikan masalah Palestina. Amerika Serikat di satu sisi menggelar konferensi untuk membahas situasi kemanusiaan di Gaza, dan di sisi lain telah memangkas 300 juta dolar dana untuk Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Pada Selasa lalu, Gedung Putih menggelar sebuah konferensi yang dihadiri oleh sejumlah negara termasuk beberapa negara Arab, untuk membahas krisis kemanusiaan di Gaza. Faksi-faksi Palestina termasuk Otorita Ramallah, menolak undangan pemerintah AS, karena mereka menangkap tidak adanya tekad serius untuk menyelesaikan masalah Palestina. Konferensi ini hanya sebuah pertunjukan di negara-negara Barat dan beberapa negara Arab sekutu AS, dan sama sekali tidak membantu rakyat Palestina meraih cita-citanya. AS tidak lagi memiliki kredibilitas di tengah rakyat Palestina setelah mengakui al-Quds sebagai ibu kota Israel. Di samping itu, AS terus mengadopsi kebijakan anti-Palestina, dan berusaha menyesatkan opini publik mengenai sebuah fakta bahwa krisis Gaza adalah hasil dari perang Israel dan blokade panjang yang direstui oleh Gedung Putih. Pemimpin Otorita Ramallah, Mahmoud Abbas menyatakan bahwa orang-orang Palestina tidak lagi menerima AS sebagai mediator untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel, Washington benar-benar bersikap bias. Meskipun sudah tidak dianggap lagi, pemerintah AS tetap berkeras untuk ikut campur dalam masalah Palestina. Pejabat AS mengatakan bahwa konferensi tersebut merupakan bagian integral dari perundingan masa depan. Penduduk Jalur Gaza percaya bahwa konferensi itu sebagai upaya untuk melindungi Israel dari perang lain dengan Gaza. Pada dasarnya, AS mencoba menghapus isu Palestina dari peta politik dunia dan terus memberi lampu hijau kepada rezim Zionis untuk melanjutkan kejahatannya di tanah pendudukan. AS menghalangi pembentukan negara merdeka Palestina dan melumpuhkan upaya lembaga-lembaga internasional, khususnya badan-badan PBB seperti, UNRWA. Setelah penutupan konferensi tersebut, Israel langsung mengintensifkan serangannya ke beberapa titik di Jalur Gaza, dan rakyat Palestina kembali menjadi target konspirasi Amerika. Jadi, dukungan besar AS kepada Israel hanya akan membuat rezim ini semakin agresif dalam mengobarkan perang dan menjalankan kebijakan ekspansionisnya di tanah Palestina. (ParsToday)