Meneropong Pilgub Jatim 2018 (7):

Meneropong Pilgub Jatim 2018 (7):
Ngonceki Nawa Bhakti Satya Kamil (Khofifah-Emil) - Oleh: Hanif Kristianto, Analis Politik dan Media   Demi merebut simpati. Kata-kata yang disusun dalam program paslon pilgub Jatim 2018 disusun semenarik mungkin. Jika diamati pada peristiwa politik sebelumnya, politisi lebih pada pesan pendek. Tidak pada detail program yang ditawarkan. Seiring berjalannya liberalisasi politik demokrasi, setiap paslon—melalui tim sukses dan konsultan—menawarkan program. Bagi rakyat yang awam, berjibun program dianggap jualan. Terkadang pun rakyat tak tahu maksud dan tujuannya. Nasib jadi rakyat Indonesia, banyak yang tak tahu politik sesungguhnya. Ngonceki Program Kamil Nawa Bhakti Stya terdiri dari 9 program kerja yang akan dilakukan Khofifah-Emil jika terpilih. Di antara program itu ialah (1) Bhakti Jatim Sejahterah, (2) Jatim Kerja, (3) Jatim Cerdas dan Sehat, (4) Jatim Akses, (5) Jatim Berkah, (6) Jatim Agro, (7) Jatim Berdaya, (8) Jatim Amanah, dan (9) Jatim Harmoni. Menurut Khofifah, Nawa Bhakti Satya menyimpan pesan terdalam seperti doa rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhiratu hasanah waqina ‘adzabannar. Jika diamati lebih dalam, jabaran di setiap programnya masih seputar ekonomi, politik, pendidikan, dan infrastruktur. Sesungguhnya ini menggambarkan bahwa demokratisasi di Indonesia masih sebatas wacana. Demokrasi bukanlah sistem politik yang sempurna karena masih banyak celah. Komunikasi politik yang dibangun paslon terkait tawaran program masih terbatas. Belum mampu mewadahi segala potensi dan keinginan rakyat. Program yang ditawarkan pasangan Kamil tak jauh beda dengan pasangan Gusti. Hanya nama dan penjabarannya yang berbeda. Harus diakui kemiskinan, akses pendidikan, pemanfaatan SDA, masih menjadi persoalan utama di Jawa Timur. Adapun persoalan infrastruktur dalam mendukung perekonomian merupakan kerja pusat dan daerah. Semisal pembangunan jalan, pelabuhan, bandara, dan gedung-gedung pendukung. Kemiskinan di Jawa Timur bukan dengan solusi PKH Sejahterah. Harus dipecahkan persoalan dengan menjawab mengapa kemiskinan menimpa keluarga? Kemiskinan sistemik atau struktural diakibatkan sistem ekonomi yang kapitalistik? Mengapa pula lapangan kerja sempit? Cukupkah Job Career menjadi obat? PKH ibaratkan suntikan. Sedikit sekali membantu. Pun program pendidikan tis-tas (gratis dan berkualitas). Setiap paslon lupa dalam membentuk pendidikan yang harus diselesaikan yaitu siste pendidikan, ketersediaan sarana-prasarana, dan akses pendidikan bagi semua. Selama ini pun pendidikan sudah memasuki ranah bisnis yang hanya dijangkau kalangan atas untuk mengakses pendidikan berkualitas. Apakah cukup dengan langkah intensif pembiayaan pada keluarga miskin? (***)