Trump akan Bertemu Kim Jong-un, Pejabat AS Geger

Trump akan Bertemu Kim Jong-un, Pejabat AS Geger
Beberapa jam setelah dirilisnya berita bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut usulan pertemuan dirinya dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, Gedung Putih menentukan syarat bagi pertemuan tersebut. Sarah Sanders, juru bicara Gedung Putih mengatakan, Presiden Trump tidak akan melakukan pertemuan ini tanpa menyaksikan keseriusan dan tindakan nyata Korea Utara. Sementara itu, Trump dicuitan Twitternya tanpa menyebutkan prasyarat, menyambut usulan Kim Jong-un, namun sepertinya tindakan Trump menyambut usulan pemimpin Korut ini dilakukan tanpa koordinasi dengan tim keamanan nasional dan pakar senior Asia Timur. Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson yang tengah melakukan kunjungan ke Afrika, dalam sebuah wawancaranya menyatakan bahwa sikap presiden AS menerima usulan pemimpin Korut diambil secara pribadi. Berbagai media baru-baru ini mengkonfirmasikan bahwa setelah menerima kunjungan penasihat keamanan nasional Korea Selatan yang juga membawa pesan pemimpin Korea Utara bagi presiden AS, Trump segera menerima usulan bertemu dengan Kim Jong-un. Berita terkait kemungkinan pertemuan presiden AS dengan pemimpin Korea Utara yang beberapa hari lalu, kedua negara ini saling mengancam akan saling menghancurkan, menjadi berita paling kontroversial di kalangan elit politik. Amerika berusaha memanfaatkan undangan pemimpin Korea Utara tersebut sebagai indikasi kesuksesannya menghadapi negara ini dan sikap mundur Pyongyang dihadapan represi keras politik dan ekonomi Washington beserta sekutunya. Padahal Korut menyebut keputusan ini sebagai indikasi tekad Pyongyang untuk menggapai perdamaian dan menghapus bahaya perang nuklir di salah satu kawasan paling sensitif dunia. Meski demikian, mengingat reaksi sejumlah politikus Amerika, mulai dari anggota kabinet hingga sejumlah anggota Kongres, sepertinya Washington tidak dengan mudah melupakan isu ancaman Korea Utara. Selama tujuh dekade lalu, Amerika dengan alasan ancaman Korea Utara, khususnya mengingat aktivitas terbaru rudal dan nuklir negara ini, telah menjual senjata senilai ratusan miliar dolar kepada negara-negara kawasan, menempatkan sekitar 100 ribu tentaranya di Jepang dan Korea Utara serta mengubah Semenanjung Korea menjadi zona militer di dunia. Solusi krisis keamanan Semenanjung Korea dan potensi Pyongyang melucuti senjata nuklirnya, telah membuka peluang tepat bagi Amerika untuk melanjutkan kebijakannya di kawasan. Oleh karena itu, sejumlah kalangan meyakini bahwa berbeda dengan Donald Trump pribadi yang cenderung melakukan pertunjukan televisi ketika menjabat tangan pemimpin Korut, arus politik di Amerika tidak menyambut penyelesaian krisis Semenanjung Korea. Michael Hayden, mantan Direktur CIA dan kritikus presiden AS mengatakan, "Saya sangat khawatir gambar yang dirilis dari pertemuan tersebut ketika presiden Amerika berdiri di samping pemimpin Korut dan ini bisa dinilai sebagai pemberian legitimasi Trump kepada pihak lain." Ia menambahkan, "Saya khawatir kita tanpa persiapan yang tepat terlibat dalam perundingan ini melalui presiden, dan hal ini dapat merusak roda perundingan serta menyebabkan konfrontasi kedua pihak semakin besar potensinya untuk jangka waktu yang panjang." Mengingat friksi di dalam negeri Amerika, ditakutkan pertemuan Trump dengan Kim Jong-un tidak akan terlaksana dengan penentuan syarat baru dari Washington.   Ide Pribadi Trump Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, mengakui bahwa keputusan Presiden Donald Trump yang ingin bertemu dengan pemimpin Korea Utara, adalah gagasan pribadi. Seperti dilansir The New York Post, Jumat (9/3/2018), Tillerson menuturkan, keputusan untuk menggelar pertemuan antara Donald Trump dan Kim Jong-un, adalah keputusan pribadi presiden AS. Kamis lalu, Tillerson mengatakan saat ini bukan waktunya untuk melakukan perundingan dengan Korea Utara, dan ia mencoba menjelaskan perbedaan antara dialog dan negosiasi untuk meralat komentarnya. Sementara itu, Senator Demokrat, Ed Markey mengatakan, Tillerson belum mengetahui keputusan Trump untuk berbicara dengan Korea Utara. "Para pejabat pemerintah berbeda sikap soal wacana pertemuan antara pemimpin AS dan Korea Utara," tambahnya. Trump melontarkan gagasan pertemuan tersebut setelah para pejabat Korea Selatan berkata kepadanya bahwa Kim Jong-un tertarik untuk bertemu dengan presiden AS. Sejumlah pejabat AS memperingatkan Presiden Trump terkait proses perundingan saat ini dengan Korea Utara. (ParsToday)