Bimtek Roasting Coffee, Upaya Kemenkop Tingkatkan Daya Saing KUKM

Jakarta, Obsessionnews.com - Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, I Wayan Dipta menegaskan bahwa Bimbingan Teknis (Bimtek) roasting coffee, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing KUMKM agar tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan (naik kelas) demi mendukung kemandirian perekonomian nasional, serta memperkuat keberadaan KUKM baik di kancah lokal, nasional maupun internasional. “Mengapa demikian? Karena kenyataannya masih banyak KUMKM yang belum dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya, terutama permasalahan intern klasik yang tidak dapat diselesaikan oleh kalangan Koperasi dan UKM dan masih memerlukan motivasi dan dukungan pemerintah pusat, maupun daerah supaya dapat meningkatkan produktivitas usaha yang bersifat prospektif,” kata Wayan melalui siaran pers, Kamis (1/3/2018). “Itu sebabnya, kami terus berupaya memfasilitasi Koperasi maupun UMKM dengan potensi kopi dengan varietas yang sangat baik, untuk dapat mempercepat peningkatan kualitas produk kopi dan difokuskan pada Roasting Coffee, karena proses ini sangat menentukan citarasa kopi yang akan dinikmati. Saya dengar, citarasa kopi mampu divariasikan sesuai selera, tergantung pada bagaimana proses roasting inidilakukan,” lanjut Wayan. Guna meningkatkan daya saing dan kualitas produk yang dihasilkan, Kemenkop dan UKM menggelar bimtek kepada KUKM khususnya pelaku usaha kopi. Materi yang diberikan terutama menyangkut Roasting Coffee (proses sangrai kopi). Bimtek intinya diarahkan untuk mempercepat peningkatan kualitas produk kopi dan difokuskan pada proses Roasting Coffee. Asdep Industri dan Jasa Kemenkop dan UKM, Ari Anindya Hartika menegaskan, kegiatan Bimtek tersebut difokuskan untuk menganalisa manfaat keberadaan energi terkait pengembangan usaha dan memberikan peluang kerja bagi masyarakat sekitarnya, memberikan kemampuan dalam merancang, melaksanakan, dan mengola usaha produktif, memahami kewirausahaan dan operasionalisasi usaha produktif khususnya kopi dari sumber energy mikro hidro. Kepala Bidang Jasa dan Aneka Usaha, Eko Adi Priyono menambahkan, selaku penyelenggara atau fasiltator pihaknya menyatakan kegembiraannya karena semua peserta maupun para narasumber tampak antusias dan bersemangat dalam pelaksaan kegiatan bimbingan teknis tersebut. Indonesia adalah salah satu Negara produsen (Data 2016-2017 sebanyak 11.491 ton) dan eksportir kopi paling besar di dunia (2016-2017 sebanyak 6.891 ton). Kebanyakan hasil produksinya adalah varietas robusta yang berkualitas lebih rendah. Indonesia juga terkenal karena memiliki sejumlah kopi khusus seperti 'kopi luwak' (dikenal sebagai kopi yang paling mahal di dunia) serta 'Kopi Mandailing' dan “Kopi Gayo”. Berkaitan dengan komoditi-komoditi agrikultur, kopi adalah penghasil devisa terbesar keempat di Indonesia setelah minyak sawit, karet dan kakao. Pada saa tini, perkebunan kopi Indonesia mencakup total wilayah kira-kira 1,24 juta hektar, 933 hektar perkebunan robusta dan 307 hektar perkebunan arabika. Lebih dari 90 persen dari total perkebunan dibudidayakan oleh para petani skala kecil yang memiliki perkebunan relativekecil atau masing-masing sekitar 1 - 2 hektar. Bandingkan dengan pesaing seperti Vietnam, Indonesia tidak memiliki perkebunan kopi yang besar dan oleh karena itu menemukan lebihbanyak kesulitan untuk menjaga volume produksi dan kualitas yang stabil, sehingga daya saing kopi Indonesia di pasar internasional kurang kuat. Data dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) menunjukkan, para petani Indonesia bersama dengan kementerian-kementerian terkait berencana untuk memperluas perkebunan-perkebunan kopi Indonesia, sambil meremajakan perkebunan-perkebunan lama melalui program intensifikasi. Dengan meningkatkan luas perkebunan, produksi kopi Indonesia dalam 10 tahun kedepan ditargetkan dapat mencapai antara 900 ribu ton sampai 1,2 juta ton per tahun. Yang jelas, didorong meningkatnya permintaan global dan domestik, dibutuhkan investasi di sektor kopi Negaraini. Selain meningkatkan kuantitas biji kopi, kualitas juga diprediksi akan meningkat karena inovasi-inovasi teknologi. Kendati begitu, produksi kopi per hektar Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara utama penghasil kopi lainnya. Menurut data tahun 2015, Indonesia memproduksi 741 kilogram biji robusta per hektar dan 808 kilogram biji arabika per hektar. Di Vietnam, angka ini mencapai 1.500 kilogram per hektar dan di Brazil angkanya sudah menyentuh 2.000 kilogram per hektar. (Has)





























