Strategi sang Imam Besar

Strategi sang Imam Besar
Oleh: Fadlan Akbar Ketika kalamullah dinista antek-anetk cina asing. Dan banyak oknum pejabat muslim tak ambil pusing.. Aparat keamanan pun acuh tak menganggap penting. Sang Imam Besar bangkit menantang tanding. Dalam sepi ia teriakkan takbir memecah hening. Kobarkan semangat pembelaan Agama yg Suci nan Bening. Sang Imam Besar berusaha dijatuhkan hingga terbanting. Dengan aneka hasutan, fitnah tuduhan miring. Bermodal percakapan mesum palsu dari chating. Beliau dipojokkan dan dituding. Diburu laksana rampok, garong dan maling. Bahkan sniper- sniper disiagakan dibalik tembok dan dinding. Membidik sang Imam yg tetap tegar kokoh tak bergeming. Sang Imam Besar menempuh jalan hijra ditanah tandus gersang dan kering. Tudingan tak kunjung sepi bahkan semakin nyaring. Menyalak laksana gonggongan sekawanan anjing- anjing. Musuh-musuh Islam benar - benaƕ telah kalap dan sinting. Setelah junjungan mereka kalah telak dalam perang tanding. Dan di ibu kota dua pemimpin muslim pun bersanding. Penista Agama dibalik jeruji tertunduk pusing. Sebab dana para naga telah ludes mengering. Sang Imam Besar telah ajarkan pada ummat pelajaran penting. Kemenangan itu tidak diraih dengan duduk dan berbaring. Akan tetapi dengan gerakan yg tak berhenti meski keadaan genting. Menyiapkan strategi jitu agar lawan bisa terpancing. Keluar dari persembunyiannya berbaris beriring- iring. Pecahkan keheningan malam dengan serinai yg terus berdering. Dan Nun jauh di sana Sang Imam mampu mengawasi lawan dan terus menggiring. Meneliti setiap informasi berita dan menyaring. Memancing kawanan piranha hanya dengan umpan murah seekor cacing. Rekaman suara ingin kembali ke arena tanding. Dan siapkan penjemputan laksana pasangan pengantin. Strategi sang Imam Besar menari-nari di atas angin. Sang Imam menang telak sebelum naik gelanggang tanding. Piawai mengecoh lawan dan menguras dana mereka hingga hampir kering. Cebong cebong pun semakin pusing tujuh keliling...tuwing...tuwing...tuwing...Allahu Akbar...