Politik dan Sepak Bola

Saya adalah penggemar sepakbola, setiap ada final sepakbola saya berusaha menonton di televisi, begitu juga tadi malam (Sabtu malam). Meski "jagoan" saya Persib sudah tersisih dan tidak masuk final, tadi malam saya tetap menonton pertandingan final Piala Presiden antara Persija dan Bali United. Stadion baru Gelora Bung Karno, gemuruh 72 ribu lebih penonton, kehadiran beberapa pejabat tinggi, menteri dan gubernur DKI Jakarta membuat aura pertandingan begitu bergairah. Saat pembawa acara mempersilakan Panitia memberikan sambutan dan yang muncul adalah Maruarar Sirait (Ara) saya sudah membatin "wuih ketua panitianya Bang Ara, politisi PDIP, semoga kejuaraan ini murni olah raga tidak ada nuansa politis. Kalau murni olah raga pasti Bang Ara menyebut Gubernur DKI Jakarta, tetapi bila ada muatan politisnya pasti nama Gubernur DKI tidak disebut saat ia memberikan sambutan" Dan ternyata, jeder...nama gubernur DKI Jakarta tidak disebutkan dalam sambutan Bang Ara. Saya berpikir positif "mungkin dia lupa, atau untuk menjaga netralitas karena kesebelasan sang Gubernur DKI sedang hendak bertanding di babak final". Apalagi selama pertandingan, saat pemain Persija mencetak gol, Presiden Jokowi terlihat menyalami Gubernur DKI. Saya semakin yakin bahwa pikiran positif saya benar. Saya pun menikmati pertandingan final tadi malam. Namun, saat Paspampres menghalangi Gubernur DKI untuk ikut turun podium memberikan selamat kepada sang juara, pikiran positif saya buyar. Mengapa? Ada beberapa alasan, Pertama, dalam UU 9 tahun 2010 setahu saya Gubernur wajib mendampingi Presiden di acara di wilayahnya. Bukankah Gelora Bung Karno itu di wilayah DKI Jakarta? Kedua, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, memang bukan pemilik Persija tetapi para pendukung Macan Kemayoran sebagian besar adalah warga Jakarta, nama klub juga mencantumkan kata Jakarta. Bahkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno konon sudah menganggarkan 18 milyar untuk menyiapkan markas Persija. Boleh dong sebagai gubernur ia memberi selamat kepada klub yang identik dengan Jakarta ini. Pak Anies, tetaplah jadi Pemimpin yang benar-benar Memimpin! Repost @jamilazzaini (@get_repost)Jakarta, 18 FebruariJamil Azzaini - Warga Jakarta





























