Zaadit dan yang Akan Datang

Oleh: Widhyanto Muttaqien, Penikmat kopi dan buku Tuntutan Zaadit ok. Tiga tuntutannya terkait kesejahteraan, ketaatan hukum, dan kebebasan berekspresi di kampus. Cara menyampaikannya juga ok. Dengan simbol. Elegan, sopan, dan berbudaya, terkesan kurang nakal. Maklum anak pengajian. Kalau Zaadit anak kemaren sore, iyalah, masih lucu. Tapi Zaadit sukses mengisi kekosongan itu. Speak up! Diam tidak cukup, nyinyir bukan pilihan intelek. Opini yang ingin memberangus Zaadit aneh kali kubaca. Macam anak tanggung berusia 45 tahun ke atas. Kupikir regresi psikologi itu omong kosong, ternyata tidak. Bicara moral - realisme sosial ala Max Havelaar cukup menggetarkan. Kejadian di Asmat menggetarkan benak sebagian mahasiswa - sebagian saja lho. Ini pun cukup progresif, setidaknya satu langkah kecil yang menggetarkan membran kekuasaan yang tipis dan beresonansi baik di ruang yang ditinggalkan banyak aktifis zaman old dan now. Memilih bersuara dan menerima serangan balik cocok dengan simbol kartu kuning. Soal tantangan ke Asmat diterima saja Zaadit, ditagih terus, tidak ada yang lebih merisaukan dibanding melihat raja telanjang berkeliling hanya untuk melihat kesetiaan para pemujanya. Ini bukan soal suka atau tidak suka, ini soal kebijakan publik, siapapun berhak protes, semoga Zaadit bukan yang terakhir. Ketua BEM lain dan mahasiswa mulai merumuskan kembali masa depan. Pikiran kalian dibutuhkan, kalau masih disebut mentah tak apa - yang penting jangan bawa pikiran renta dan basi. Menurut saya kamu itu ok, BEM secara kolektif juga ok. Mau menyemprit lagi dengan kartu merah juga ok. Dalam pertandingan bola memang selalu dua lawan saling beradu, normal saja, Dit. Menerima kenyataan hidup zaman sekarang termasuk perundungan bagian dari titik tolak dalam aktivitas kamu selanjutnya. Berimanlah pada perubahan dan optimisme. (***)





























