Dosen Unsoed yang Mendunia Melalui Jambu

Dosen Unsoed yang Mendunia Melalui Jambu
Keanekaragaman hayati hanya akan sebatas kenangan belaka, manakala para ilmuwan tidak berusaha untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi kekayaan alam tersebut. Tidak hanya itu, tanpa proses pengidentifikasian yang cermat dan hati-hati, maka akan terjadi kesalahan yang dapat berimbas pada kualitas temuan-temuan terapan, seperti di bidang pertanian, peternakan, kesehatan, perikanan, serta ragam aplikasi hayati lainnya bagi masyarakat. Hal ini dikemukakan oleh Dr.Pudji Widodo,MSc. salah satu dari enam orang ahli taksonomi di dunia, khususnya dalam bidang jambu atau syzygium. "Kebetulan ahli taksonomi, khususnya dalam bidang jambu di dunia, selain Dr.Pudji Widodo,MSc. yang dari UNSOED ini, pemerhati taksonomi jambu di dunia yang lain ada 5 (lima), yakni dari AS, Australia, Irlandia, Thailand, dan Malaysia. Jambu memang sangat kompleks dan termasuk jenis yang sulit untuk diidentifikasi atau diklasifikasi. " tutur Dr.Pudji Widodo,MSc. (Kepala Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Fakultas Biologi UNSOED) ini. Ketertarikannya dengan jambu sesungguhnya dimulai saat dirinya tengah studi doktoral di mana promotornya memberikan gambaran bahwa kajian taksonomi atas jambu masih sangat sedikit sekali yang menggelutinya. Tidak hanya raihan doktor yang digapai, kecintaannya terhadap jambu, membuatnya berhasil menemukan tidak kurang 150 jenis varian dari buah jambu di Sumatera. Untuk memvalidasi bahwa varian tersebut khas hanya ada di Indonesia, maka dia melakukan riset atas jambu sejumlah negara di Asia Tenggara termasuk Asia Selatan di mana akhirnya temuannya merupakan jenis varian baru dan hanya dapat ditemukan di Indonesia. Apresiasi dunia internasional pun bukan sekadar ilusi. Hal ini tampak dengan diterbitkannya buku Syzygium of Sumatra yang diterbitkan oleh LAP Lambert Academic Publishing pada tanggal 13 September 2011. Buku dengan No. ISBN : 3845439653 ini merupakan refleksi dan representasi, bahwa kapabilitas serta kompetensi akademisi Universitas Jenderal Soedirman telah diakui dunia dan diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika UNSOED untuk juga berkarya, bermakna, dan juga mendunia   Jambu Semarang Jambu semarang atau sering disebut jambu air besar merupakan salah satu jenis buah tropis yang sangat populer dan disukai di Indonesia.  Jambu ini terdiri atas beberapa kultivar yang sangat bervariasi baik bentuk, warna, dan rasanya.  Buah jambu semarang sangat bermanfaat sebagai buah segar, rujak, jus, dan jeli, obat diare, anti bacteria, aktivitas imunofarmakologi.  Pemulia tanaman berusaha mendapatkan jambu yang lebih unggul untuk masa yang akan datang. Dr.Pudji Widodo,MSc. (pakar jambu semarang dan jambu air di Indonesia)  menyebutnya jambu semarang sebab sudah sejak tahun 1826 sudah diberi nama Myrtus samarangensis oleh Blume seorang ilmuwan Belanda. Selanjutnya pada tahun 1938 diubah menjadi Syzygium samarangense oleh Merril dan Perry yang merupakan botaniwan dari Amerika Serikat.  Kebanyakan nama jambu diberikan oleh botaniwan dari Eropa dan Amerika, baru sedikit yang ditulis oleh ahli dari Asia. Pohon jambu semarang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Setiap pohon jambu yang berumur lebih dari 5 tahun dapat menghasilkan buah jambu hingga 30 Kg per tahun. Jika ada 200 pohon maka dapat menghasilkan jambu 6.000 kg setahun. Jika rata-rata harganya Rp 5.000,- per kg maka pendapatannya Rp 30 juta setahun, jika harganya lebih maka pendapatan petani juga bertambah besar. Varietas jambu sangat banyak, mungkin bisa mencapai seratus. Hasil survai Dr.Pudji Widodo,MSc di Sumatera, Jawa, Papua, dan Malaysia menunjukkan banyaknya jambu kultivar jambu semarang.  Karena demikian banyaknya variasinya maka untuk memudahkan mengenalnya, Dr.Pudji Widodo,MSc menggolongkannya menjadi empat subspecies sebagai berikut :  
NoGambarSubspeciesWarna BuahContoh
1ViridisDidominasi warna hijau walaupun sudah masakjambu kaget hijau, lilin hijau, cincalo hijau
2AlbumPutihmadura putih, mutiara, kaget putih
3RoseumDidominasi warna merah muda walaupun sudah masaksukaluyu, demak, madura merah, gondrong
4RubrumDidominasi warna merah tua bila sudah masakblack diamond, king rose apple, citra, irung petruk
  Banyak Jambu Terancam Punah Satu per satu jambu terancam punah bila tidak segera dilakukan perbanyakan, terutama bagi jambu yang jarang berbiji.  Pada tahun 2011 ada pohon jambu yang sangat aneh karena daunnya sangat tebal di Desa Silado, tahun 2013 ditebang.  Jambu merah maroon di Kemutug Kidul Baturraden ditebang tahun 2014.  Pada tahun yang lebih kurang sama, dua jambu kaget putih ditebang di Arcawinangun dan di Kebumen.  Banyak masyarakat tidak mengetahui jenis dan manfaat jambu sehingga tidak menganggapnya penting dan langsung menebangnya bila banyak ulatnya.   JAMBU SEMARANG dan JAMBU AIR Informasi di bawah dari Dr.Pudji Widodo,MSc sebagai acuan dalam mengenal berbagai kultivar jambu semarang yang selama ini dikacaukan dengan jambu air.  Dengan demikian mudah-mudahan kerancuan yang selama ini terjadi dapat diluruskan.  Jambu semarang [Syzygium samarangense (Blume) Merr. & L.M. Perry] berbeda dengan jambu air [Syzygium aqueum (Burm. f.) Alston]. Meski dalam beberapa hal bentuknya mirip, jambu semarang memiliki warna yang lebih bervariasi yaitu hijau, putih, kekuningan, merah jambu, merah, dan merah tua kehitaman, dengan permukaan yang kurang mengkilat.  Sedangkan jambu air, berwarna merah jambu, merah sampai merah tua, dengan permukaan yang mengkilat.  Rasa jambu semarang umumnya manis bercampur sepet, sedangkan jambu air umumnya terasa asam.  Namun demikian, banyak jambu yang merupakan peralihan kedua spesies jambu tersebut. Berkat bantuan kolega, dan masyarakat, Dr.Pudji Widodo,MSc berhasil mengumpulkan foto berbagai kultivar jambu semarang dari berbagai lokasi di Indonesia maupun Malaysia. Dr.Pudji Widodo,MSc mengucapkan terima kasih sampaikan kepada masyarakat pemilik pohon jambu baik di Sumatera, Jawa, Papua, dan Malaysia.  Tanpa ijin mengambil gambar (foto), maka tak mungkin Dr.Pudji Widodo,MSc memiliki ratusan foto kultivar jambu semarang.  Tanpa dukungan Wening Widowati (55 tahun – istri Dr.Pudji Widodo,MSc.) yang setia menemani survei setiap Sabtu atau Minggu, maka hampir tidak mungkin koleksi bertambah setiap saat. Peran Wening Widowati (istri Dr.Pudji Widodo,MSc.) sangat besar karena dialah yang sering lebih awas dalam melihat pohon jambu yang berbuah.  Bila survei hanya dilakukan oleh Dr.Pudji Widodo,MSc. sendiri, maka lebih banyak pohon yang terlewati.  Biasanya setiap hari libur Dr.Pudji Widodo,MSc. dan istrinya Wening Widowati “blusukan” ke desa-desa untuk mengamati berbagai tanaman buah. Dr.Pudji Widodo,MSc. menyadari bahwa masih banyak kultivar jambu yang belum terliput, terutama dari pulau Kalimantan, Sulawesi, dan sebagian besar pulau lain di Indonesia.     Syzygium samarangense (Blume) Merr. & L.M. PerryPendahuluan Jambu Semarang merupakan salah satu jenis buah tropis yang sangat populer dan disukai di Indonesia.  Jambu ini terdiri atas beberapa kultivar yang sangat bervariasi baik bentuk, warna, dan rasanya.  Buah jambu semarang sangat bermanfaat sebagai buah segar, rujak, jus, dan jeli (Morton 1987), obat diare (Ghayur, 2006), anti bacteria (Ratnam & Raju, 2008), aktivitas imunofarmakologi (Kuo et al, 2004).  Pemulia tanaman berusaha mendapatkan jambu yang lebih unggul untuk masa yang akan datang. Pohon jambu semarang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Setiap pohon jambu yang berumur lebih dari 5 tahun dapat menghasilkan buah jambu hingga 30 Kg per tahun. Jika ada 200 pohon maka dapat menghasilkan jambu 6.000 Kg setahun. Jika rata-rata harganya Rp 5.000,- per kg maka pendapatannya Rp 30 juta setahun, jika harganya lebih maka pendapatan petani juga bertambah besar (Muin 2010). Jambu semarang pertama kali dipublikasikan sebagai Eugenia javanica Lam. Encycl. 3: 200 (1789);Koord. & Val. Atlas Baumart. Java, 3: f. 452 (1915);Myrtus samarangensis Blume, Bijdr.: 1084 (1826). Jambosa obtusissima (Blume) DC., Prodr. 3: 287 (1828);J. samarangensis (Blume) DC., Prodr. 3: 286 (1828);dan J. alba (Roxb.) G.Don, Gen. Hist. 2: 868 (1832).  Bahkan spesimen tipe dari tumbuhan ini pun menjadi tidak jelas. Banyaknya kultivar jambu semarang menyebabkan kesulitan dalam penentuan jenis asli (S.samarangense var. samarangense). Spesiasi terus terjadi akibat pemuliaan dan seleksi jambu untuk menghasilkan jambu yang unggul. Akibatnya, muncul banyak kultivar antara lain: jambu apel, Bangkok, Camplong, Cikampek, cincalo semarang, ch Gondrong, ch merah, ch hijau, citra, demak, jamaika, kaget putih, kaget hijau, lilin hijau, l. merah, madura putih,, m. merah, merah delima (Hariyanto 2003), mutiara, dll. Selain itu, ada beberapa jambu peralihan antara S. samarangense dan S. aqueum (Burm.f.) Alston (Widodo 2011). Beberapa kota di Jawa telah menjadi sentra jambu semarang, meskipun dengan kultivar yang terbatas misalnya jambu citra dan delima.  Salah satu sentra jambu semarang adalah Desa Jungpasir Kecamatan Wedung Kabupaten Demak yang belakangan ini menjadi sentranya pembudidayaan buah jambu, sehingga di desa ini semua pekarangan rumah warga telah tumbuh subur pohon Jambu. Selain itu banyak pula warga desa yang mengembangkan usaha tanaman jambu ini secara besar-besaran dengan jumlah pohon jambu berjumlah ratusan, sehingga dalam setahunnya bisa manghasilkan ribuan kg buah jambu (Muin, 2010). Jambu semarang merupakan pilihan tepat bagi para pecinta tanaman buah pemula, karena tanaman ini tidak terlalu sulit dirawat, dan termasuk yang paling mudah di antara jenis buah lain. Dengan perawatan yang tidak terlalu berat, jambu semarang bisa berbuah lebat bila cukup mendapatkan sinar matahari yang panas, segera muncul bunga yang selanjutnya menjadi buah.  Jadi jambu semarang akan lebih baik jika ditanam di dataran rendah yang banyak matahari.  Meskipun demikian, bukan berarti jambu semarang tidak cocok ditanam di daerah bercurah hujan tinggi.  Banyak jambu semarang yang ditanam petani tetap rajin berbuah (Rudi 2007). Jambu citra memang diakui keunggulannya, tetapi jambu ini paling sulit dirawat (Cahyana 2006).  Tanpa perawatan optimal, pangkal buah mudah retak, selain itu buah mudah rontok.  Pangkal buah yang mudah retak dan buah yang rontok dapat diatasi dengan penyemprotan pupuk yang mengandung Ca tinggi dengan dosis 2 ml/l yang diberikan 14 hari sekali. Diversitas morfologi Dengan perkembangan lingkungan alam, pertanian, dan hortikultura, maka jambu semarang menjadi sangat bervariasi.  Demikian juga jambu air, pada lingkungan alam yang berbeda bentuk, warna, dan rasanya pun berbeda-beda.   Dalam menentukan konsep species yang mungkin untuk membedakan antara kedua species tersebut adalah warna buah, sifat permukaan kulit, dan rasa buah. Kebanyakan jambu semarang di Jawa menunjukkan bentuk yang bulat dan panjang, dengan tekstur yang lunak, sementara jambu semarang yang ditemukan di Papua banyak di antaranya berbentuk pipih secara vertikal, selain itu teksturnya juga relatif lebih keras (crunchy), sehingga kalau dimakan menimbulkan bunyi kreas-kreas. Sosok Umumnya berupa pohon berukuran kecil atau sedang, dengan tinggi antara 4 – 15 m, berdiameter 5 – 40 cm. Pohon yang kecil misalnya pada Syzygium samarangense ‘Putih’, ‘Citra' yang ditanam sebagai tanaman buah di dalam pot (tabulampot). Sedangkan pohon yang besar misalnya S. samarangense ‘Pudding’.  Batang tegak atau agak berbelak-belok tidak teratur, banyak bercabang;batang berwarna kelabu kecoklatan. Kulit batang kasar, mengelupas atau tidak. Ranting   Ranting umumnya menyilinder atau agak pipih di bawah buku batang, jarang bersegi empat.  Warna ranting umumnya coklat kemerahan, makin ke ujung berubah menjadi hijau. Ranting umumnya tebal, berdiameter antara 2 – 4 mm, tetapi ada yang ramping, hanya berdiameter 1,5 – 2 mm seperti pada kultivar ‘Kosong”. Daun Daun umumnya bertangkai pendek, menebal, dan bengkok.  Helaian daun menjorong, memanjang sampai melanset berukuran panjang bervariasi antara 6 – 30 cm, lebar antara 4 – 15 cm.  Daun yang berukuran panjang misalnya pada jambu ‘Kaget Hijau’, ‘Kaget Putih’ dan ‘Merah Delima’.   Daun muda umumnya berbau harum tetapi ada juga yang tidak. Bunga Bunga umumnya majemuk, terdiri dari 3, 9, 15, atau lebih bunga, yang tumbuh di ujung, ketiak daun, pada ranting, maupun pada cabang tua.  Tangkai bunga bervariasi panjangnya dari yang hanya 3 – 5 mm.  Kelopak bunga setengah lingkaran, hijau kekuningan, atau putih, kadang-kadang dengan ujung agak transparan;panjang 3 – 5 mm, lebar 8 – 10 mm.  Mahkota membundar, panjang 8 – 12 mm;berwarna putih.  Benangsari sangat banyak, antara 200 – 500 benang, dengan panjang 3 – 4 cm.  Putik berdiameter sekitar 1 mm dengan panjang mencapai 4 cm. Buah Buah jambu semarang umumnya berbentuk lonceng, memiliki tangkai semu (pseudostipe), atau tanpa tangkai semu misalnya pada jambu yang berbentuk membulat, atau membulat telur terbalik, ada juga jambu yang memipih secara vertikal, dan cekung pada pangkalnya, misalnya beberapa kultivar dari Papua.  Ujung buah rata, atau menonjol, berpinggang atau tidak berpinggang. Warna buah bervariasi dari hijau tua seperti pada ‘camplong’, hijau muda seperti pada ‘Madura Hijau’, putih misalnya ‘Kaget Putih’, ‘Putih IPB Baranangsiang’, dan ‘Putih Fateta IPB’;berwarna kuning antara lain ‘Kancing Kuning, merah jambu antara lain ‘Pink Rose’;berwarna merah antara lain ‘Citra’, ‘Lilin Merah’, dan ‘Kaget Merah’;merah tua kehitaman misalnya ‘Black Diamond’. Jambu semarang memiliki rasa manis bercampur sepet, bernilai ekonomi tinggi antara lain ‘Citra’, ‘Demak’, ‘Cincalo’.  Rasa sepet pada jambu semarang merupakan indikasi adanya tannin yang meskipun hanya sedikit, dapat dimanfaatkan sebagai antibiotik.  Ada juga rasa jambu yang membingungkan, karena penampakan luarnya seperti jambu semarang, tetapi rasanya asam seperti jambu air. Kandungan kimia Buah jambu semarang  umumnya memiliki rasa manis dan sepet, karena mengandung gula dan tannin.  Selain itu buah jambu ini juga mengandung  desmethoxymatteucinol, 5-O-methyl-4'-desmethoxymatteucinol, asam oleanat dan B-sitosterol (Morton 1987).  Kandungan zat kimia ini bersifat antibiotik terhadap Staphylococcus aureus, Mycobacterium smegmatis, dan Candida albicans (Ghayur et al 2006). Manfaat
  1. Buah segar
  2. Salad buah, rujak, manisan, minuman segar
  3. Bunganya yang terasa sepet digunakan di Taiwan dimanfaatkan sebagai obat demam dan diare (Morton 1987)
  4. Kayunya sebagai bahan perabot rumah tangga
  5. Kayu bakar terdiri dari dahan dan ranting jambu semarang yang telah dikeringkan
  6. Daunnya dimanfaatkan sebagai pembungkus tapai ketan, karena teksturnya tebal dan kuat.
  Stabilitas ‘kultivar’ Istilah ‘kultivar’ di sini (masih dalam tanda petik) karena banyak di antaranya mungkin belum dipublikasikan secara formal.  Stabilitas ‘kultivar’ jambu semarang diukur dengan berbagai karakter yang berhubungan dengan morfologi, distribusi, dan penamaan.   Suatu kultivar boleh dianggap stabil bila terdapat di berbagai lokasi,  sudah dikenal banyak orang, ada namanya.  Makin luas daerah distribusi, makin stabil kultivar tersebut. Kultivar adalah suatu tanaman yang: (a) telah terpilih dengan karakter atau kombinasi karakter tertentu, (b) berbeda, seragam, dan stabil dengan karakter tersebut, dan (c) bila ditanam kembali akan tetap memiliki karakter tersebut  (Brickell et al., 2009).  Tidak ada tanaman yang dianggap kultivar atau Group bila kategori, nama, dan karakteristiknya belum dipublikasikan.  Kultivar boleh dikatakan stabil bila ditemukan sekurangnya di dua tempat yang subur dan dua tempat yang tidak subur (Storck,1998).  Kultivar dianggap stabil bila seragam.   Distribusi  Jambu semarang tersebar di berbagai wilayah dari Asia Selatan, Asia sampai Asia Tenggara dan Pasifik.  Jambu yang sama bila tumbuh di wilayah tertentu memiliki karakteristik tertentu pula yang khas.  Misalnya beberapa kultivar jambu semarang di Sumatera memiliki daun lebar, tebal, dan kaku, sementara di Jawa daun jambu semarang umumnya tipis dan sempit.  Di Papua banyak jambu semarang dan jambu air berbentuk pipih, dengan tekstur yang keras.  Sedangkan di Jawa umumnya tekstur buahnya lunak. Ekologi Sebagai tanaman buah di halaman, pekarangan, maupun di perkebunan baik di desa maupun kota.  Jambu semarang bila ditanam di dataran rendah dekat pantai, terutama pantai utara Jawa, maka hasilnya menjadi sangat manis.  Oleh karena itu pantai utara Jawa dari barat sampai timur merupakan sentra jambu semarang.   Gambar 2. Persawahan di Desa Jungpasir Kecamatan Wedung Kabupaten Demak merupakan salah satu sentra jambu semarang.  Hampir semua kultivar jambu semarang berasa sangat manis.  Foto: Pudji Widodo Beberapa kultivar antara lain:
  1. Syzygium samarangense ‘Kaget Putih’
Pohon kecil sampai sedang, tinggi 5–8 m, diameter batang 10–20 cm, kanopi membulat.  Daun menjorong sampai memanjang, tebal kaku, dengan permukaan atas berwarna hijau tua, permukaan bawah hijau pucat;panjang 20–28 cm, lebar 7–10 cm;Buah melonceng dengan tangkai semu sekitar setengah panjang buah;buah dengan panjang 5–6 cm, diameter 4–5 cm;berwarna putih susu;kandungan air relatif tinggi sehingga relatif berat;manis sedikit asam, sedikit sepet. Stabilitas: stabil Distribusi: Purwokerto, Arcawinangun 7ᵒ 24 58.69” S, 109ᵒ 15’ 39.66” E;Kober;Banyumas Kemranjen;Yogyakarta, Gambiran.  
  1. Syzygium samarangense ‘Mutiara’
Pohon sedang tinggi 10–13 m, diameter batang 20–30 cm.  Daun memanjang sampai melanset, panjang 20-25 cm, lebar 4–5,5 cm. Buah mengerucut ramping, tanpa tangkai semu, ditengahnya berongga relatif besar, tebal deging buah 4–6 mm;panjang 4–6 cm, diameter ujung 2,5–4 cm, diameter pangkal buah 2 cm;warna buah putih;rasa buah sepet sedikit manis, banyak mengandung air.  Biji 2–4. Stabilitas: stabil Distribusi: Yogya Gambiran, dan beberapa tempat lain  
  1. Syzygium samarangense ‘Madura Putih’
Pohon kecil, tinggi 4–5 m, diameter batang 10–20 cm.  Bangun daun menjorong, panjang 15–25 cm, lebar  7–12 cm, pangkal daun membundar, ujung daun membundar, sering terbelah atau berlekuk.  Buah berbentuk delta, membulat telur terbalik, panjang 4–5 cm, diameter buah 4–5 cm, ujung buah terbuka, warna buah putih besar;rasanya manis sedikit sepet. Stabilitas: stabil Distribusi: Purwokerto Bobosan, Jatiwinangun pada posisi 7ᵒ 25’ 16.33” S 109ᵒ 14’ 27.56” E ketinggian 77 m dapl.  
  1. Syzygium samarangense ‘Tamansari Putih’ Widodo cv nov
Pohon kecil sampai sedang, tinggi 5–7 m, diameter batang 10–20 cm.  Daun bertangkai pendek, bangun daun menjorong, pajang  18-23 cm, lebar 6 – 9 cm.  Buah berpinggul atau tidak;umumnya kecil, panjang 3–4 cm, diameter ujung 3-4,5 cm;kenyal, ulet, di dalamnya berongga relatif besar, berwarna putih;rasa buah sepet sedikit manis. Stabilitas: belum diketahui Distribusi: Karanglewas Desa Tamansari, Guyangan, jalur ke Kaligua sekitar km 5. Catatan: Jambu Putih Tamansari agak mirip dengan Madura Putih, bedanya jambu putih Tamansari bagian terlebar daunnya berada di tengah helaian daun;buahnya lebih kecil, lebih ulet, di dalamnya berongga, mengandung banyak biji. (Red)