Oleh-oleh dari Hambalang Jilid 2

Oleh: Agnes Marcellina, Tokoh Katolik etnis Tionghoa Percakapan awal dalam pertemuan makan malam bersama bapak Prabowo Subianto di Hambalang 13 Januari 2018, adalah bincang-bincang kasus yang sedang hangat dibicarakan di media yaitu “nyanyian” LNM dan black campaign terhadap Prabowo Subianto dan partai Gerindra yang dituduh memalak orang tersebut. Tanpa emosi kesal ataupun sakit hati terhadap pernyataan dan perilaku LNM tersebut, beliau menceritakan kronologis mulai dari awal permintaan LNM untuk diusung oleh Gerindra maju sebagai calon gubernur Jawa Timur. Tentu saja pertanyaan yang sangat umum adalah : “Punya duit ga untuk maju dengan biaya pemenangan yang tentunya akan sangat besar sekali untuk wilayah sebesar Jawa Timur, dan kalau punya duit ya tunjukkan”. LNM mengatakan kalau ada uang 300 milyar tetapi tidak pernah ditunjukkan bahkan ditantang 170 milyar oleh konon katanya ketua DPD untuk menunjukkan pun tidak mampu. Sebagai ketua umum partai, Prabowo bertanya kepada LNM siapa yang akan mendukung perolehan suara karena disana basisnya NU dan para ulama. Dijawab oleh yang bersangkutan bahwa dirinya didukung oleh 7 kyai dari berbagai daerah di Jatim dan berjanji akan dipertemukan dengan ketua umum untuk mengkonfirmasi dukungan tersebut. tetapi hal itu tidak pernah juga dilaksanakan oleh LNM, setelah ditunggu sekian bulan. Kemudian LNM menyampaikan bahwa dia didukung oleh Pakde Karwo dan berjanji untuk membawanya ke ketua umum partai, juga tidak pernah dilaksanakan , yang terjadi kemudian malahan Pakde Karwo mendukung Khofifah. Berbagai janji yang disampaikan oleh LNM untuk maju menjadi kandidiat calon gubernur tidak terealisasi khususnya dukungan dari tokoh tokoh Jawa Timur. Terakhir dalam RAB biaya saksi yang dirancang oleh LNM sebesar 70 milyar bahkan direvisi oleh ketua umum, bahwa biaya saksi tidak perlu sebanyak itu, cukup dengan 40 milyar yang nantinya akan dikoordinasikan dengan petugas lapangan KALAU memang dia berhasil mendapatkan rekomendasi. Ketua Umum lantas memberi surat tugas kepada yang bersangkutan untuk mencari wakilnya dari partai koalisi karena tidak mungkin Gerindra mendukung LNM seorang diri dan diberilah surat tugas sampai dengan tanggal 20 Desember 2017. Ternyata dia tidak sanggup karena memang dia tidak mampu, karena memang dia tidak laku untuk ditawarkan kepada partai koalisi lain. Dari sini LNM mungkin merasa harga dirinya jatuh serendah-rendahnya sebagai orang yang tertolak tetapi reaksi orang tersebut malah menyalahkan orang lain atas ketidakmampuannya dan bukan melihat kepada dirinya sendiri dan beristigfar. Catatan ini penting buat saya sebagai kader Gerindra yang merasa terganggu dengan pernyataan-pernyataan LNM dan cerita yang sebenarnya perlu untuk diketahui publik karena sudah menjadi polemik. Saya tidak rela nama besar Gerindra tercoreng khususnya ketua umum partai karena nyanyian LNM yang tidak lengkap. Satu hal lagi yang menjadikan Prabowo Subianto luar biasa di mata saya adalah dia bilang : “ Apapun yang dikicaukan oleh LNM buat saya EUWEUH PANGARUHNA secara pribadi. Apa perlu saya membuat statement di media bahwa Prabowo Subianto memaafkan semua perkataan LNM?” Hanya orang orang yang berjiwa besar yang sanggup bersikap seperti beliau, saat difitnah, dihujat oleh orang lain, pada umumnya orang akan sangat marah dan ingin membalasnya tetapi Prabowo Subianto memang berbeda….. We love you Prabowo !Salam Indonesia Raya





























