AH Nasution, Jenderal 'Tukang Sembahyang'

Tanggal 5 Oktober setiap tahun diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia (TNI). TNI lahir dari cita-cita merdeka yang menggelora di hati sanubari rakyat Indonesia tahun 1945. Setelah Panglima Besar Jenderal Sudirman, Jenderal Besar TNI (Purn) Dr. H. Abdul Haris Nasution atau akrab disapa Pak Nas adalah salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki TNI dan bangsa Indonesia. Pak Nas termasuk salah seorang pendiri TNI dan besar jasanya dalam membina TNI sejak kelahirannya tahun 1945 sampai meletusnya pemberontakan G-30-S/PKI, serta mengantarkan bangsa Indonesia memasuki era Orde Baru yang waktu itu bertekad untuk melakukan koreksi total terhadap segala penyelewengan di zaman Orde Lama. Pak Nas pernah memangku jabatan tertinggi di dalam pimpinan TNI. Pribadi jujur dan sangat sederhana itu dikenang sebagai “Bapak TNI Angkatan Darat”, yakni pembangun jati diri Angkatan Darat. Prajurit, pejuang dan pemikir yang dilahirkan di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, tanggal 3 Desember 1918 itu menjabat Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia di masa Perang Kemerdekaan dan “sesepuh Kodam Siliwangi”. Pak Nas diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan berhenti sebagai KSAD tahun 1952, dan kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata RI, di samping menjadi Menteri Koordinator Hankam. Sejak 1954 Pak Nas memprakarsai gerakan kembali ke UUD 1945 yang terealisasi pada 5 Juli 1959. Jabatan terakhir adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPR-S) tahun 1966 – 1971. Selaku Ketua MPRS, Pak Nas melantik Jenderal Soeharto menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia dalam Sidang Istimewa MPRS tahun 1967. Dalam perkembangan politik berikutnya tahun 1968 Jenderal Soeharto dilantik menjadi Presiden kedua Republik Indonesia dan memegang kekuasaan selama 32 tahun. Dalam buku Jenderal Tanpa Pasukan Politisi Tanpa Partai: Perjalanan Hidup A.H. Nasution yang disusun Pusat Data dan Analisa Tempo (1998) diutarakan, bahwa satu ironi Orde Baru adalah meminggirkan tokoh-tokohnya sendiri. Nasution dan Soeharto adalah tokoh paling senior Orde Baru, tetapi keduanya berada di jalur yang berbeda. Yang satu terpinggirkan, yang lain berkuasa. Kepedulian dan pemikiran kritis Pak Nas terhadap perkembangan politik serta situasi bangsa dan negara di era Orde Baru, di mana beliau turut mendirikan, menyebabkan Pak Nas berseberangan dengan “penguasa Orde Baru”. Pak Nas mendapat perlakuan politik yang tidak sepantasnya dialami oleh seorang pejuang dan negarawan pembela Tanah Air. Puluhan tahun Pak Nas mengalami pencekalan politik dan pencekalan imigrasi serta tidak boleh muncul di acara resmi atau acara yang akan dihadiri Presiden Soeharto. Namun pada akhirnya dengan takdir Allah sekitar tahun 1993 iklim politik mengalami perubahan. Silaturahim dan persahabatan Pak Nas dengan Pak Harto terjalin kembali di usia senja kedua pemimpin bangsa itu setelah lebih dari 20 tahun Pak Nas dipinggirkan. ”Kami para orang tua sudah siap masuk kubur, karena itu lebih baik hidup bersama-sama,” ucap Pak Nas saat itu. Puncaknya pada 5 Oktober 1997 bertepatan dengan HUT ABRI Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden RI No 46/ABRI/1997 memberikan tanda jasa pangkat kehormatan Jenderal Besar TNI “bintang lima” kepada Jenderal TNI (Purn) Dr. A.H. Nasution, Jenderal Sudirman, dan Jenderal Soeharto sendiri. Ketika itu Panglima ABRI ialah Jenderal TNI Feisal Tanjung. “Kebenaran pasti datang kepada pejuang Ikhlas” demikian ditulis dalam buku 28 Tahun Mengabdi Bersama Jenderal Besar A.H. Nasution oleh Bakri A.G. Tianlean (Jakarta: Republika, 2010). Kepada generasi muda, Pak Nas berpesan agar lebih waspada terhadap “intervensi asing”. Jika dulu intervensi dalam bentuk fisik, tidak tertutup kemungkinan sekarang intervensi dapat dilakukan melalui agen-agen di dalam negeri. Di samping itu, dalam kuliah yang diberikannya di Seskoad tahun 1969, Pak Nas menyatakan bahwa kehidupan bernegara yang lebih baik amat ditentukan oleh adanya suatu tatanan sistem politik yang sehat. Pribadi Jujur dan Sederhana Pemimpin, penyelenggara negara dan generasi muda patut belajar dari kejujuran dan kesederhanaan hidup Jenderal Dr. A.H. Nasution. Ny. Johanna Sunarti Nasution (istri Pak Nas) sebagaimana diungkapkan dalam buku Bakri A.G. Tianlean mengatakan, suatu kali Pak Nas ada acara sehingga ia menggunakan kendaraan yang tidak biasanya. Kemudian, Pak Nas bertanya kepada sopir, Sersan Sutrisno, “Ini bukan mobil saya. Ini mobil siapa?” Sopir menjawab, “Ini mobil dari Pak Hasjim Ning untuk Bapak”. Hasjim Ning adalah seorang pengusaha pribumi-muslim terkemuka. Kata Pak Nas, “Saya tidak pantas dibantu. Masih banyak orang lain yang perlu dibantu. Bisa saja mobil ini dijadikan uang dan disumbangkan kepada anak yatim piatu. Saya minta mobil ini dikembalikan” ujar beliau. Dengan disertai permintaan maaf, mobil hadiah Hasjim Ning untuk Pak Nas dikembalikan. Salah satu pesan Pak Nas yang berkesan pada Bu Nas semasa hidupnya, “Bila sedang berada di atas, tengoklah ke bawah. Yang di bawah masih banyak orang yang mengharapkan uluran tanganmu. Jauhkan diri dari serakah karena perbuatan itu tidak disukai Allah SWT. Jalani hidup ini apa adanya sesuai apa yang kita miliki, yaitu harta yang halal di mata Allah dan mendapat ridha Allah.” Siapa Mengkhianati Suatu Saat Akan Dikhianati Jenderal TNI (Purn) Dr. A.H. Nasution merupakan figur pemimpin pejuang yang telah teruji moralitas dan integritasnya sampai akhir hayat. Dalam suatu acara ceramah dan dialog di kampus perguruan tinggi yang mengundang beliau, seorang mahasiswa “menyesalkan“ kenapa Pak Nas tidak berani mengambil tindakan mengambil alih kekuasaan di masa darurat tahun 1950-an pada zaman Orde Lama dan dalam situasi pasca pemberontakan G-30-S/PKI?. Sebagaimana diabadikan dalam catatan Sekretaris Pribadinya Bakri A.G. Tianlean, Pak Nas menjawab, “Saya diberi amanah untuk memulihkan keamanan negara. Bila kamu membiasakan diri untuk tidak memegang amanah, suatu saat kamu juga akan dikhianati.” ujarnya. Menyinggung situasi pasca G-30-S/PKI tahun 1965 Pak Nas menjelaskan, ia tidak punya niat sedikit pun untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Presiden Soekarno. Ia ketika itu masih mengakui Soekarno sebagai Presiden sah Republik Indonesia. Kepada Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta Howard P. Jones yang mengajukan pertanyaan tertulis untuk bukunya, Pak Nas menjelaskan jika ia ketika itu merebut kepemimpinan dari Presiden Soekarno, maka terbuktilah fitnah yang dituduhkan oleh PKI yaitu fitnah Dewan Jenderal. Pak Nas menjelaskan tak ada terlintas dalam pikirannya pada sekitar 1 Oktober 1965 itu untuk merebut kepemimpinan. Tidak juga Jenderal Soeharto atau jenderal lain. Pak Nas salah satu petandatangan pernyataan keprihatinan yang dikenal sebagai “Petisi 50”, yang isinya mendesak wakil-wakil rakyat di DPR dan MPR agar menanggapi isi pidato-pidato Presiden Soeharto di muka Rapim ABRI di Pekanbaru tanggal 27 Maret dan pidato HUT Kopasus di Cijantung Jakarta 16 April 1980. Petisi 50 ditanda-tangani oleh sejumlah tokoh pendiri Republik Indonesia, senior TNi dan tokoh masyarakat, di antaranya: Mohammad Natsir, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Prof. Mr. Kasman Singodimedjo, Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng, Burhanuddin Harahap, Letjen TNI (Purn) Ali Sadikin, S.K. Trimurti, Ir. H.M. Sanusi, Dr. H. Anwar Harjono, SH, Dr. H. Ali Akbar, A.M. Fatwa, dan lain-lain. Dalam berbagai episode perjuangan mengikuti perjalanan bangsa dan negara sejak masa mempertahankan kemerdekaan dan menjaga integrasi nasional sampai masa menyelamatkan negara dari ancaman bahaya Komunis (PKI) tahun 1965/1966 Pak Nas memegang teguh prinsip-prinsip perjuangan. Komitmen untuk memenuhi panggilan tugas pengabdian kepada nusa, bangsa dan agama tergambar dari judul salah satu serial memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 9yaitu, “Bagi Pejuang Tiada Tugas Akhir dan Tiada Akhir Tugas”. Pengawal Nurani Bangsa Saat Orde Baru mulai bergeser dari garis perjuangan melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen, Pak Nas sebagai tokoh perumus konsepsi perjuangan Orde Baru tidak tinggal diam. Dalam upaya untuk konsekuen dengan UUD 1945 dan menegakkan prinsip kedaulatan rakyat, sebagaimana dikemukakan pada buku Wawancara Jenderal A.H.Nasution Soal-Soal Historis Penting (1991) sebagai “warga negara” Pak Nas bersama Bung Hatta, Sanusi Hardjadinata, Nuddin Lubis, I.J. Kasimo, Mr. A. Subardjo, beberapa purnawirawan Pati TNI dan sejumlah tokoh angkatan 66 sekitar tahun 1970-an membentuk Lembaga Kesadaran Berkonstitusi. Tetapi, langkah pertama yaitu diskusi pelaksanaan UUD 1945 dimana Bung Hatta akan memberikan makalah dan acara sejenis di lain kota tidak mendapat izin dari pihak berwenang. Mengenai risiko perjuangan menegakkan kebenaran dan membela kepentingan rakyat, pernah diutarakannya, “Tentang risiko dan rasa takut adalah manusiawi, tidak ada yang terkecuali. Tetapi agama menyuruh kita memperjuangkan apa-apa yang kita yakini benar, dan melawan apa-apa yang kita yakini salah atau tidak baik. Apalagi sebagai seorang prajurit TNI yang oleh Saptamarga diperintahkan untuk bertakwa kepada Tuhan, membela kejujuran, kebenaran dan keadilan.” Pak Nas berpesan kepada generasi muda agar lebih menghayati isi Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dan mendalami tujuan bernegara. Menurut Pak Nas dalam buku Mengawal Nurani Bangsa, Jilid III: Bersama Mahasiswa(2008) bukan kebetulan bahwa Pembukaan UUD 45 menyatakan Indonesia yang “adil dan makmur”, dan bukan yang makmur dan adil. Adil disebut lebih dulu daripada makmur. Keadilan memang tidak seharusnya menunggu sampai terwujudnya kemakmuran. Justru lebih-lebih lagi dalam kemelaratan, dalam serba kekurangan, adalah lebih terasa makna keadilan. Makmur belum tentu adil, tetapi adil pasti memberikan rasa makmur dalam batin. Pak Nas sering mengutip Hadis Nabi mengenai adil ialah, “memberi seseorang apa yang menjadi haknya dan mencabut dari seseorang apa-apa yang bukan haknya.” (Hadis dari Abu Hurairah). Sebagai pemrakarsa Dwifungsi ABRI, Pak Nas dalam buku Mengawal Nurani Bangsa Jilid I: Kenangan Masa Purnawirawan (2008) menjelaskan bahwa “Dwifungsi ABRI” yang dahulu digagasnya bertujuan agar ABRI (kini TNI) menjadi stabilisator dan dinamisator dalam kondisi gawat akibat tidak tegaknya kehidupan bernegara yang menghayati/mengamalkan konstitusi. Adapun identitas TNI seperti yang diwariskan oleh Jenderal Sudirman, menurut Pak Nas adalah sebagai “tentara rakyat dan tentara pejuang”. Ciri dan wataknya dimantapkan dalam Sapta Marga. Pak Nas belakangan mengkritisi dan mengingatkan penyimpangan Dwifungsi ABRI oleh penguasa Orde Baru. Penguasa melalui ABRI di masa itu melakukan pelarangan dan pengekangan terhadap berbagai aspek pelaksanaan kedaulatan rakyat dan hak-hak warga negara sehingga “konsep asli dwifungsi menjadi kabur”. Dwifungsi ABRI melenceng dari konsep dan tujuan awalnya. Dalam kuliah terakhir yang disampaikan di Seskoad tahun 1969 Pak Nas mengingatkan agar di tahun 1970-an ”kekaryaan ABRI” dimurnikan dan dilepaskan dari unsur darurat dan transisi akibat G-30-S/PKI demi pelaksaanan UUD 45 secara konsekuen. Sebagai pejuang sejati dan Muslim yang bertakwa Pak Nas menempatkan keadilan dan kebenaran di atas segala-galanya meski menghadapi risiko. Sebagaimana ditulis oleh Drs. Bakri A.G. Tianlean dalam buku A.H. Nasution di Masa Orde Baru(1997) di kalangan teman-temannya sering dikatakan kalau dulu Pak Nas lolos dari pembunuhan fisik (peristiwa G-30-S/PKI), tetapi sebaliknya di masa Orde Baru Pak Nas pernah mengalami “pembunuhan secara politik”. Jenderal “Tukang Sembahyang” Pak Nas dikenal sebagai muslim yang patuh menjalankan ajaran agama dan menjauhi larangan Tuhan. Beliau selalu shalat istikharah sebelum mengambil suatu keputusan. Dalam salah satu wawancara yang dimuat dalam buku Islam Di Mata Para Jenderal (Bandung: Mizan, 1997) beliau mengemukakan, “Sebagai seorang Muslim kita diperintahkan untuk melaksanakan ajaran Islam di mana pun kita berada. Kita harus merasa yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki dunia maupun akhirat. Dalam menghadapi masalah, misalnya, kalau agama kita kuat maka semuanya bisa dibereskan.” Sewaktu menjadi pimpinan tertinggi TNI Angkatan Darat beliau disebut sebagai jenderal “tukang sembahyang”. Di masa Pak Nas menjabat KSAD disusun buku “Pedoman Agama Islam Untuk TNI”. Dalam surat keputusan KSAD dinyatakan, “Mewajibkan kepada setiap anggota AD yang beragama Islam memahami isi buku tersebut di atas dan mengamalkannya.” Dalam setiap kesatuan TNI pada waktu itu diangkat “imam tentara”. Pak Nas yang membangun mushola di MBAD (Markas Besar Angkatan Darat) tahun 1950-an dan kemudian di Hankam pasca G-30-S/PKI. Sebuah anekdot di kalangan TNI masa itu,“Kalau mau naik pangkat, rajinlah bersembahyang, dan diketahui oleh Jenderal Nasution”. Saat kunjungan ke mana pun, termasuk kunjungan di luar negeri, “standing order” terkait dengan jadwal shalat wajib diperhatikan oleh protokol. Sewaktu Pak Nas melakukan kunjungan ke Australia menjadi tamu Angkatan Perang, kolonel yang diperbantukan mendampingi beliau selalu melapor bila waktu shalat tiba. Ketika berada di Camberra, yaitu sedang mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Australia, tiba-tiba seorang Kolonel Australia datang melapor dengan hormatnya, mempersilahkan Pak Nas untuk menunaikan shalat, sebab waktunya telah tiba, meski beliau menjamak shalat zuhur dengan ashar dalam satu waktu karena sedang musafir. Dalam kunjungan ke negara Komunis pun, protokol militer negara setempat harus menyesuaikan jadwal shalat dalam seluruh agenda kegiatan kunjungan Jenderal A.H. Nasution. Pada ceramah Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad tahun 1965 di AAU sebagaimana dimuat di Majalah PEHAI (Perdjalanan Hadji Indonesia) No 1 Tahun 1965, Pak Nas menceritakan pengalaman menarik saat kunjungan ke Moskow untuk membeli senjata bertepatan dengan hari Jum’at. “Ketika perundingan dengan pihak Uni Soviet belum selesai, saya lihat arloji menunjukkan telah tiba saatnya untuk bersembahyang Jum’at. Kepada sidang saya segera minta diri untuk bersembahyang. Seorang perwira Soviet mengantarkan saya pergi. Waktu dilihatnya saya membuka sepatu, ia pun membuka sepatunya. Ia terus mengikuti saya. Saya bersembahyang ia pun turut bersembahyang. Saya berdiri ia berdiri, saya rukuk ia rukuk. Saya sujud ia pun sujud demikian seterusnya. Sesudah salam saya tanya dia, apa yang dibacanya waktu mengikuti saya sembahyang? Ia menggelengkan kepala, tak suatu pun yang dibacanya. Habis ia bukan seorang Muslim. Jadi kenyataan ini menunjukkan bahwa dengan shalat kita dihormati dimana-mana. Hendaklah saudara-saudara senantiasa taat menunaikan kewajiban lima waktu sehari semalam. Jangan sekali-kali saudara-saudara merasa malu karena menunaikan sembahyang. Apalagi karena sembahyang sama halnya dengan corp rapport yang biasa saudara-saudara lakukan terhadap komandan saudara. Bedanya shalat itu corp rapport kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.” Demikian pesan Jenderal A.H. Nasution kepada anak buahnya. Pak Nas mengingatkan dalam berbagai kesempatan ceramah dan khotbah bahwa seorang Muslim ketika berorganisasi dan bermasyarakat harus menunjukkan kepribadian sebagai seorang Muslim. Kepada seorang perwira tinggi TNI yang dia kenal baik dan baru naik pangkat menjadi bintang empat (jenderal penuh) Pak Nas selaku sesepuh TNI mengirim surat nasihat, “Semakin tinggi posisi, tiupan angin semakin kencang. Nasihat saya, ketika menghadapi persoalan yang sangat penting, diperlukan keputusan yang tepat. Untuk itu, agar tidak ragu-ragu dalam menetapkan keputusan, jangan lupa minta petunjuk Allah dengan shalat istikharah lebih dahulu. Setelah itu, putuskan sesuatu sesuai dengan kata nurani. Dengan cara ini, kita tidak akan terombang-ambing mengikuti perkembangan situasi.” Sesuai akhlak Islam Pak Nas tidak memiliki rasa dendam sedikit pun kepada individu dan institusi yang memperlakukannya secara tidak adil. Setiap Lebaran Idul Fitri Pak Nas selalu mengirim surat Selamat Hari Raya Idul Fitri dan permohonan maaf lahir batin kepada Presiden Soeharto dan keluarga, meski surat balasan yang dikirimkan tidak pernah ditandatangani oleh Pak Harto, kecuali satu kali di tahun 1996, surat balasan selamat lebaran dari Pak Nas ditandatangani oleh Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto. Sikap hidup Pak Nas yang konsisten dan lurus tulus, sesuai dengan pidato yang diucapkannya di halaman Mabes AD sewaktu melepas jenazah tujuh pahlawan revolusi yang gugur dalam tragedi G-30-S/PKI tahun 1965, “Kita semua difitnah, dan saudara-saudara telah di bunuh, kita diperlakukan demikian, tapi jangan kita dendam hati, iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, iman kepada-Nya meneguhkan kita. Dengan keimanan ini juga kami yakin bahwa yang benar akan tetap menang, dan yang tidak benar akan tetap hancur”. Pak Nas merupakan target nomor yang menjadi sasaran penculikan dan pembunuhan G-30-S/PKI tanggal 1 Oktober 1965, namun lolos dari maut dengan pertolongan Allah SWT. Sebagai sesepuh TNI yang ditakdirkan berusia lanjut, Pak Nas mengingatkan kepada generasi penerus agar memegang teguh Saptamarga, di antaranya, “Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, membela kebenaran, kejujuran dan keadilan”, sesuai dengan wasiat Panglima Besar Sudirman. “Seorang kepala kantor kecil sampai kepada kepala negara, tak ada yang luput dari tuntutan Allah kelak, atas kepemimpinannya. Boleh saja seorang di dunia ini mengelakkan pertanggungjawabannya, dengan macam-macam muslihat. Tapi, di Hari Kemudian takkan terelakkannya di depan Allah,” kata pak Nas dalam kumpulan tulisannya yang dibukukan dengan judul Pembangunan Moral Inti Pembangunan Nasional (1995). Reformasi Harus Dilandasi Akhlak-Moral Jenderal Dr. A.H. Nasution berpendapat bahwa pembangunan negara seharusnya bertitik sentral pada pembangunan manusianya, pembangunan mental dan moralnya. Pembangunan ekonomi yang tidak sejalan dengan pembangunan mental manusia selamanya akan mengakibatkan kepincangan-kepincangan dan malah lebih ekstrem lagi akan menghancurkan negara itu di masa mendatang. Gerakan reformasi tahun 1998 tidak luput dari perhatian Pak Nas sebagai orangtua yang mendambakan hari depan yang baik bagi bangsa, negara dan generasi penerus. Dalam wawancara yang disiarkan pada salah satu stasiun televisi swasta bulan Mei 1998 Pak Nas berpesan kepada para mahasiswa yang selalu disebutnya sebagai “agen perubahan” agar terus berjuang sampai apa yang dicita-citakan tercapai. Di tengah euphoria reformasi, Pak Nas mengutarakan pikiran-pikiran jernihnya kepada publik. Beliau antara lain mengemukakan mengenai pentingnya akhlak sebagai landasan reformasi. Reformasi tanpa dilandasi akhlak/moral pasti kesasar dan melenceng dari tujuan. Dalam beberapa tulisannya Pak Nas mengungkapkan, “bagi orang beriman ridha Allah-lah mahkota segala amalan”. Pengamalan dari kata-kata tersebut terdapat dalam perikehidupan beliau sepanjang hayatnya. Ketulusan hati dan budi pekerti yang tidak pernah menyimpan rasa benci, dendam atau sombong kepada siapa pun memancar di wajah dan sorot matanya yang bersih dan teduh. Sebagai seorang yang taat beragama Pak Nas banyak berbuat untuk kepentingan umat Islam. Dalam situasi negara tidak kondusif antara tahun 1963 – 1965, sebagai tokoh pimpinan di tubuh militer beliau menjalin komunikasi yang baik dengan para pemimpin dan tokoh Islam. Pak Nas kerap kali diundang menyampaikan ceramah atau khutbah pada hari-hari besar Islam, meski seringkali digagalkan oleh aparat keamanan. Hubungannya dengan tokoh-tokoh Islam sangat dekat. Bahkan Pak Nas sendiri pantas disebut sebagi tokoh Islam. Masjid Cut Meutia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat merupakan salah satu bekas amal Pak Nas kepada umat Islam yang akan tetap dikenang sepanjang masa. Pak Nas mewariskan nilai-nilai hakiki bagi kelangsungan tegaknya kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai perwujudan cita-cita kemerdekaan. Sesuai kata-kata beliau, “Bagi pejuang tiada akhir tugas. Muda atau tua adalah soal semangat. Hal itu tergantung dari ada atau tidaknya idealisme”. Sekitar awal 1970-an Pak Nas sering diundang berceramah di kampus-kampus universitas, namun belakangan sering terbentur oleh larangan Kopkamtib. Saya bersyukur dapat berkenalan dengan Pak Nas dan diberi sejumlah buku/naskah tulisan beliau. Perhatian dan pengertiannya terhadap “anak-anak bangsa” sangat mengesankan. Sangat mulia “wasiat” yang disampaikannya kepada keluarganya dalam hari-hari akhir usianya dan wasiat itu penting buat kita semua, yaitu “Jangan tinggalkan shalat. Berbuatlah adil. Hiduplah sederhana. Selalu berhati jujur, dan selalu mengingat kepentingan orang lain”. Pak Nas dikenal sebagai intelektual dan pemikir ulung yang menulis sejumlah buku referensi dan bacaan umum. Di antara buku karya beliau yang terkenal ialah: Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid), Pokok-pokok Perang Gerilya (diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris, Arab dan Jerman), Tentara Nasional Indonesia(3 jilid), Menuju Tentara Rakyat, Mengamankan Panji-Panji Revolusi, Kekaryaan ABRI, Menegakkan Keadilan dan Kebenaran, Memenuhi Panggilan Tugas (memoar, 9 jilid), Kenangan dan Renungan 5 Oktober, Mengawal Nurani Bangsa (3 jilid) dan lain-lain, termasuk buku-buku ceramah dan khutbah. Buku Pokok-pokok Gerilya menjadi buku text yang dipelajari di akademi militer Amerika Serikat, Belanda dan Australia. Di bidang akademik Pak Nas memperoleh gelar Doctor Honoris Causadalam Ilmu Ketatanegaraan, Ilmu Negara, dan Ilmu Politik dari beberapa universitas dalam dan luar negeri. Jenderal Besar TNI (Purn) Dr. A.H. Nasution wafat Rabu, 6 September 2000, pukul 07.35 WIB di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Subroto Jakarta dalam usia 82 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata Jakarta. Pemerintah menganugerahi Pak Nas gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasa dan keteladanan yang secara terus menerus telah diberikannya kepada Tanah Air, negara dan bangsa. ***** (M. Fuad Nasar, Konsultan The Fatwa Center Jakarta)





























