Capai Usia Perak, IPC Makin Matang Hadapi Tantangan 2018

Capai Usia Perak, IPC Makin Matang Hadapi Tantangan 2018
Jakarta, 29 Desember 2017 - Menuju tahun establishment di 2018, IPC secara komprehensif telah meneruskan transformasi dalam rangka mewujudkan kinerja unggul berkesinambungan dengan menjalankan corporate roadmap yang berfokus untuk menegakkan pencapaian perusahaan di atas fondasi yang telah dibangun pada tahun 2017 melalui empat bidang penting yang menjadi fokus IPC yaitu "Operational & Service Improvement", "Expansion of Subsidiaries", "Infrastructure Development" dan "Optimize IT Utilization". "Memasuki usia perak, IPC dalam perjalanannya telah teruji berhasil melewati berbagai tantangan dan krisis dengan terus memperbaiki diri melalui upaya-upaya peningkatan kualitas baik di sisi hard maupun soft infrastruktur, peningkatan tata kelola dan manajemen perusahaan, penerapan proses bisnis dan manajemen resiko yang baik serta inovasi produk dan jasa kepelabuhanan. Menyambut fase establishment, IPC akan memperkuat pelayanan dan operasional exellent guna mencapai cita-cita sebagai World Class Port Operator," ujar Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya Kilas Balik Capaian Korporasi IPC terus meningkatkan fungsi-fungsi seperti budget control, financial report dashboard, dan optimalisasi revenue enhancement dan cost effectiveness sampai dengan November 2017 menunjukkan realisasi pendapatan operasi sebesar Rp 9,5 triliun, EBITDA Rp 3,781 triliun, laba bersih tahun berjalan Rp 1,7 triliun dan BOPO 67% yang lebih baik daripada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara korporasi, realisasi trafik arus peti kemas sebanyak 6,2 juta TEUs atau lebih rendah dari target 6,3 juta TEUs, untuk arus barang terealisasi 45,99 juta ton atau lebih rendah dari target sebanyak 49,576 juta ton, sedangkan untuk kunjungan kapal pencapaiannya 33.151 unit atau melampaui target RKAP sebanyak 30.616 unit. Dalam kaitannya mewujudkan kinerja unggul berkesinambungan, sejumlah pencapaian korporasi juga telah dicatatkan diantaranya pencapaian skor GCG tahun 2016 sebesar 93.32 dengan kategori "sangat baik" meningkat 10 poin dari tahun sebelumnya yakni 83,21. Pencapaian skor KPI 2017 adalah 101,1% dengan hasil assesment KPKU memperoleh nilai 553,5 (klasifikasi good performance dengan rentang 476-575) dimana skor tersebut juga melebihi target KPKU 2017 yaitu 540. Dalam kaitannya untuk melakukan perbaikan pelayanan dan operasional IPC telah melakukan upaya-upaya guna menekan Dwelling Time dibawah 3 hari diantaranya melalui pembuatan Integrated Container Freight Station (CFS) di Pelabuhan Tanjung Priok, modernisasi infrastruktur dan suprastruktur pelabuhan serta optimalisasi penggunaan teknologi informasi yang dilaksanakan dalam bentuk implementasi VTS (Vessel Traffic System), MOS (Marine Operating System), Inaportenet, NPK dan PK TOS, Auto Tally dan Auto Gate serta E-Service. Pada Pertengahan Triwulan III, iPC juga telah mencatatkan sejarah baru di Pelabuhan Tanjung Priok. Untuk pertama kalinya setelah 160 tahun, Pelabuhan Tanjung Priok melayani kapal kontainer dengan kapasitas 10.000 TEUs yang merupakan kapal terbesar yang pernah masuk ke Indonesia. Kapal Besar dengan layanan Java-America Express (JAX) Service ini melayari rute Pelabuhan Tanjung Priok ke West Coast (LA & Oakland) Amerika Serikat (direct call). Selain ke USA, di tahun 2017 iPC telah melayani kapal dengan layanan direct call ke Eropa dengan nama SEANE atau South East Asian - North Europe, China, Vietnam dan Korea. Kedatangan kapal ini juga membuktikan bahwa upaya IPC untuk melakukan penyempurnaan jasa pelayanan kepelabuhanan baik dari sistem, fasilitas maupun infrastruktur, telah mampu menjadikan iPC berkompetensi dengan pelabuhan besar lainnya. IPC berharap kehadiran kapal besar ini dapat menjadi pemicu hadirnya kapal-kapal besar dan melakukan konsolidasi muatan di Tanjung Priok sehingga dapat memenuhi harapan Pemerintah yaitu menjadikan Tanjung Priok sebagai pelabuhan transhipment yang diperhitungkan di kawasan Asia. "Keinginan Pemerintah untuk Pelabuhan Tanjung Prio sebagai transshipment port bukan sekedar angan- angan. Kami telah menyiapkan roadmap yang membuat IPC menuju world class port, dengan memperbaiki pelayanan dan jasa di pelabuhan, baik dari system, operasional, fasilitas, maupun infrastruktur. Dalam hal ini, dukungan dari pemerintah sangat dibutuhkan, termasuk dukungan dari perusahaan pelayaran, pemilik kargo, dan pelabuhan di Indonesia lainnya. Sehingga IPC terus melakukan pendekatan, langkah demi langkah untuk melibatkan semua pemangku kepentingan," ujar Elvyn. Pada awal Desember 2017 IPC kembali mencatatkan sejarah dengan lahirnya anak perusahaan ke-17 yaitu PT. Pelabuhan Indonesia Investama (PII) sebagai satu-satunya anak perusahaan BUMN yang bergerak di bidang investasi yang memfokuskan diri pada industri kepelabuhanan. Akhir Desember 2017 ditutup dengan sejarah yang membanggakan, yakni PT Jasa Armada Indonesia, Tbk (JAI) telah resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tercatat dengan kode saham "IPCM". Harga IPO saham JAI ditetapkan sebesar Rp380 per lembar saham dan telah naik sebesar 5% di hari pertama pencatatan serta mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) saat proses penawaran awal (bookbuilding) sebanyak dua kali. Sebagai penutup, saat ini IPC tengah mengembangkan gagasan "Pelabuhan Indonesia Incorporated" dimana sebagai tahap awal akan dijajaki pelaksanaan cross programme yaitu menggabungkan beberapa anak perusahaan sejenis yang dimiliki PT Pelindo I - IV sehingga dapat memberi dampak pasar yang lebih luas, serta mempunyai kesamaan standarisasi operasional maupun sistem sehingga dapat memberikan pelayanan jasa yang maksimal kepada para pengguna jasa pelabuhan. (Isti)