Anak-anak Rohingya Terserang Gizi Buruk

Anak-anak Rohingya Terserang Gizi Buruk
Thengkali, Obsessionnews.com - Gizi buruk mengancam pengungsi Rohingya, terutama anak-anak di bawah umur. Kondisi kamp pengungsi yang sudah jarang mendapatkan bantuan pangan mudah memicu ancaman yang serius karena banyaknya angka anak-anak yang mengungsi dari Rakhine ke Cox's Bazar, Bangladesh. [caption id="attachment_225117" align="alignnone" width="640"]Rohingya Puluhan anak pengungsi Rohingya  di di kamp pengungsi Cox's Bazar, Bangladesh, mulai menderita kekurangan gizi yang parah dan memerlukan perawatan segera, guna menyalamatkan jiwa mereka, Selasa (27/12/2017).[/caption] Saat Obsesionnews.com bersama beberapa media asal tanah air dan perwakilan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Indonesia mendatangi kamp pengungsian di Kutupalong dan Thengkali, melihat puluhan anak mulai menderita kekurangan gizi yang parah dan memerlukan perawatan segera, guna menyalamatkan jiwa mereka. ACT pun menyalurkan bantuan paket sembako melalui program Humanity Card kepada para pengungsi. GM Communication ACT Lukman Azis mengatakan Program ini guna membantu pengungsi Rohingya akan kebutuhan pangan, serta asupan gizi bagi anak-anaknya. “Kami sudah melihat itu sejak awal terjadi, makanya kita berupaya tingkatkan gizi para pengungsi itu dengan cara memberikan asupan makanan yang memenuhi standar gizi,” kata Lukman, di Cox’s Bazar, Bangladesh, Selasa (26/12/2017). Jumlah Pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh hingga desember ini telah mencapai 900 Ribu Orang, termasuk mereka yang melarikan diri sebelum penumpasan terbaru. Mereka tinggal di kamp pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan. Mereka sekarang membutuhkan air bersih, makanan, sanitasi, tempat berteduh dan vaksin untuk mencegah kemungkinan munculnya wabah penyakit menular. Aminullah, salah seorang pengungsi, mengeluhkan kurangnya bantuan pangan bagi mereka. Padahal Bantuan ini sangat dibutuhkan guna meringankan beban hidup mereka yang serba kesusahan. “Kami butuh bantuan untuk keperluan kami, sekarang kami tidak memiliki apa-apa lagi. Kami disini tidak punya pekerjaan,” ujar Aminullah. Pascakonflik kekerasan di Rakhine pada Agustus, Bangladesh menjadi tujuan utama warga Rohingya untuk melarikan diri dari aksi kekerasan di sana yang kerap dikatakan telah didalangi pasukan militer Myanmar. Orang Rohingya selama ini hidup tanpa dukungan dari negara, yang membuat Myanmar secara institusional telah melakukan diskriminasi yang setara dengan apartheid. Meski demikian Myanmar sudah sepakat untuk memulangkan pengungsi Rohingya melalui kebijakan repatriasi. Diwakili oleh pemimpin politiknya, Aung San Suu Kyi, Myanmar menandatangani nota kesepahaman repatriasi dengan Bangladesh, yang diwakili Menteri Luar Negeri Abul Hassan Mahmood Ali beberapa waktu lalu. Pemulangan para pengungsi dimulai desember hingga awal tahun 2018. (Has)