Inilah Cara Membuat Rumah Sederhana Tahan Gempa

Gempa 6,9 SR yang berpusat di Tasikmalaya, Jabar, terjadi pada Jumat (15/12) malam sekitar pukul 23.47 WIB, dan getarannya dirasakan sampai ke wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta, demikian menurut sejumlah laporan. Gempa ini sempat menimbulkan kepanikan masyarakat, terutama di wilayah pesisir selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan laporan, terdapat bangunan sekolah dan rumah sakit yang mengalami kerusakan serta ribuan rumah rusak berat dan roboh. Sehubungan hal tersebut masyarakat perlu mengetahui tentang pembuatan bangunan rumah yang mengikuti kaidah bangunan tahan gempa bumi. Berikut ini cara membuat rumah sederhana tahan gempa yang dipaparkan oleh Nanang Gunawan W. ST MT, Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto: 1. Perencanaan Denah Bangunan Denah bangunan dibuat sederhana dan simetris, tidak terlalu banyak tonjolan-tonjolan (maksimum 25% dari sisi terpanjang arah tonjolan). Contoh denah yang simeteris adalah persegi panjang dan lingkaran. Sedapat mungkin luasan bukan untuk pintu dan jendela juga dibuat simetris, tidak terpusat pada salah satu sisi saja. 2. Perencanaan Pondasi dan Sloof Pondasi harus tertumpu pada tanah yang cukup keras. Untuk pondasi batu kali minimum kedalaman adalah 50 cm dan dibuat secara menerus dan saling menutup. Bentuk pondasi batu kali adalah trapezium dengan lebar bawah minimum 50 cm dan lebar atas antara 20 s.d. 30 cm. Sloof dipasang tepat diatas pondasi batu kali. Dimensi sloof 15 x 20 cm (lebar x tinggi), harus terkoneksi dengan pondasi. Sistem koneksi menggunakan angkur besi tulangan Ø10 sebanyak 4 buah dan panjang 60 cm yang dibengkokan sepanjang 12 cm kedua ujungnya berbentuk seperti huruf Z. Angkur dipasang tiap 1,5 sampai dengan 2 m. Pembesian sloof mengunakan diameter tulangan minimum Ø8 sebanyak 4 buah dengan besi begel Ø6 dengan ukuran 8 x 12 cm2 dengan jarak maksimum 15 cm. 3. Perencanaan Kolom Praktis Kolom praktis berfungsi sebagai pengikat dinding agar kuat terhadap beban lateral. Kolom praktis dipasang maksimum tiap 3 m, tiap sudut juga wajib dipasang kolom praktis. Pertemuan antara kusen dengan dinding juga sebaiknya dipasang kolom praktis. Pembesian kolom praktis menggunakan besi tulangan minimum Ø8 dengan besi begel Ø6 dengan ukuran 8 x 10 cm2 dengan jarak maksimum 15 cm. 4. Perencanaan Balok Ring Balok ring dipasang pada ujung pemasangan dinding. Seperti pada sloof, balok ring dipasang secara menerus dan saling menutup. Dimensi dan pembesian balok ring sama seperti sloof. Pada setiap sudut pertemuan dinding sebaiknya balok ring dibuat kaku dengan cara menambah balok ring arah diagonal pada sudut tersebut. 5. Perencanaan Dinding Dinding dapat menggunakan bata merah atau bata ringan. Prinsip dari pemasangan dinding adalah sistemnya sigsag dan selalu terkekang sisi luarnya oleh sloof, kolom praktis, dan balok ring. Luasan dinding maksimum yang terkekang adalah 9 m2. Maka jika tinggi dinding adalah 3 m, maka jarak maksimum kolom praktis adalah 3 m. Pengangkuran dinding dilakukan tiap 1 m menggunakan besi Ø8 panjang 50 cm ditekuk kedua ujungnya yang dihubungkan ke kolom praktis dan balok ring. 6. Perencanaan Rangka Atap Rangka atap yang digunakan biasanya menggunakan baja ringan atau kayu. Jika menggunakan baja ringan jarak antar kuda-kuda maksimal 1,2 m. Jika menggunakan kuda-kuda kayu jarak maksimum bisa sampai 3 m, tergantung beban penutup atap menggunakan genteng atau metal. Semakin berat maka jarak kuda- kuda akan semakin kecil juga. Pada kuda-kuda kayu alat sambung antar elemen biasanya menggunakan paku. Ukuran paku yang digunakan adalah 2 kali tebal minimum kayu yang akan disambungkan. Prinsip penggunaan material penutup atap adalah seringan mungkin seperti genteng metal, sehingga akan mengurangi beban yang bekerja pada elemen struktur lainnya. 7. Sambungan Tulangan Antar Elemen Prinsip penyambungan tulangan antar elemen adalah sambungan yang kaku. Untuk membuat sambungan yang kaku maka setiap ujung tulangan yang akan berfungsi sebagai sambungan antar elemen ditekuk 90o sepanjang 12 x diameter tulangan atau jika ditekuk 180o sepanjang 4x diameter atau 60 mm. 8. Penggunaan material Pasir yang digunakan harus pasir yang bersih dengan kadar lumpur maksimum 5%. Cara sederhana menghitung kadar lumpur adalah dengan cara menggambil sampel pasir lalu diopen sampai kering ditimbang, selanjutnya pasir dicuci dan diopen kembali lalu ditimbang. Kadar lumpur adalah selisih berat awal dan berat setelah dicuci dibagi dengan berat awal dikali 100%. Jika kadar lumpur lumpur masih diatas 5%, maka pasir perlu dicuci terlebih dahulu atau diganti dengan pasir yang lebih bersih. Syarat air yang digunakan adalah air bersih dari unsur kimia terutama sulfat dan clorin. Air yang digunakan adalah air sumur, bukan air hujan atau air asin (laut). Campuran adukan yang digunakan adalah campuran 1 PC : 5 Pasir. Dengan jumlah air secukupnya tidak terlalu banyak. Adukan ini digunakan untuk pemasangan pondasi batu kali, batu bata, dan plesteran. Untuk campuran beton menggunakan campuran 1 PC : 2 Pasir : 3 Batu pecah (split). Jumlah air yg digunakan antara 0,5 s.d. 0,6 dari berat semen yang digunakan. (*) 






























